Harga Emas Melanjutkan Koreksi ke US$4.320,70, Pasar Menanti Keputusan The Fed

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 08:40 WIB
Geger! Dugaan Aliran Dana Kasus Mega Korupsi Menyeret Jampidsus, Polisi Temukan Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar
Ilustrasi emas.

RADAR KUDUS - Harga emas kembali melemah pada perdagangan Rabu (16/9/2026) pagi. Tekanan terhadap logam mulia terjadi ketika kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) memperkuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve atau The Fed pada pertemuan kebijakan yang berlangsung pekan ini.

Mengutip Bloomberg, harga emas berjangka untuk pengiriman Desember 2026 di Commodity Exchange berada di level US$4.320,70 per ons troi pada pukul 07.48 WIB. Harga tersebut turun 0,28 persen dibandingkan posisi perdagangan sehari sebelumnya sebesar US$4.332,80 per ons troi.

Pergerakan emas pada Rabu pagi melanjutkan tekanan yang terjadi dalam beberapa sesi sebelumnya. Investor kini menempatkan keputusan The Fed sebagai salah satu katalis utama pasar karena perubahan suku bunga akan memengaruhi daya tarik aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun ke US$107,82, Stok Minyak AS Melonjak di Luar Perkiraan

Ekspektasi kenaikan suku bunga menguat seiring meningkatnya tekanan inflasi yang dipicu oleh harga energi. Harga minyak dunia masih berada di atas US$100 per barel, sementara gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah membuat pasar kembali memperhitungkan risiko kenaikan harga energi dalam beberapa waktu ke depan. Reuters melaporkan Brent masih berada di sekitar US$108 per barel pada perdagangan Asia Rabu pagi setelah sehari sebelumnya melonjak 2,9 persen.

Kondisi tersebut membuat investor emas menghadapi tekanan dari dua arah. Harga energi yang tinggi meningkatkan kekhawatiran inflasi, sedangkan inflasi yang lebih persisten dapat membuat bank sentral mempertahankan atau menaikkan suku bunga lebih tinggi. Kebijakan moneter yang lebih ketat pada akhirnya dapat meningkatkan daya tarik aset berbunga dibandingkan emas.

Pasar saat ini bahkan telah memasukkan kemungkinan besar kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin. Berdasarkan CME FedWatch yang dikutip Reuters pada Rabu, probabilitas kenaikan tersebut berada di sekitar 92,4 persen, meningkat tajam dibandingkan sekitar 59,4 persen sepekan sebelumnya.

Perubahan ekspektasi tersebut berlangsung cepat. Sebelumnya, sebagian besar ekonom masih memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga. Namun, perkembangan inflasi AS dan lonjakan harga energi membuat pandangan pasar bergeser.

Dalam jajak pendapat Reuters yang dilakukan pada 14 September, sebanyak 85 persen ekonom memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 15-16 September. Proyeksi tersebut menempatkan kisaran suku bunga acuan di 3,75 persen hingga 4 persen.

Sejumlah bank investasi besar juga telah mengubah proyeksinya. Goldman Sachs, JPMorgan, HSBC, dan Deutsche Bank termasuk lembaga yang memperkirakan kenaikan 25 basis poin pada September setelah data inflasi terbaru menunjukkan tekanan harga yang lebih kuat dari perkiraan.

Perubahan ekspektasi tersebut menjadi tantangan bagi harga emas. Secara karakteristik, emas tidak menghasilkan bunga atau pembayaran berkala seperti obligasi. Ketika suku bunga dan imbal hasil obligasi meningkat, biaya peluang memegang emas menjadi lebih besar karena investor memiliki alternatif aset yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

Analis pasar emas Daniel Pavilonis dari StoneX sebelumnya menjelaskan bahwa kenaikan harga energi dapat memperbesar tekanan inflasi dan pada akhirnya mendorong ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi.

"Harga energi yang lebih tinggi menyebabkan inflasi meningkat. Inflasi yang lebih tinggi dapat mendorong kenaikan suku bunga. Itu tidak baik bagi emas," kata Pavilonis, seperti dikutip Reuters.

Menurut dia, emas masih berada dalam rentang perdagangan tertentu dan berpotensi kembali menghadapi tekanan apabila suku bunga terus bergerak naik.

"Emas berada dalam area yang cenderung bergerak terbatas. Harga bahkan bisa kembali tertekan jika suku bunga terus meningkat," ujarnya.

Selain prospek suku bunga, pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga menjadi faktor penting bagi pasar emas. Pada Selasa, imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun sempat menembus 5 persen. Reuters mencatat level tersebut merupakan yang tertinggi sejak 2007 sebelum imbal hasil sedikit turun.

Baca Juga: Bursa Asia Pagi Ini: Nikkei Turun, Hang Seng dan Kospi Menguat Jelang Keputusan The Fed

Kenaikan imbal hasil obligasi membuat aset tanpa kupon seperti emas menjadi relatif kurang menarik. Kondisi ini menjadi salah satu alasan harga emas mengalami tekanan meskipun logam mulia secara tradisional juga dipandang sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian geopolitik.

Tekanan terhadap emas sebenarnya sudah terlihat sebelum perdagangan Rabu. Pada Selasa, harga emas spot turun 0,1 persen menjadi US$4.293,29 per ons, sedangkan emas berjangka AS untuk pengiriman Desember ditutup turun 0,4 persen menjadi US$4.332,80 per ons.

Penurunan tersebut melanjutkan pelemahan yang terjadi sejak awal September. Berdasarkan data dalam laporan sumber, harga emas telah terkoreksi lebih dari 3 persen sepanjang September setelah sebelumnya berada di atas US$4.700 per ons troi pada akhir Agustus.

Dengan demikian, koreksi harga emas tidak hanya berkaitan dengan perdagangan satu hari. Pasar sedang melakukan penyesuaian terhadap perubahan ekspektasi kebijakan moneter AS. Harga emas yang sebelumnya berada pada level sangat tinggi kini menghadapi tekanan ketika investor mulai memperhitungkan kemungkinan suku bunga yang lebih tinggi.

Perubahan tersebut juga terjadi ketika dolar AS menguat. Reuters melaporkan indeks dolar berada di sekitar level 99,656 pada perdagangan Asia Rabu, mendekati level tertinggi dalam dua pekan. Penguatan dolar dapat menambah tekanan terhadap emas karena logam mulia dihargai dalam mata uang AS dan menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Kombinasi antara dolar yang kuat, imbal hasil obligasi yang meningkat, dan ekspektasi kenaikan suku bunga menjadi tantangan bagi harga emas dalam jangka pendek. Ketiga faktor tersebut saling berkaitan dan dapat memengaruhi keputusan investor dalam menempatkan dana pada aset safe haven maupun instrumen berbunga.

Namun, tekanan tersebut tidak berarti seluruh faktor pendukung emas menghilang. Ketidakpastian geopolitik masih menjadi bagian penting dari dinamika pasar global. Konflik dan gangguan infrastruktur energi di Timur Tengah telah mendorong harga minyak naik dan meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global.

Pada perdagangan sebelumnya, harga minyak melonjak setelah gangguan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi dan penghentian aktivitas di sejumlah ladang minyak Libya memunculkan kekhawatiran mengenai pasokan global. Brent bahkan sempat kembali berada di atas US$107 per barel.

Situasi ini menciptakan hubungan yang cukup kompleks bagi emas. Di satu sisi, ketidakpastian geopolitik dan inflasi secara tradisional dapat meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai. Di sisi lain, jika kenaikan inflasi mendorong bank sentral menaikkan suku bunga dan imbal hasil obligasi meningkat, tekanan terhadap emas dapat semakin kuat.

Karena itu, arah harga emas dalam perdagangan berikutnya akan sangat dipengaruhi oleh komunikasi The Fed setelah keputusan suku bunga diumumkan. Investor tidak hanya akan melihat apakah suku bunga naik atau tetap, tetapi juga mencermati petunjuk mengenai kebijakan moneter setelah September.

Pasar sebelumnya telah menunjukkan betapa sensitifnya emas terhadap perubahan ekspektasi tersebut. Ketika probabilitas kenaikan suku bunga meningkat, harga emas mengalami tekanan. Sebaliknya, apabila bank sentral memberikan sinyal bahwa pengetatan tidak akan berlangsung lama, sebagian tekanan terhadap logam mulia dapat berkurang.

Reuters mencatat investor kini juga menunggu konferensi pers Ketua The Fed Kevin Warsh setelah pengumuman kebijakan. Pasar akan mencermati apakah bank sentral memberikan indikasi mengenai kemungkinan kenaikan berikutnya atau justru memilih menunggu perkembangan ekonomi dan inflasi.

Ketidakpastian mengenai arah kebijakan berikutnya menjadi semakin penting karena data ekonomi AS memberikan sinyal yang beragam. Inflasi Agustus tercatat meningkat 0,4 persen secara bulanan setelah hanya naik 0,1 persen pada Juli. Data tersebut memperkuat alasan bagi pasar untuk memperkirakan kebijakan moneter yang lebih ketat.

Sejumlah ekonom juga mulai memperkirakan suku bunga dapat bertahan lebih tinggi dalam waktu lebih lama. Reuters melaporkan JPMorgan melihat data inflasi terbaru sebagai indikasi bahwa proses penurunan inflasi belum cukup kuat untuk mendukung asumsi pelonggaran kebijakan secara cepat.

Bagi pasar emas, prospek tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Jika suku bunga tinggi bertahan lebih lama, investor dapat kembali membandingkan imbal hasil emas dengan obligasi pemerintah AS. Semakin tinggi imbal hasil obligasi, semakin besar pula biaya peluang memegang logam mulia yang tidak menghasilkan bunga.

Meski demikian, harga emas masih berada jauh di atas level yang tercatat pada periode-periode sebelumnya. Posisi sekitar US$4.320 per ons troi menunjukkan logam mulia tetap berada di level tinggi, meskipun telah mengalami koreksi dari rekor atau level tinggi yang dicapai pada akhir Agustus.

Pergerakan harga dalam beberapa hari ke depan karena itu akan menjadi ujian penting bagi pasar emas. Investor akan menilai apakah koreksi September merupakan penyesuaian terhadap perubahan ekspektasi suku bunga atau bagian dari tekanan yang lebih panjang akibat meningkatnya imbal hasil dan penguatan dolar AS.

Untuk sementara, tekanan terbesar berasal dari perubahan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat. Harga minyak yang tinggi memperbesar kekhawatiran inflasi, sementara imbal hasil Treasury yang meningkat membuat pasar memperkirakan The Fed perlu mengambil langkah lebih ketat.

Pada perdagangan Rabu pagi, kombinasi faktor tersebut membuat harga emas kembali turun 0,28 persen menjadi US$4.320,70 per ons troi untuk kontrak Desember 2026. Meski terkoreksi, harga masih bertahan di kisaran US$4.300 per ons troi.

Investor kini menunggu keputusan The Fed yang dijadwalkan pada Rabu. Keputusan tersebut, bersama dengan pernyataan dan panduan kebijakan setelahnya, akan menjadi perhatian utama pasar karena dapat menentukan bagaimana emas merespons perubahan ekspektasi suku bunga.

Dengan demikian, koreksi harga emas pada Rabu pagi bukan sekadar pergerakan komoditas secara terpisah. Pergerakannya menjadi bagian dari reaksi pasar yang lebih luas terhadap kenaikan harga energi, meningkatnya imbal hasil obligasi AS, penguatan dolar, serta perubahan tajam ekspektasi terhadap kebijakan The Fed.

Selama faktor-faktor tersebut masih menjadi perhatian pasar, harga emas berpotensi tetap sensitif terhadap setiap data ekonomi dan pernyataan bank sentral. Untuk perdagangan selanjutnya, arah suku bunga AS dan perkembangan harga minyak menjadi dua faktor yang akan terus diperhatikan pelaku pasar.

Editor : Mahendra Aditya
suku bunga The Fed harga emas 16 September 2026 harga emas hari ini harga emas dunia Harga Emas Terbaru