IHSG Hari Ini 30 September 2026 Ditutup Melemah 0,83%, GOTO hingga ADRO Jadi Sorotan

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 17:00 WIB
Ilustrasi orang sedang investasi saham
Ilustrasi orang sedang investasi saham

JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berakhir di zona merah pada perdagangan Rabu (30/9/2026). Setelah sempat menguat pada sesi pertama, IHSG berbalik melemah dan ditutup turun 0,83% ke level 6.071,14.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 371 saham tercatat melemah pada perdagangan hari ini. Sementara 325 saham menguat dan 267 saham lainnya bergerak stagnan.

Pergerakan IHSG tersebut memperpanjang tekanan yang terjadi di pasar saham domestik dalam beberapa sesi terakhir. Sehari sebelumnya, Selasa (29/9/2026), IHSG juga ditutup melemah 0,43% ke level 6.121,70.

Pada pembukaan perdagangan Rabu pagi, IHSG sempat memberikan sinyal positif. Data RTI Infokom menunjukkan indeks dibuka menguat 0,31% ke level 6.118,04.

Indeks kemudian sempat bergerak hingga level 6.143 sebelum kembali turun ke area 6.118. Penguatan juga masih bertahan hingga penutupan perdagangan sesi pertama.

IHSG tercatat naik 0,15% atau 9,18 poin ke level 6.130,88 pada akhir sesi I. Namun, kondisi tersebut tidak bertahan hingga perdagangan berakhir.

Tekanan jual kembali muncul pada sesi kedua sehingga IHSG kehilangan penguatan sebelumnya dan ditutup di level 6.071,14.

Pada perdagangan Selasa, sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi pemberat indeks. Salah satu penurunan terbesar datang dari PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO), yang terkoreksi 13,95% ke Rp37 per saham.

Saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) juga turun 4,95% menjadi Rp11.050. Selanjutnya, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) melemah 4,63% ke Rp2.470.

Tekanan juga terlihat pada beberapa saham lainnya. PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) turun 2,86% menjadi Rp340, sedangkan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) terkoreksi 2,75% ke Rp885.

PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) juga melemah 2,73% ke Rp4.280.

Di sisi lain, sejumlah saham mampu bergerak positif dan menahan tekanan terhadap IHSG. PT United Tractors Tbk. (UNTR) mencatat kenaikan 3,28% ke Rp25.175.

PT Indosat Tbk. (ISAT) menguat 2,68% ke Rp2.300, sedangkan PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk. (EXCL) naik 2,60% menjadi Rp2.370.

Penguatan berikutnya tercatat pada PT Surya Citra Media Tbk. (SCMA) sebesar 2,40% ke Rp171. PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) naik 1,94% ke Rp3.160, sementara PT ESSA Industries Indonesia Tbk. (ESSA) menguat 1,75% ke Rp580.

Selain kinerja saham individual, pelaku pasar juga menghadapi perubahan aturan perdagangan yang mulai diterapkan BEI sejak Senin (28/9/2026).

BEI menurunkan batas harga minimum saham dari sebelumnya Rp50 menjadi Rp1. Kebijakan tersebut membuat saham yang sebelumnya berada di level Rp50 memiliki ruang untuk bergerak lebih rendah dan menemukan level harga baru.

Perubahan ini menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan investor, khususnya pada saham berharga rendah.

Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda mengatakan implementasi batas harga minimum Rp1 berpotensi meningkatkan volatilitas pada tahap awal penerapan.

“Fase awal penerapan kebijakan batas harga minimum Rp1 berpotensi meningkatkan volatilitas, terutama pada saham berharga rendah. Investor masih perlu beradaptasi dengan perubahan rentang harga serta mekanisme auto rejection,” ujarnya dalam publikasi riset.

Dengan perubahan tersebut, dinamika saham berharga rendah berpotensi menjadi perhatian tersendiri karena rentang pergerakan harga menjadi lebih luas dibandingkan ketika batas minimum masih berada di Rp50.

Tekanan terhadap IHSG juga tidak terlepas dari sentimen pasar global. Pada perdagangan sebelumnya, pasar saham domestik menghadapi kombinasi tekanan dari ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat, penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil US Treasury, serta perkembangan geopolitik.

Ekspektasi terhadap kebijakan The Federal Reserve yang cenderung ketat menjadi salah satu perhatian investor. Penguatan indeks dolar AS atau DXY di atas level 101 turut memberikan tekanan terhadap aset-aset di pasar negara berkembang.

Di dalam negeri, pelemahan rupiah juga menjadi faktor yang diperhatikan investor. Pada Selasa, rupiah berada di level Rp17.981 per dolar AS setelah sempat menembus level psikologis Rp18.000 pada awal perdagangan.

Sementara itu, kenaikan harga minyak dunia turut menjadi perhatian karena perkembangan harga energi dapat memengaruhi prospek inflasi global.

Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran juga disebut menjadi salah satu faktor yang menjaga harga energi tetap tinggi. Kondisi tersebut kemudian menjadi bagian dari sentimen yang dicermati pelaku pasar.

Sebelumnya, IHSG mengalami tekanan lebih dalam pada Senin (28/9/2026). Indeks turun 1,51% ke level 6.147,86 dengan 532 saham mengalami koreksi.

Pergerakan tersebut menunjukkan kecenderungan investor mengambil posisi lebih berhati-hati di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar.

Dengan penutupan di level 6.071,14 pada Rabu (30/9/2026), arah IHSG selanjutnya masih akan dipengaruhi perkembangan sentimen global, pergerakan rupiah, kebijakan bank sentral Amerika Serikat, harga komoditas, serta dinamika saham-saham berkapitalisasi besar.

Adapun daftar saham yang mengalami kenaikan maupun penurunan pada perdagangan sebelumnya dapat menjadi bahan pemantauan pasar, tetapi pergerakan historis tidak dengan sendirinya menjadi jaminan kinerja pada perdagangan berikutnya.

Catatan: Informasi ini merupakan rangkuman perkembangan pasar dan analisis yang dikutip dari sumber terkait, bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham. Keputusan investasi merupakan tanggung jawab masing-masing investor dengan mempertimbangkan profil risiko dan informasi yang tersedia.

Editor : Mahendra Aditya
saham GOTO IHSG 30 September 2026 saham ADRO saham AADI ihsg hari ini