Home Industry Furnitur Kesulitan Gaet Tenaga Kerja, Pelaku Usaha Mulai Lirik Mesin dan Teknologi

M. Khoirul Anwar • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 09:33 WIB
ILUSTRASI: Mesin CNC penunjang industri furnitur.
ILUSTRASI: Mesin CNC penunjang industri furnitur.

 

JEPARA – Perkembangan industri furnitur yang semakin cepat membuat pelaku usaha di Jepara menghadapi tantangan baru. Bukan hanya soal pasar dan pesanan, ketersediaan tenaga kerja juga menjadi persoalan, terutama bagi pelaku usaha kecil dan industri rumahan.

Kondisi tersebut mendorong pelaku usaha mulai melirik penggunaan mesin dan teknologi untuk meningkatkan efisiensi produksi. Langkah itu sekaligus menjadi upaya mengubah pola produksi dari yang sepenuhnya mengandalkan tenaga manusia menuju proses yang lebih efektif dan efisien.

Ketua Umum Asosiasi Pengrajin Kayu Jepara (APKJ) Andriyan Susanto mengatakan kebutuhan terhadap teknologi produksi semakin terasa seiring perkembangan industri furnitur. Pelaku usaha kecil membutuhkan teknologi yang sesuai dengan skala produksinya, termasuk mesin dengan kebutuhan listrik satu phase atau 1 pass.

Menurutnya, sejumlah mesin yang berkembang di pasaran justru lebih banyak menggunakan sistem tiga phase atau 3 pass. Kondisi itu menjadi salah satu tantangan bagi industri rumahan yang ingin melakukan upgrade teknologi.

"UMKM kami standar 1 pass. Yang muncul banyak 3 pass. Industri rumahan membutuhkan mesin yang bisa menyesuaikan dengan kondisi mereka," ujarnya.

Mesin Jadi Solusi Keterbatasan Tenaga Kerja

Persoalan tenaga kerja menjadi salah satu alasan pelaku industri mulai mempertimbangkan penggunaan mesin. Industri furnitur yang berkembang dan cenderung padat karya membuat kebutuhan tenaga kerja tetap tinggi.

Di sisi lain, pelaku usaha semakin kesulitan mendapatkan tenaga kerja untuk sejumlah proses produksi.

Andriyan menilai penggunaan mesin bukan berarti sepenuhnya menggantikan tenaga manusia. Teknologi justru diarahkan untuk membantu proses produksi agar lebih cepat, presisi, dan efisien.

"UMKM harus mulai moving ke industri. Bukan berarti tenaga kerja dihilangkan, tetapi bagaimana mengalihkan pekerjaan ke proses yang lebih efektif dan efisien. Skill tenaga kerja juga harus di-upgrade," jelasnya.

Menurutnya, perubahan tersebut membutuhkan peningkatan keterampilan pekerja agar mampu mengoperasikan dan mengelola teknologi produksi. Dengan demikian, transformasi industri tidak hanya berbicara mengenai pengadaan mesin, tetapi juga peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Ubah Citra Furnitur di Kalangan Anak Muda

Penggunaan mesin dan teknologi juga dinilai dapat membantu mengubah citra pekerjaan di sektor furnitur, terutama di kalangan generasi muda.

Selama ini, pekerjaan produksi furnitur masih kerap dianggap identik dengan pekerjaan berat, kotor, dan mengandalkan tenaga fisik. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam menarik minat anak muda untuk masuk ke industri furnitur.

Andriyan berharap modernisasi proses produksi dapat membuat industri furnitur terlihat lebih menarik bagi generasi muda.

"Anak muda punya image produksi furnitur itu kotor. Dengan menggunakan mesin, harapannya bisa menarik minat anak muda untuk menggeluti furnitur," katanya.

Karena itu, menurutnya, peningkatan teknologi harus berjalan beriringan dengan peningkatan keterampilan. Industri furnitur membutuhkan generasi baru yang tidak hanya mampu bekerja secara manual, tetapi juga memahami mesin, teknologi produksi, hingga sistem digital.

IFMAC & WOODMAC Jadi Ruang Melihat Teknologi

Kebutuhan terhadap mesin dan teknologi tersebut menjadi salah satu perhatian dalam Roadshow IFMAC & WOODMAC 2026 di Jepara, Selasa (11/8/2026).

Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi pelaku industri furnitur dan pengolahan kayu untuk melihat perkembangan teknologi sekaligus mendapatkan informasi mengenai berbagai solusi produksi.

Roadshow mengusung tema “Kolaborasi, Inovasi, dan Peluang Bisnis untuk Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu”. Kegiatan mempertemukan pelaku industri, asosiasi, penyedia teknologi, akademisi, serta pemangku kepentingan untuk bertukar informasi, memperluas jaringan, dan membuka peluang bisnis.

Project Director IFMAC & WOODMAC 2026 Cloudinia J. Dieter mengatakan IFMAC & WOODMAC menyediakan berbagai pilihan kebutuhan industri, mulai dari mesin dan teknologi produksi, tools, software, hingga bahan baku dan berbagai pendukung proses manufaktur.

Pameran tersebut juga menghadirkan peserta dari berbagai negara sehingga pelaku industri dapat melihat perkembangan teknologi sekaligus membuka peluang jejaring bisnis.

IFMAC & WOODMAC 2026 akan diikuti sekitar 300 peserta dari 20 negara, dengan berbagai pilihan mesin, tools, software, material, dan teknologi yang berkaitan dengan industri furnitur serta pengolahan kayu.

Dalam roadshow di Jepara, sejumlah exhibitor juga memperkenalkan teknologi produksi, termasuk CNC Five-Axis Turning & Milling, solusi fastener, serta pemanfaatan teknologi AI dalam desain interior.

Pameran Digelar September

IFMAC & WOODMAC 2026 dijadwalkan berlangsung pada 23–26 September 2026 di Hall B3 & C3, JIExpo Kemayoran, Jakarta.

Pameran tersebut menghadirkan mesin dan teknologi produksi, material, komponen dan aksesori, tools dan cutting solutions, finishing, serta berbagai teknologi pendukung industri furnitur dan pengolahan kayu. Pengunjung juga dapat menyaksikan demonstrasi mesin secara langsung serta mengikuti seminar dan technical sessions.

Bagi pelaku industri furnitur Jepara, perkembangan tersebut menjadi peluang untuk melakukan upgrade secara bertahap. Teknologi diharapkan tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga membantu menjawab persoalan tenaga kerja sekaligus membuat industri furnitur lebih adaptif terhadap perkembangan zaman.





Editor : Admin
Teknologi Furnitur IFMAC WOODMAC 2026 jepara umkm jepara industri furnitur