Pertanyaan:
Usaha jenang keluarga kami di Kudus telah berjalan turun-temurun dan saat ini dikelola bersama tiga bersaudara.
Belakangan, kami cukup sering mengalami kesalahpahaman dalam pembagian tugas, penentuan gaji, hingga pengambilan keputusan usaha.
Kondisi ini membuat suasana kerja kurang nyaman dan mulai mengganggu operasional sehari-hari. Bagaimana cara yang tepat menyelesaikan masalah dalam bisnis keluarga seperti ini? (Ida, Kudus)
Jawaban:
Terima kasih atas pertanyaannya. Konflik semacam ini wajar terjadi pada bisnis keluarga, termasuk UMKM jenang, karena batas antara urusan pribadi dan pekerjaan sering kali tidak jelas. Berikut langkah yang bisa mulai diusahakan:
1. Menyusun Pembagian Tugas Tertulis: Tentukan dan dokumentasikan pembagian tanggung jawab setiap anggota keluarga, seperti produksi, keuangan, dan pemasaran, agar peran masing-masing jelas, menghindari tumpang tindih tugas, serta memastikan tidak ada tanggung jawab yang terabaikan.
2. Pisahkan Peran Bisnis dari Status Keluarga: Tentukan tanggung jawab dan posisi dalam usaha berdasarkan kemampuan, pengalaman, dan kompetensi, bukan semata-mata berdasarkan urutan usia, status sebagai anak tertua, atau lamanya membantu usaha.
3. Terapkan Sistem Gaji yang Transparan: Tentukan kompensasi berdasarkan beban kerja, tanggung jawab, dan kontribusi masing-masing. Sampaikan sistem tersebut secara terbuka kepada anggota keluarga agar tercipta rasa adil dan mengurangi potensi kecurigaan antarsaudara.
4. Jadwalkan Rapat Keluarga secara Berkala: Adakan pertemuan rutin, misalnya satu kali dalam sebulan, untuk membahas perkembangan usaha, kendala, dan pengambilan keputusan. Dengan demikian, persoalan bisnis dapat dibahas secara terarah dan tidak terbawa ke dalam konflik emosional keluarga.
5. Libatkan Pihak Ketiga Jika Diperlukan: Apabila konflik sulit diselesaikan secara internal, libatkan pihak yang dipercaya dan bersikap netral, seperti orang tua, tokoh keluarga, atau pendamping UMKM, untuk membantu memfasilitasi komunikasi dan mencari solusi yang disepakati bersama.
6. Siapkan Rencana Regenerasi Sejak Dini: Bicarakan rencana keberlanjutan usaha sejak awal, termasuk siapa yang akan meneruskan dan bagaimana proses pengalihan tanggung jawab dilakukan. Kejelasan ini dapat mengurangi potensi perebutan kendali di kemudian hari.
7. Evaluasi Bersama Secara Berkala: Evaluasi perkembangan usaha dan kontribusi setiap anggota keluarga secara rutin dan terbuka. Evaluasi dilakukan untuk memperbaiki kinerja dan pembagian peran, bukan untuk mencari kesalahan atau saling menyalahkan.
Perubahan tidak harus dilakukan sekaligus. Mulailah dari masalah yang paling mendesak, kemudian lakukan perbaikan secara bertahap dan konsisten.
Dengan pembagian peran yang jelas, komunikasi yang terbuka, dan aturan yang disepakati bersama, usaha jenang keluarga dapat tetap berjalan harmonis sekaligus berkelanjutan.
Oleh: Novita Yuliana, S.E., M.B.A. (Dosen Prodi Manajemen FEB UMK)
Editor : Ali Mustofa