Trump Resmi Terapkan Tarif 15 Persen untuk Polysilicon, AS Perketat Impor Demi Hadang Dominasi China

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 08:08 WIB
Potret Donald Trump
Potret Donald Trump

RADAR KUDUS - Pemerintah Amerika Serikat kembali memperketat kebijakan perdagangannya terhadap produk strategis yang berkaitan dengan industri teknologi dan energi bersih.

Presiden Donald Trump resmi menetapkan tarif impor sebesar 15 persen untuk berbagai produk berbahan dasar polysilicon, sekaligus memberlakukan harga minimum impor sebagai langkah memperkuat industri manufaktur dalam negeri dan mengurangi dominasi China pada rantai pasok global.

Kebijakan tersebut diumumkan Gedung Putih pada Kamis (6/8/2026) melalui proklamasi yang mengacu pada Section 232 Trade Expansion Act 1962, aturan yang memberikan kewenangan kepada pemerintah Amerika Serikat untuk membatasi impor apabila dinilai berkaitan dengan kepentingan keamanan nasional.

Regulasi baru itu dijadwalkan mulai berlaku pada 4 Desember 2026 dan menjadi bagian dari strategi Washington untuk memperkuat kapasitas produksi domestik di sektor semikonduktor serta energi surya yang selama ini masih sangat bergantung pada pasokan luar negeri, khususnya dari China.

Baca Juga: IHSG Diprediksi Uji Level 6.400, Analis Unggulkan Saham TPIA, CDIA dan DSSA, BACH Disarankan Jual

Selain mengenakan tarif impor 15 persen, pemerintah AS juga menetapkan mekanisme harga minimum impor (price floor) terhadap sejumlah produk berbasis polysilicon. Kebijakan ini dimaksudkan untuk mencegah masuknya produk impor berharga murah yang dinilai dapat menekan daya saing produsen lokal.

Berdasarkan ketentuan yang diterbitkan Gedung Putih, harga minimum impor ditetapkan sebagai berikut:

Dengan adanya batas harga tersebut, importir tidak dapat memasukkan produk di bawah nilai minimum yang telah ditetapkan pemerintah Amerika Serikat.

Polysilicon merupakan material silikon dengan tingkat kemurnian sangat tinggi yang menjadi komponen utama dalam industri teknologi modern. Bahan ini digunakan sebagai material dasar untuk memproduksi wafer silikon yang kemudian diproses menjadi chip semikonduktor, sel surya, hingga panel surya.

Karena perannya yang sangat vital, polysilicon menjadi salah satu komoditas strategis dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI), pusat data (data center), kendaraan listrik, perangkat elektronik, hingga transisi energi bersih melalui pembangkit listrik tenaga surya.

Selama beberapa tahun terakhir, China menguasai sebagian besar kapasitas produksi polysilicon dunia. Berbagai laporan industri menunjukkan bahwa produsen asal China mengendalikan mayoritas rantai pasok global mulai dari pemurnian polysilicon, produksi wafer, sel surya hingga modul panel surya.

Dominasi tersebut membuat banyak negara, termasuk Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa, berupaya membangun kembali industri domestik agar tidak terlalu bergantung pada pasokan dari luar negeri.

Kebijakan terbaru Trump dinilai sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan industri nasional sekaligus mengurangi risiko gangguan rantai pasok global. Langkah tersebut juga sejalan dengan kebijakan industrialisasi yang sebelumnya diterapkan melalui berbagai insentif manufaktur dan investasi teknologi tinggi.

Selain menerapkan tarif dan harga minimum impor, pemerintah AS memberikan mandat kepada Departemen Perdagangan untuk menyusun program insentif bagi perusahaan yang bersedia membangun atau memperluas fasilitas produksi polysilicon beserta industri turunannya di wilayah Amerika Serikat.

Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini 7 Agustus 2026 Melonjak ke Rp 2,679 Juta per Gram, Spread Buyback Masih Rp 189.000, Layak Beli Sekarang?

Insentif tersebut diharapkan mampu menarik investasi baru, memperbesar kapasitas produksi dalam negeri, menciptakan lapangan kerja, sekaligus memperkuat posisi Amerika Serikat dalam persaingan industri semikonduktor global.

Kebijakan ini diperkirakan akan memberikan dampak terhadap rantai pasok internasional. Di satu sisi, produsen dalam negeri AS berpotensi memperoleh perlindungan lebih besar dari persaingan produk impor berharga murah.

Namun di sisi lain, biaya produksi sektor energi surya dan manufaktur elektronik berpotensi meningkat apabila harga bahan baku ikut terdorong naik.

Pelaku industri juga mencermati kemungkinan respons dari China terhadap kebijakan tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan dagang kedua negara kerap diwarnai kebijakan tarif balasan yang memengaruhi perdagangan global serta menciptakan volatilitas pada pasar komoditas dan sektor teknologi.

Bagi pasar global, keputusan Washington ini menjadi sinyal bahwa persaingan antara Amerika Serikat dan China kini tidak lagi sebatas perang tarif konvensional, melainkan telah bergeser ke perebutan kendali atas industri strategis masa depan.

Semikonduktor, energi terbarukan, kendaraan listrik, hingga bahan baku berteknologi tinggi kini menjadi fokus utama dalam kompetisi ekonomi kedua negara yang diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa tahun ke depan.

Editor : Mahendra Aditya
Tarif Trump 2026 Polysilicon Donald Trump China Semikonduktor AS Panel Surya Amerika