JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan pada perdagangan sesi pertama, Senin (12/10/2026). Pelemahan tersebut dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik, mulai dari arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat hingga tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan aksi jual investor asing.
Pengamat pasar modal Elandry Pratama menilai pelaku pasar masih menghadapi ketidakpastian yang membuat investor cenderung berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
“IHSG melemah hari ini perlu dilihat dari kombinasi sentimen eksternal dan domestik,” ujar Elandry saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin.
Pada penutupan perdagangan sesi pertama, IHSG berada di level 5.975,78 atau melemah 117,98 poin setara 1,94 persen. Sementara itu, indeks LQ45 yang mencerminkan pergerakan 45 saham unggulan turun 9,74 poin atau 1,62 persen ke posisi 591,93.
Baca Juga: IHSG Anjlok 1,93 Persen, Ini 5 Saham Incaran dan Buangan Investor Asing
Dari sisi eksternal, Elandry menyebut pelaku pasar masih mencermati arah suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed), pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury yield), serta risiko geopolitik yang berpotensi meningkatkan volatilitas pasar keuangan.
Sementara dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah dan potensi berlanjutnya aksi jual bersih investor asing atau net foreign sell turut membatasi ruang penguatan IHSG.
Kombinasi faktor tersebut mendorong investor meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi minat terhadap aset berisiko. Kondisi ini membuat arah pergerakan indeks dalam jangka pendek masih dibayangi ketidakpastian.
IHSG Berpotensi Terkoreksi, Investor Diminta Mencermati Support
Elandry memperkirakan IHSG masih berpotensi mengalami koreksi lanjutan dalam waktu dekat, terutama jika tekanan jual investor asing belum mereda dan indeks belum mampu membentuk area dukungan harga atau support yang kuat.
Meski demikian, pelemahan pada perdagangan Senin belum tentu menjadi pertanda bahwa pasar saham akan memasuki tren penurunan berkepanjangan atau bearish.
Menurutnya, investor perlu memantau perkembangan nilai tukar rupiah, pergerakan aliran dana asing, serta kemampuan IHSG untuk kembali stabil setelah tekanan jual mereda.
Pemantauan terhadap sejumlah indikator tersebut dinilai penting untuk membantu investor membaca arah pasar dan menentukan strategi investasi di tengah volatilitas.
Saham Sektor Keuangan dan Terkait Minyak Layak Dicermati
Di tengah kondisi pasar yang berfluktuasi, Elandry menyarankan investor mencermati saham-saham sektor keuangan serta emiten yang berkaitan dengan pergerakan harga minyak mentah dunia.
Namun, ia mengingatkan bahwa keputusan investasi tidak cukup hanya didasarkan pada sektor yang berpotensi menarik perhatian pasar. Investor tetap perlu mempertimbangkan valuasi, kondisi fundamental perusahaan, dan level support masing-masing saham.
Baca Juga: IHSG Merosot Hampir 2 Persen, BUMI dan BBCA Masuk Daftar Saham yang Dilepas Asing
Elandry juga menyarankan pendekatan yang lebih hati-hati melalui akumulasi saham secara bertahap. Investor sebaiknya tidak terburu-buru melakukan bottom fishing, yakni membeli saham yang harganya turun dengan harapan telah mencapai titik terendah, sebelum muncul konfirmasi pembalikan arah.
Strategi tersebut menjadi penting ketika volatilitas pasar masih tinggi dan tekanan jual belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Pada perdagangan sesi pertama, frekuensi transaksi saham di BEI tercatat sekitar 1,04 juta kali, dengan volume perdagangan 35,39 miliar saham dan nilai transaksi Rp6,40 triliun. Sebanyak 166 saham menguat, 562 saham melemah, sedangkan 235 saham tidak mengalami perubahan harga.
Dominasi saham yang terkoreksi memperlihatkan luasnya tekanan pasar pada sesi pertama. Pergerakan rupiah, arus dana investor asing, serta perkembangan sentimen global akan menjadi sejumlah faktor yang perlu dicermati untuk melihat arah IHSG selanjutnya.
Editor : Mahendra Aditya