RADAR KUDUS - Tekanan berat kembali mengguncang pasar keuangan domestik pada perdagangan Selasa (29/9/2026).
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin terpuruk hingga menembus psikologis baru, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melorot tajam terseret gelombang aksi jual modal asing (capital outflow).
Membuka perdagangan Selasa pagi, nilai tukar mata uang Garuda merosot ke level Rp18.024 per dolar AS.
Laju pelemahan ini melanjutkan tren koreksi yang terjadi pada sesi perdagangan hari sebelumnya, ketika rupiah ditutup melemah di posisi Rp17.965 per dolar AS.
Kelesuan di pasar valuta asing berbanding lurus dengan kinerja pasar modal. Hingga pukul 09.22 WIB, IHSG terpantau melemah signifikan sebesar 116,34 poin atau merosot 1,89 persen ke level 6.031,52.
Padahal pada awal pembukaan perdagangan, indeks sempat berupaya menguat dan bergerak mendekati kisaran 6.100 sebelum akhirnya terdorong kembali ke zona merah.
Sinyal kerentanan pasar keuangan nasional sejatinya telah menguat sejak penutupan perdagangan Senin (28/9/2026).
Kala itu, IHSG terkoreksi 1,51 persen dan parkir di level 6.147,86, diiringi aksi pelepasan portofolio saham secara masif oleh pemodal asing.
Berdasarkan data perdagangan bursa, investor asing mencatatkan nilai penjualan bersih (net foreign sell) mencapai Rp1,13 triliun di seluruh pasar dalam kurun 24 jam terakhir.
Nilai tersebut terdiri dari aksi lepas saham sebesar Rp259,83 miliar di pasar reguler serta transaksi penjualan jumbo senilai Rp871,03 miliar di pasar negosiasi dan tunai.
Sektor perbankan dan komoditas menjadi sasaran utama aksi lepas saham oleh investor global.
Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatatkan nilai lego asing terbesar mencapai Rp241,50 miliar.
Posisi tersebut disusul oleh saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dengan penarikan dana asing senilai Rp121,68 miliar.
Selain itu, deretan saham emiten tambang dan mineral seperti PT Timah Tbk, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), hingga PT Vale Indonesia Tbk (INCO) turut dilepas masif oleh pemodal asing. (*)