Omzet Besar Belum Tentu Untung: Sudah Tepatkah UMKM Menentukan Harga Jual?

Ali Mustofa • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 09:24 WIB
Dwi Puji Ratnawati
Dwi Puji Ratnawati

Pertanyaan:

Sebagai pelaku UMKM kuliner, saya merasa penjualan cukup ramai. Namun, keuntungan yang diperoleh ternyata tidak sebesar yang saya bayangkan.

Belakangan ini biaya kemasan seperti thinwall juga naik, sehingga saya menambahkan biaya bungkus Rp2.000 per porsi.

Bagaimana cara menentukan harga jual yang tepat agar omzet tetap baik, tetapi keuntungan usaha juga terjaga? (Bu Sri, Kudus)

Jawaban:

Kondisi tersebut cukup sering dialami oleh pelaku UMKM. Penjualan yang ramai belum tentu berarti keuntungan besar karena omzet dan laba merupakan dua hal yang berbeda.

Omzet adalah total penerimaan dari penjualan, sedangkan laba merupakan pendapatan setelah dikurangi seluruh biaya usaha.

Kesalahan yang sering terjadi adalah menentukan harga jual hanya berdasarkan bahan baku.

Misalnya, makanan dijual seharga Rp20.000 dengan biaya bahan baku Rp12.000, lalu dianggap memperoleh keuntungan Rp8.000.

Padahal masih ada biaya kemasan, gas, listrik, tenaga kerja, transportasi, hingga biaya administrasi aplikasi delivery. Jika biaya-biaya tersebut tidak diperhitungkan, laba sebenarnya bisa jauh lebih kecil.

Karena itu, UMKM perlu menghitung HPP (Harga Pokok Penjualan) dengan memasukkan komponen biaya yang relevan.

Biaya kemasan Rp2.000 per porsi, misalnya, perlu diperhitungkan sebagai bagian dari biaya produk. Jika terjual 500 porsi dalam sebulan, biaya tersebut sudah mencapai Rp1 juta.

Biaya yang terlihat kecil per transaksi ternyata dapat berdampak besar pada keuntungan.

Lalu, apa yang bisa dilakukan?

  1. Hitung seluruh biaya secara rutin, bukan hanya biaya bahan baku.
  2. Tentukan margin keuntungan yang ingin dicapai sebelum menetapkan harga jual.
  3. Evaluasi harga secara berkala, terutama ketika biaya bahan atau kemasan meningkat.
  4. Cari alternatif efisiensi biaya, misalnya melalui pemasok yang lebih kompetitif atau pembelian kemasan dalam jumlah besar.
  5. Jangan langsung menaikkan harga. Pertimbangkan daya beli pelanggan dan komunikasikan perubahan harga secara proporsional.

Jadi, jangan hanya mengejar omzet. Yang lebih penting adalah memastikan setiap penjualan memberikan margin yang sehat.

Dengan pencatatan biaya yang lengkap dan perhitungan harga jual yang tepat, UMKM dapat menjaga keuntungan sekaligus tetap memberikan harga yang wajar bagi konsumen.

Oleh: Dwi Puji Ratnawati, S.M., M.Sc. (Dosen Prodi Manajemen FEB UMK)

Editor : Ali Mustofa
biaya produk Dwi Puji Ratnawati pelaku umkm UMK omzet