RADAR KUDUS - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan 1 September 2026 dengan lonjakan 1,14 persen ke level 6.599,943. Di saat yang sama, rupiah justru melemah ke Rp17.744 per dolar AS dan harga emas Antam turun Rp6.000 menjadi Rp2.664.000 per gram. Perbedaan arah ini menunjukkan bahwa masing-masing pasar merespons katalis yang berbeda, meski berada dalam lingkungan ekonomi yang sama.
Penguatan IHSG menjadi cukup mencolok karena terjadi ketika sejumlah bursa saham Asia justru bergerak di zona merah. Pada penutupan perdagangan, IHSG bertambah 74,465 poin. Sebanyak 407 saham tercatat menguat, sementara 215 saham melemah dan 169 lainnya stagnan. Nilai transaksi saham mencapai sekitar Rp19,82 triliun dengan volume 51,32 miliar saham.
Salah satu katalis penting datang dari berlakunya perubahan konstituen indeks MSCI pada awal September. Rebalancing tersebut mendorong penyesuaian portofolio dan meningkatkan aktivitas pada sejumlah saham berkapitalisasi besar. BRI Danareksa Sekuritas sebelumnya mencatat nilai transaksi pada perdagangan 31 Agustus melonjak sekitar 60 persen menjadi Rp25,02 triliun seiring berakhirnya periode rebalancing MSCI.
Saham perbankan menjadi salah satu motor penguatan pasar. Pada perdagangan Selasa, BBRI tercatat naik 4 persen dan menjadi salah satu saham dengan nilai transaksi terbesar. Selain itu, saham BUMI menguat 7,29 persen dan CUAN melonjak 11,04 persen. Penguatan di sektor keuangan, energi, industri, dan sejumlah saham berbasis komoditas membantu menjaga IHSG tetap berada di zona hijau hingga penutupan.
Kinerja IHSG juga mendapat dukungan dari aksi beli investor terhadap saham-saham yang sebelumnya terkoreksi. Sebelum perdagangan dimulai, analis senior Investment Information di BRI Danareksa Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama menilai rebalancing MSCI meningkatkan volatilitas sekaligus membuat investor mencermati saham-saham tertentu.
"Namun, tekanan tersebut berhasil diimbangi oleh bargain hunting pada saham-saham yang sudah terkoreksi cukup dalam, termasuk masuknya kembali dana asing pada sesi pertama yang tercatat net buy sekitar Rp183,6 miliar, dengan BBRI menjadi salah satu saham yang paling banyak dibeli asing," kata Nafan.
Faktor domestik juga memberi konteks berbeda bagi pasar saham dan pasar uang. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan inflasi Indonesia pada Agustus 2026 mencapai 3,19 persen secara tahunan. Angka itu meningkat dibandingkan inflasi tahunan Juli yang berada di level 2,88 persen.
Namun, kenaikan inflasi justru menjadi salah satu faktor yang membebani rupiah. Mata uang Garuda sempat menguat pada awal perdagangan, tetapi kemudian berbalik melemah dan berakhir di Rp17.744 per dolar AS. Posisi tersebut turun 22 poin atau 0,12 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.722.
Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor yang membuat tekanan terhadap rupiah semakin terasa. Indeks dolar AS atau DXY naik ke 99,59 dari 99,42. Sejumlah mata uang Asia lainnya juga mengalami pelemahan terhadap dolar AS, termasuk won Korea, ringgit Malaysia, baht Thailand, yen Jepang, dan dolar Singapura.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menilai data inflasi menjadi salah satu penyebab rupiah berakhir melemah. Menurut dia, inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat meningkatkan tekanan terhadap Bank Indonesia dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
"Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS setelah data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan memberikan tekanan pada BI untuk menaikkan suku bunga," ujar Lukman.
Meski demikian, kondisi neraca perdagangan memberikan bantalan bagi rupiah sehingga pelemahannya tidak semakin dalam. Pasar juga masih menunggu sejumlah data ekonomi Amerika Serikat, terutama indikator ketenagakerjaan, yang berpotensi memengaruhi arah dolar dan ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve. Lukman menyebut investor mencermati data pekerjaan dan manufaktur AS, dengan perhatian lebih besar tertuju pada laporan Nonfarm Payrolls yang akan dirilis pada akhir pekan.
Tekanan berbeda terlihat di pasar emas. Harga emas Antam ukuran 1 gram pada Selasa pagi tercatat Rp2.664.000, turun Rp6.000 dari posisi sebelumnya Rp2.670.000. Harga buyback juga turun Rp6.000 menjadi Rp2.517.000 per gram berdasarkan pemantauan harga di laman Logam Mulia.
Koreksi emas domestik tidak terlepas dari perkembangan harga emas dunia. Ketika dolar AS menguat dan pasar menghadapi perubahan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Amerika Serikat, emas yang dihargai dalam dolar menghadapi tekanan. Kondisi tersebut menjelaskan mengapa pelemahan rupiah tidak otomatis membuat harga emas Antam naik pada hari yang sama.
Dengan demikian, penguatan IHSG pada awal September tidak bisa langsung diartikan bahwa seluruh aset keuangan Indonesia sedang mengalami tren positif. Pasar saham mendapatkan dorongan dari faktor teknikal dan rebalancing MSCI, sedangkan rupiah lebih sensitif terhadap pergerakan dolar AS, inflasi domestik, serta ekspektasi kebijakan moneter global.
Bagi investor, perbedaan tersebut menjadi pengingat bahwa satu indikator pasar tidak selalu menggambarkan kondisi keseluruhan. IHSG yang mendekati level 6.600 menunjukkan kuatnya minat beli pada saham tertentu, tetapi pergerakan rupiah dan emas memperlihatkan bahwa tekanan eksternal serta ekspektasi suku bunga masih menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.
Setelah rebalancing MSCI mulai berlaku, perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada kemampuan IHSG mempertahankan penguatan sekaligus perkembangan data ekonomi global. Sementara itu, arah dolar AS dan kebijakan bank sentral Amerika akan tetap menjadi faktor penting bagi pergerakan rupiah dan emas dalam perdagangan berikutnya.
Editor : Mahendra AdityaSumber : Radar Banyuwangi, Kumparan, Antara