RADAR KUDUS - IHSG berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan Senin, 10 Agustus 2026, bertepatan dengan peringatan 49 tahun beroperasinya kembali pasar modal Indonesia. Indeks sebelumnya ditutup di level 6.409 setelah menguat 2,78% dalam sepekan dan berhasil menembus level psikologis 6.400.
Kondisi tersebut membuka ruang bagi IHSG untuk menguji resistance berikutnya di kisaran 6.425–6.450. Namun, kemampuan indeks mempertahankan posisi di atas 6.400 menjadi kunci karena level tersebut berpotensi berubah fungsi menjadi area support baru.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menilai momentum penguatan masih cukup terbuka. Dalam risetnya, ia menempatkan support IHSG pada rentang 6.400–6.350 dan resistance 6.425–6.450.
Penguatan IHSG tidak berdiri sendiri. Dari dalam negeri, pasar memperoleh dukungan dari sejumlah indikator ekonomi yang relatif solid. Berdasarkan data yang tercantum dalam bahan riset, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 mencapai 5,29% secara tahunan.
Baca Juga: Harga Emas Pegadaian 10 Agustus 2026 Kompak Naik, Antam Tembus Rp2,798 Juta per Gram
Angka tersebut memperlihatkan aktivitas ekonomi nasional masih tumbuh di tengah berbagai tekanan eksternal. Sebagai pembanding, BPS sebelumnya mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% pada kuartal I 2026 secara tahunan.
Kinerja korporasi juga menjadi perhatian karena investor mulai mencermati laporan keuangan emiten untuk semester pertama 2026. Apabila pertumbuhan laba dan pendapatan perusahaan mampu bertahan, kondisi tersebut dapat memberikan fondasi fundamental bagi keberlanjutan reli pasar saham.
Sentimen inflasi juga menjadi bagian dari perhatian investor. Data BPS yang tersedia menunjukkan inflasi nasional pada Juni 2026 berada di level 3,34% secara tahunan, dengan inflasi inti 2,76%.
Dari sisi global, perhatian pasar tertuju pada data ketenagakerjaan Amerika Serikat. Data Non-Farm Payrolls Juli yang lebih lemah dari ekspektasi pasar meningkatkan spekulasi bahwa Federal Reserve dapat mengambil sikap moneter yang lebih longgar.
Secara teori, ekspektasi penurunan suku bunga AS dapat menjadi katalis bagi aset berisiko karena investor memperoleh ruang lebih besar untuk mengalihkan dana ke pasar saham maupun pasar negara berkembang.
Arus modal asing juga menjadi salah satu faktor yang diperhatikan. Berdasarkan riset BRI Danareksa Sekuritas dalam bahan tersebut, investor asing mencatat net foreign buy sekitar Rp917 miliar pada perdagangan terakhir.
Jika aliran dana asing berlanjut, tekanan beli dapat membantu IHSG mempertahankan momentum positif. Namun, investor tetap perlu memperhatikan risiko pembalikan arah apabila indeks gagal bertahan di atas 6.400.
Dalam situasi tersebut, sejumlah saham masuk radar perdagangan berdasarkan analisis teknikal BRI Danareksa Sekuritas.
PT J Resources Asia Pasifik Tbk. (PSAB) direkomendasikan Buy untuk strategi swing trade. Saham ini ditutup di Rp462 dengan target harga Rp476–Rp496 dan batas risiko atau stop loss di bawah Rp436.
Berikutnya, PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI) juga mendapat rekomendasi Buy untuk swing trade. Harga penutupan berada di Rp1.235, dengan target Rp1.260–Rp1.315 dan stop loss di bawah Rp1.165.
PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) masuk daftar untuk strategi day trade dengan rekomendasi Buy. Saham tersebut ditutup pada Rp615, sementara target harga ditempatkan di Rp640–Rp690. Stop loss berada di bawah Rp580.
Baca Juga: Harga Buyback Emas Pegadaian Naik Serentak, Antam dan UBS Rp2,49 Juta per Gram
Sementara itu, PT Platinum Wahab Nusantara Tbk. (TGUK) justru mendapatkan rekomendasi Sell. Harga penutupan saham berada di Rp112 dengan target penurunan menuju Rp102.
Perbedaan rekomendasi tersebut menunjukkan bahwa prospek positif IHSG tidak otomatis berarti seluruh saham akan bergerak naik. Pergerakan setiap emiten tetap bergantung pada kondisi fundamental, likuiditas, tren harga, sentimen sektor dan faktor spesifik perusahaan.
Bagi investor, level 6.400 menjadi angka penting untuk diperhatikan pada perdagangan awal pekan. Jika IHSG mampu bertahan di atas level tersebut, peluang pengujian 6.425–6.450 semakin terbuka. Sebaliknya, kegagalan mempertahankan 6.400 dapat memicu aksi ambil untung dan membawa indeks kembali menguji area support 6.350.
Momentum tersebut hadir bersamaan dengan peringatan 49 tahun pasar modal Indonesia. Bursa Efek Indonesia mencatat tonggak kebangkitan pasar modal Indonesia pada 10 Agustus 1977, ketika Bursa Efek Jakarta kembali diaktifkan setelah sebelumnya mengalami periode panjang aktivitas yang sangat terbatas.
Dalam hampir lima dekade, pasar modal Indonesia telah berkembang menjadi salah satu instrumen utama penghimpunan dana perusahaan dan investasi masyarakat. Karena itu, capaian IHSG pada momentum HUT pasar modal memiliki nilai simbolis sekaligus menjadi cerminan ekspektasi investor terhadap perekonomian.
Namun, reli pasar tidak pernah berlangsung tanpa risiko. Penguatan dalam waktu singkat dapat diikuti aksi profit taking, terutama ketika indeks mulai mendekati area resistance.
Kondisi global juga tetap perlu dicermati. Perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed, pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi, harga komoditas, serta ketegangan geopolitik dapat dengan cepat mengubah arah arus modal ke pasar berkembang.
Di dalam negeri, investor juga perlu memperhatikan stabilitas rupiah, perkembangan inflasi, kebijakan Bank Indonesia, serta kualitas kinerja keuangan emiten.
Dengan posisi IHSG di 6.409, pasar kini berada di persimpangan penting. Penembusan 6.400 memberikan sinyal teknikal positif, tetapi konfirmasi berikutnya akan ditentukan oleh kemampuan indeks menembus dan bertahan di atas 6.425–6.450.
Empat saham yang menjadi perhatian BRI Danareksa—PSAB, ARCI, BRMS dan TGUK—dapat menjadi referensi bagi pelaku pasar yang menggunakan pendekatan teknikal. Namun, rekomendasi tersebut bersifat spesifik terhadap strategi dan horizon perdagangan sehingga tidak dapat dianggap sebagai jaminan keuntungan.
Investor tetap perlu melakukan analisis mandiri, menyesuaikan risiko dengan profil masing-masing dan tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan target harga jangka pendek.
Editor : Mahendra Aditya