Usaha kuliner rumahan saya sudah berjalan dua tahun, namun pencatatan keuangan masih manual menggunakan buku tulis.
Saya kesulitan mengetahui keuntungan usaha secara pasti, stok bahan baku sering tidak sesuai catatan, dan saat mengajukan pinjaman ke bank, laporan keuangan saya dinilai kurang memadai. Bagaimana solusinya?
Jawaban:
Permasalahan tersebut umum dialami pelaku UMKM dan disebabkan oleh belum diterapkannya sistem pencatatan keuangan yang tertib. Pencatatan manual menimbulkan tiga akibat utama.
Pertama, bank cenderung ragu memberikan pinjaman karena laporan tulisan tangan rawan kesalahan hitung dan kurang meyakinkan, sehingga kelayakan usaha sulit dinilai walau usaha sebenarnya berjalan baik.
Kedua, biaya produksi setiap produk sulit dihitung tepat tanpa pencatatan rapi, sehingga harga jual berpotensi keliru dan keuntungan sebenarnya tidak diketahui pasti.
Ketiga, selisih stok yang tidak terpantau dapat menyebabkan kerugian yang tidak disadari.
Solusinya, mulailah menggunakan aplikasi pencatatan keuangan digital, seperti BukuKas atau aplikasi kasir sederhana, yang mencatat transaksi penjualan, pembelian, dan stok secara otomatis sehingga mengurangi risiko kesalahan manual.
Pilih aplikasi yang mengintegrasikan pencatatan stok dengan keuangan, agar setiap transaksi penjualan memperbarui stok dan catatan keuangan secara bersamaan.
Gunakan fitur paling sederhana terlebih dahulu agar kebiasaan mencatat berjalan konsisten dalam jangka panjang.
Setelah digunakan rutin, aplikasi tersebut dapat menghasilkan laporan laba rugi sederhana yang lebih dapat diterima bank dibandingkan pembukuan manual.
Dengan demikian, pengelolaan usaha menjadi lebih tertata dan peluang memperoleh pinjaman modal untuk pengembangan usaha semakin besar.
Oleh: Izza Ashsifa, S.E., M.Sc.(Dosen Akuntansi FEB UMK)
Editor : Ali Mustofa