RADAR KUDUS - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melaju lebih dari 1 persen pada perdagangan Kamis (3/9/2026), melanjutkan momentum rebound setelah sehari sebelumnya ditutup melemah tipis. Penguatan indeks terutama ditopang kinerja sejumlah saham berkapitalisasi besar atau big cap.
Berdasarkan data IDX Mobile hingga pukul 12.00 WIB, IHSG menguat 67,78 poin atau 1,03 persen ke level 6.663,56. Posisi tersebut naik dari penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di 6.595,78.
Kinerja positif indeks juga didukung oleh penguatan mayoritas sektor saham. Hampir seluruh sektor bergerak di zona hijau, dengan sektor properti, energi, dan barang baku mencatat kenaikan paling tinggi. Sementara sektor konsumer non-primer menjadi satu-satunya sektor yang mengalami pelemahan.
Sejumlah saham dengan kapitalisasi pasar besar menjadi kontributor penting bagi penguatan IHSG. Beberapa di antaranya adalah Bank Mandiri (BMRI), Astra International (ASII), Amman Mineral Internasional (AMMN), Charoen Pokphand Indonesia (CPIN), serta Bank Negara Indonesia (BBNI).
Baca Juga: IHSG Ditutup Hijau 1,09 Persen, Tembus di Level 6.667,89 di Tengah Sentimen Global
Aktivitas transaksi di pasar saham juga cukup tinggi. Hingga tengah hari, nilai perdagangan tercatat sekitar Rp9,96 triliun dengan volume mencapai 23,56 miliar saham. Frekuensi transaksi telah menyentuh sekitar 1,45 juta kali.
Penguatan IHSG terjadi ketika investor masih mencermati sejumlah faktor global yang berpotensi memengaruhi arah pasar. Salah satu perhatian utama berasal dari perkembangan konflik AS-Iran yang berisiko mengganggu pasokan energi global.
Ketegangan geopolitik tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dan kembali meningkatkan tekanan inflasi. Kondisi pasar obligasi global juga menjadi perhatian karena imbal hasil surat utang di sejumlah negara berada pada level tinggi.
Yield Treasury Amerika Serikat tenor 10 tahun bahkan sempat mencapai 4,818 persen. Di Jepang, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun menembus 3 persen untuk pertama kalinya dalam sekitar tiga dekade.
Tekanan serupa terlihat pada pasar surat utang Eropa. Yield obligasi pemerintah Jerman dan Inggris masing-masing berada di level tertinggi sejak 2011 dan 2008.
Investor juga mengamati kemungkinan arah kebijakan Federal Reserve setelah muncul data ketenagakerjaan terbaru dari AS. Perusahaan swasta di negara tersebut tercatat hanya menambah 38.000 pekerjaan pada Agustus 2026, lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 47.000.
Data tersebut menjadi salah satu indikator yang diperhatikan pasar dalam memperkirakan langkah The Fed berikutnya, khususnya terkait kebijakan suku bunga.
Dari dalam negeri, pasar memperoleh sentimen positif dari arah kebijakan Bank Indonesia. Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan bahwa menjaga stabilitas ekonomi tetap menjadi prioritas bank sentral untuk periode 2026-2031 di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Selain kebijakan moneter, investor domestik juga masih mencermati sejumlah perkembangan pemerintah yang berpotensi berdampak terhadap sektor-sektor tertentu, terutama energi dan perbankan.
Kenaikan harga avtur Pertamina mulai September menjadi salah satu perkembangan yang diperhatikan pasar. Di sektor keuangan, pencabutan izin usaha salah satu BPR Syariah oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menjadi bagian dari dinamika domestik yang dipantau investor.
Dengan berbagai sentimen tersebut, pergerakan saham big cap menjadi salah satu faktor penting di balik penguatan IHSG pada perdagangan Kamis. Investor selanjutnya akan mencermati apakah momentum tersebut mampu bertahan hingga penutupan perdagangan sekaligus membawa IHSG melanjutkan pemulihan setelah koreksi pada sesi sebelumnya.
Editor : Mahendra Aditya