RADAR KUDUS - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menghadapi tekanan setelah ditutup turun 1,29 persen pada perdagangan Kamis (10/9/2026).
Pelemahan pasar saham Indonesia berlangsung ketika harga minyak mentah global melonjak di atas US$100 per barel, imbal hasil surat utang Amerika Serikat meningkat, dan pelaku pasar semakin mencermati kemungkinan perubahan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG kehilangan 86,30 poin dan berakhir di level 6.591,90. Indeks sempat dibuka pada 6.688,18 dan bergerak naik hingga 6.712,50 sebelum tekanan jual membawa indeks turun ke titik terendah 6.585,56.
Pergerakan tersebut membuat IHSG kembali berada di bawah level psikologis 6.600 setelah sebelumnya sempat menguji area 6.700. Aktivitas perdagangan juga cukup padat. Volume transaksi mencapai sekitar 51,1 miliar saham dengan nilai transaksi Rp21,6 triliun dan frekuensi perdagangan sebanyak 2,67 juta kali.
Tekanan terjadi cukup merata di pasar. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, 516 saham berakhir melemah, sementara 150 saham menguat dan 127 saham lainnya stagnan. Kondisi tersebut menunjukkan dominasi aksi jual pada perdagangan Kamis.
Investor asing juga tercatat melakukan aksi jual bersih. Net foreign outflow mencapai Rp1,95 triliun di seluruh pasar, sedangkan pada pasar reguler tercatat Rp747,51 miliar. Secara year to date, arus dana asing masih menunjukkan net outflow sebesar Rp70,16 triliun di seluruh pasar dan Rp97,69 triliun di pasar reguler.
Pelemahan IHSG terutama terlihat pada sejumlah sektor utama. Sektor energi mengalami penurunan paling dalam sebesar 2,21 persen. Setelahnya terdapat sektor kesehatan yang turun 1,69 persen, industri terkoreksi 1,53 persen, bahan baku melemah 1,22 persen, dan sektor finansial turun 1,18 persen.
Sementara itu, sektor properti menjadi salah satu sektor yang mengalami koreksi paling terbatas dengan penurunan 0,07 persen. Sektor utilitas juga relatif bertahan dengan pelemahan 0,17 persen.
Sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi pemberat utama indeks. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI memberikan kontribusi negatif terbesar sebesar 15,52 poin. Berikutnya PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dengan tekanan 10,40 poin dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar 7,04 poin.
Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) turut memberikan tekanan sebesar 5,02 poin. Kemudian PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menyumbang tekanan 3,58 poin, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar 3,47 poin, dan PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) sebesar 3,27 poin.
Di tengah dominasi saham yang melemah, beberapa emiten masih mampu memberikan kontribusi positif terhadap pergerakan indeks. PT MNC Tourism Indonesia Tbk (KPIG) menjadi penopang terbesar dengan sumbangan 3,72 poin.
Posisi berikutnya ditempati PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) sebesar 2,55 poin, PT Astra International Tbk (ASII) 1,73 poin, PT United Tractors Tbk (UNTR) 1,65 poin, dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) 1,23 poin.
Tekanan di pasar saham domestik tidak terlepas dari perubahan sentimen global. Harga minyak yang kembali menembus US$100 per barel menjadi salah satu perhatian utama investor karena kenaikan energi dapat meningkatkan tekanan inflasi dan pada akhirnya memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan moneter.
Minyak West Texas Intermediate (WTI) pada perdagangan Kamis melonjak 6,7 persen hingga ditutup di US$102,48 per barel. Sementara minyak Brent naik 5,9 persen menjadi US$107,63 per barel. Kedua harga acuan tersebut mencapai level penutupan tertinggi sejak 19 Mei.
Lonjakan harga minyak terjadi ketika konflik antara Amerika Serikat dan Iran memasuki bulan ketujuh. Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan terganggunya pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Dampaknya tidak hanya terlihat pada komoditas energi. Kenaikan harga minyak juga kembali memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi global. Investor kemudian mencermati kemungkinan bahwa bank sentral, khususnya The Fed, perlu mempertahankan kebijakan suku bunga yang lebih ketat untuk menjaga tekanan harga tetap terkendali.
Kekhawatiran tersebut ikut tercermin pada pasar obligasi Amerika Serikat. Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun menembus 4,95 persen, level tertinggi sejak Oktober 2023.
Kenaikan yield membuat aset berisiko menghadapi tekanan tambahan. Saham teknologi semikonduktor yang sebelumnya menjadi salah satu penggerak reli pasar ikut terkoreksi karena investor mempertimbangkan dampak kenaikan biaya pendanaan dan energi terhadap pertumbuhan ekonomi.
Intel tercatat turun 5,6 persen, sedangkan Micron Technology merosot 4,7 persen. Namun, sejumlah perusahaan teknologi besar masih bergerak positif. Alphabet dan Microsoft masing-masing mencatat kenaikan kurang dari 1 persen.
Apple justru menguat 3,6 persen setelah perusahaan meluncurkan smartphone lipat pertamanya.
Perhatian investor juga tertuju pada data inflasi Amerika Serikat. Data Producer Price Index (PPI) Agustus menunjukkan kenaikan 0,4 persen secara bulanan setelah penyesuaian musiman. Angka tersebut sesuai dengan konsensus Dow Jones.
Secara tahunan, PPI tercatat meningkat 5,4 persen. Angka tersebut masih jauh di atas sasaran inflasi 2 persen yang menjadi acuan Federal Reserve.
Data PPI dirilis sehari sebelum pasar menunggu laporan Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat. Kedua indikator tersebut menjadi bagian penting dalam membaca arah tekanan inflasi dan prospek kebijakan moneter AS.
Pasar kemudian memperhitungkan kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) 16 September 2026. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan sebesar 25 basis poin berada di sekitar 73 persen.
Stephen Coltman, Head of Macro di 21shares, menilai data PPI saja belum memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai keputusan The Fed pada pekan berikutnya. Namun, menurutnya, kenaikan harga minyak dan imbal hasil Treasury menjadi risiko tambahan bagi investor menjelang publikasi data CPI.
Perkembangan di Amerika Serikat tersebut turut memengaruhi pergerakan mata uang dan pasar obligasi domestik. Rupiah melemah pada perdagangan Kamis setelah sebelumnya mencatat penguatan cukup besar.
Data Refinitiv menunjukkan rupiah terdepresiasi 0,17 persen dan ditutup di level Rp17.530 per dolar AS. Pada awal perdagangan, rupiah berada di sekitar Rp17.495 per dolar AS atau menguat 0,03 persen.
Pergerakan tersebut membalikkan penguatan rupiah sehari sebelumnya. Pada Rabu (9/9/2026), mata uang Garuda menguat 0,71 persen hingga berakhir di sekitar Rp17.500 per dolar AS.
Meski melemah pada perdagangan terakhir, posisi rupiah masih berada di sekitar level terkuatnya dalam hampir 17 pekan terakhir. Sementara itu, indeks dolar AS atau DXY yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama tercatat turun 0,10 persen ke 98,721 pada pukul 15.00 WIB.
Selain rupiah, pasar Surat Berharga Negara (SBN) juga menghadapi tekanan. Imbal hasil SBN Indonesia tenor 10 tahun tercatat naik ke 7,096 persen, dari posisi penutupan sebelumnya sebesar 7,095 persen. Kenaikan yield tersebut mencerminkan tekanan jual yang lebih besar dibandingkan minat beli pada pasar obligasi.
Pergerakan pasar domestik tersebut berlangsung bersamaan dengan pelemahan bursa saham global. Wall Street mencatat penurunan pada Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia, dengan tiga indeks utama sama-sama berakhir di zona merah.
Dow Jones Industrial Average turun 316,56 poin atau 0,60 persen menjadi 52.064,10. S&P 500 melemah 0,58 persen ke 7.591,70, sedangkan Nasdaq Composite turun 0,65 persen menjadi 26.081,72.
Penurunan tersebut menjadi pelemahan hari keempat berturut-turut bagi ketiga indeks utama Wall Street. Lonjakan harga minyak dan kenaikan imbal hasil Treasury menjadi dua perhatian utama investor.
Kondisi serupa juga terlihat di pasar saham Eropa. Euro Stoxx 50 turun 0,66 persen, FTSE 100 Inggris melemah 0,57 persen, DAX Jerman turun 0,84 persen, sedangkan CAC 40 Prancis terkoreksi 0,49 persen pada penutupan Kamis.
Tekanan global kemudian terbawa ke bursa Asia pada Jumat pagi. Nikkei Jepang turun 2,68 persen menjadi 63.521,00. Shanghai Composite melemah 1,80 persen ke 3.863,25, Kospi Korea Selatan turun 2,18 persen ke 6.880,46, Hang Seng Hong Kong terkoreksi 1,36 persen ke 24.615,00, dan Straits Times Singapura melemah 0,29 persen ke 5.673,13.
Dari sisi domestik, kenaikan harga minyak juga memiliki konsekuensi terhadap fiskal karena harga energi dapat memengaruhi kebutuhan subsidi dan kompensasi pemerintah. Dalam bahan analisis pasar yang dikutip, asumsi harga minyak dalam APBN berada di sekitar US$90 per barel.
Meski harga minyak telah bergerak jauh di atas asumsi tersebut, ruang fiskal pemerintah dinilai masih tersedia. Defisit APBN tercatat 0,91 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) hingga Juli 2026 dan sekitar 0,95 persen PDB pada Agustus.
Kondisi itu menjadi salah satu faktor yang membuat pemerintah belum melihat kebutuhan untuk menambah kuota subsidi bahan bakar minyak.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga menyampaikan pemerintah dapat menggunakan dana cadangan APBN untuk mendukung program pembukaan rekening masyarakat secara bertahap. Program tersebut memiliki target hingga 200 juta rekening.
Namun, pelaksanaannya diperkirakan baru dimulai pada 2027 karena pemerintah masih membutuhkan persiapan dan integrasi data antara Dukcapil, perbankan, serta Bank Indonesia. Purbaya juga menyebut kebutuhan anggaran program tersebut kemungkinan tidak mencapai Rp11 triliun karena masyarakat yang sudah memiliki rekening pada bank penunjuk tidak perlu membuka rekening baru.
Bagi pasar saham Indonesia, perhatian dalam waktu dekat masih akan tertuju pada perkembangan harga minyak, data inflasi Amerika Serikat, serta keputusan The Fed. Kombinasi ketiga faktor tersebut dapat menjadi bagian penting dalam membentuk sentimen investor di tengah tekanan yang sudah terlihat pada saham, rupiah, dan pasar obligasi.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata memberikan gambaran level teknikal yang perlu dicermati pelaku pasar. Dalam kajiannya, ia menyebut IHSG berpeluang mengalami pemulihan apabila mampu bertahan pada area tertentu.
"Jika bertahan, IHSG berpeluang rebound menguji 6.673-6.723, dengan resistance berikutnya 6.859. Sebaliknya, jika breakdown di bawah 6.520, koreksi berpotensi menuju 6.420, dengan support berikutnya 6.377," ujar Liza.
Dengan posisi IHSG yang kembali berada di bawah 6.600, pasar memasuki perdagangan berikutnya dengan sejumlah risiko eksternal yang masih kuat. Harga minyak di atas US$100 per barel, kenaikan yield Treasury, perkembangan inflasi AS, serta ekspektasi kebijakan The Fed menjadi faktor yang terus diperhitungkan investor dalam menentukan arah perdagangan.
Editor : Mahendra Aditya