RADAR KUDUS - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan pada kuartal III 2026, tetapi peluang kenaikannya dinilai belum cukup kuat untuk membawa indeks kembali menuju level 9.000. Salah satu proyeksi yang mencuat menempatkan IHSG di kisaran 6.500–7.000 hingga akhir kuartal III.
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai rentang tersebut menjadi skenario optimistis dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan arus modal yang masuk ke pasar saham Indonesia.
Persoalannya, inflow investor asing belum menunjukkan kekuatan yang cukup signifikan. Kondisi tersebut membuat ruang penguatan IHSG masih terbatas karena pasar membutuhkan tambahan katalis agar kenaikan indeks dapat berlangsung lebih konsisten.
Faktor arus modal asing menjadi semakin penting karena perhatian investor global terhadap pasar Indonesia juga berkaitan dengan posisi saham-saham domestik dalam indeks acuan internasional seperti MSCI dan FTSE. Jika aliran dana asing belum meningkat secara berarti, momentum kenaikan IHSG berpotensi berjalan lebih lambat.
Proyeksi tersebut muncul ketika IHSG mulai menunjukkan tanda pemulihan setelah mengalami tekanan pada periode sebelumnya. Pada perdagangan Selasa (18/8/2026), IHSG dibuka menguat 46,94 poin atau 0,73 persen ke level 6.448,83, sementara indeks LQ45 naik 0,45 persen ke 635,11.
Dengan posisi pembukaan tersebut, target 6.500 menjadi level psikologis terdekat yang perlu diperhatikan investor. Jika mampu menembus dan bertahan di atasnya, indeks berpeluang melanjutkan perjalanan menuju area 7.000. Sebaliknya, kegagalan mempertahankan momentum dapat membuat IHSG kembali menghadapi tekanan.
Pergerakan positif pada awal pekan juga meneruskan penguatan sebelumnya. Pada Jumat (14/8/2026), IHSG tercatat melonjak 1,59 persen. Penguatan tersebut antara lain mendapat sentimen dari pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto dalam rangkaian Sidang Tahunan MPR serta Sidang Bersama DPR dan DPD RI 2026.
Dari sisi fundamental domestik, pemerintah membawa sejumlah target ekonomi yang berpotensi menjadi katalis positif bagi pasar. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6 persen pada 2027, lebih tinggi dibandingkan sasaran pertumbuhan 5,4 persen yang digunakan dalam APBN 2026.
Target investasi nasional juga dinaikkan menjadi Rp2.322 triliun pada 2027, dari target investasi Rp2.041,3 triliun dalam APBN 2026. Jika realisasi investasi dan pertumbuhan ekonomi mampu berjalan sesuai sasaran, prospek kinerja perusahaan terbuka dapat ikut terdorong.
Namun, target tersebut masih merupakan sasaran kebijakan dan belum otomatis menjadi jaminan kenaikan IHSG. Investor tetap perlu melihat bagaimana implementasi kebijakan pemerintah diterjemahkan menjadi pertumbuhan laba perusahaan, peningkatan konsumsi, investasi produktif, serta perbaikan fundamental emiten.
Di sisi moneter, ruang bagi pasar saham juga dipengaruhi kebijakan Bank Indonesia. Hingga keputusan RDG 21–22 Juli 2026, BI-Rate dipertahankan pada level 5,75 persen. Bank Indonesia juga menyatakan akan memperluas kebijakan insentif untuk meningkatkan aliran investasi portofolio asing, memperkuat stabilitas rupiah, serta meningkatkan likuiditas pasar.
Kebijakan tersebut menjadi faktor yang patut dicermati karena pergerakan suku bunga dan nilai tukar dapat memengaruhi keputusan investor dalam mengalokasikan dana ke aset berisiko, termasuk saham.
Bank Indonesia juga masih menghadapi ketidakpastian global yang relatif tinggi. Karena itu, kebijakan moneter tidak hanya diarahkan untuk mendukung pertumbuhan, tetapi juga menjaga stabilitas rupiah dan inflasi.
Dari perspektif pasar modal, kondisi tersebut membuat kuartal III 2026 menjadi periode yang penuh tarik-menarik. Di satu sisi terdapat peluang dari prospek pertumbuhan ekonomi, target investasi pemerintah, kebijakan yang mendukung likuiditas, serta potensi masuknya dana asing.
Di sisi lain, investor harus menghadapi risiko volatilitas yang berasal dari pasar global, pergerakan rupiah, kebijakan suku bunga, serta kondisi sosial dan politik domestik.
Stabilitas dalam negeri menjadi salah satu faktor yang turut diperhatikan. Menurut Rully, demonstrasi tidak selalu menjadi masalah bagi pasar selama berlangsung secara tertib dan tidak berkembang menjadi kericuhan. Sebaliknya, eskalasi konflik sosial berpotensi meningkatkan ketidakpastian dan membuat investor lebih berhati-hati.
Dengan demikian, level 6.500–7.000 lebih tepat dibaca sebagai rentang proyeksi, bukan kepastian bahwa IHSG akan mencapai area tersebut. Pergerakan aktual indeks tetap bergantung pada perkembangan fundamental, sentimen global, kebijakan ekonomi, serta terutama kekuatan aliran dana asing.
Jika inflow meningkat dan sentimen terhadap aset Indonesia membaik, IHSG berpeluang menembus level 6.500 dan bergerak menuju area 7.000. Namun, apabila investor asing masih menahan diri, kenaikan indeks kemungkinan berlangsung lebih bertahap.
Bursa Efek Indonesia sendiri terus menyediakan data perdagangan dan statistik pasar sebagai acuan bagi investor untuk memantau perkembangan indeks serta aktivitas perdagangan.
Karena itu, tantangan IHSG pada sisa kuartal III bukan sekadar mengejar angka indeks, tetapi membangun momentum yang didukung arus modal dan fundamental.
Level 7.000 dapat menjadi target optimistis, tetapi kekuatan inflow akan menjadi salah satu ujian terbesar untuk membuktikan apakah penguatan tersebut memiliki tenaga yang cukup.
Editor : Mahendra Aditya