RADAR KUDUS - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan Jumat, 7 Agustus 2026. Setelah ditutup melemah pada sesi sebelumnya, pelaku pasar kini memilih bersikap lebih hati-hati sambil menunggu sejumlah data ekonomi penting dari dalam maupun luar negeri yang berpotensi menentukan arah pasar dalam jangka pendek.
Sejumlah analis memperkirakan IHSG akan bergerak terbatas atau sideways di kisaran level 6.300 hingga 6.400. Sentimen domestik yang relatif positif masih tertahan oleh aksi ambil untung, arus keluar dana asing, serta meningkatnya sikap wait and see investor menjelang rilis berbagai indikator ekonomi.
Pada perdagangan Kamis (6/8/2026), IHSG ditutup melemah 0,12 persen atau turun 7,43 poin ke posisi 6.343,71. Meski koreksinya tergolong tipis, tekanan jual dari investor asing menjadi salah satu faktor utama yang membatasi ruang penguatan indeks.
Baca Juga: Trump Resmi Terapkan Tarif 15 Persen untuk Polysilicon, AS Perketat Impor Demi Hadang Dominasi China
Data perdagangan menunjukkan investor asing membukukan net sell sekitar Rp217,24 miliar di seluruh pasar. Saham-saham berkapitalisasi besar menjadi sasaran utama aksi jual, di antaranya PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Hartadinata Abadi Tbk (EMAS), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), serta PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).
Meskipun demikian, fundamental ekonomi Indonesia masih memberikan dukungan terhadap pasar modal. Pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II 2026 tetap berada di atas lima persen secara tahunan, sementara inflasi masih relatif terkendali sehingga memberikan ruang bagi stabilitas ekonomi domestik.
Fokus utama investor hari ini tertuju pada publikasi data cadangan devisa Indonesia periode Juli 2026 yang akan diumumkan Bank Indonesia. Posisi cadangan devisa menjadi indikator penting kemampuan bank sentral menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus memenuhi kebutuhan pembiayaan eksternal negara.
Pada Juni 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$145,6 miliar, meningkat dibandingkan posisi Mei yang berada di level US$144,9 miliar. Meskipun naik tipis, posisi Mei sebelumnya merupakan salah satu titik terendah dalam hampir dua tahun terakhir akibat tekanan terhadap nilai tukar rupiah di tengah dinamika pasar keuangan global.
Baca Juga: IHSG Diprediksi Uji Level 6.400, Analis Unggulkan Saham TPIA, CDIA dan DSSA, BACH Disarankan Jual
Selain cadangan devisa, pelaku pasar juga mencermati perkembangan sektor properti nasional. Data terbaru menunjukkan Indeks Harga Properti Residensial meningkat menjadi sekitar 0,8 persen secara tahunan pada triwulan II 2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 0,62 persen pada triwulan sebelumnya. Kenaikan tersebut menjadi sinyal bahwa aktivitas sektor properti mulai menunjukkan pemulihan seiring membaiknya permintaan domestik.
Sentimen lain berasal dari agenda pemerintah yang akan menggelar lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) pada pekan depan. Pemerintah menargetkan penghimpunan dana sekitar Rp10 triliun melalui penawaran delapan seri SBSN. Hasil lelang akan menjadi salah satu indikator minat investor terhadap instrumen surat utang negara sekaligus mencerminkan kondisi likuiditas pasar keuangan domestik.
Dari pasar internasional, perhatian investor tertuju pada data neraca perdagangan China yang menjadi indikator penting kondisi aktivitas ekspor-impor negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia. Kinerja perdagangan China memiliki pengaruh besar terhadap harga komoditas global, termasuk batu bara, nikel, dan minyak sawit yang menjadi andalan ekspor Indonesia.
Sementara itu, dari Amerika Serikat, pasar menantikan laporan ketenagakerjaan Non-Farm Payrolls (NFP) periode Juli 2026. Konsensus pasar memperkirakan jumlah penambahan tenaga kerja baru mencapai sekitar 80 ribu, meningkat dibandingkan 57 ribu pada bulan sebelumnya.
Di sisi lain, tingkat pengangguran AS diperkirakan bertahan di angka 4,2 persen. Data tersebut akan menjadi acuan utama bagi pelaku pasar dalam membaca arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Apabila pertumbuhan lapangan kerja tercatat lebih rendah dari perkiraan, pasar justru berpotensi merespons positif. Data tenaga kerja yang melemah dapat memperkuat keyakinan investor bahwa tekanan inflasi mulai mereda sehingga peluang penurunan suku bunga acuan oleh The Fed semakin besar.
Sebaliknya, apabila data ketenagakerjaan jauh lebih kuat dari ekspektasi, pasar dapat kembali mengkhawatirkan kebijakan moneter yang lebih ketat karena ekonomi AS dinilai masih terlalu kuat untuk segera mendapatkan pelonggaran suku bunga.
Kombinasi sentimen domestik dan global tersebut diperkirakan membuat pergerakan IHSG cenderung fluktuatif sepanjang perdagangan hari ini. Investor jangka pendek diperkirakan akan lebih selektif dalam melakukan transaksi sambil menunggu kepastian arah kebijakan moneter global dan hasil rilis data ekonomi yang menjadi penentu sentimen pasar.
Dalam kondisi seperti ini, pelaku pasar disarankan tetap menerapkan manajemen risiko dengan memperhatikan level support dan resistance IHSG, menghindari keputusan investasi berdasarkan sentimen sesaat, serta lebih mengutamakan saham-saham yang memiliki fundamental kuat dan kinerja keuangan yang solid di tengah volatilitas pasar.
Editor : Mahendra Aditya