IHSG Diprediksi Uji Level 6.400, Analis Unggulkan Saham TPIA, CDIA dan DSSA, BACH Disarankan Jual

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 08:06 WIB
Ilustrasi saham
Ilustrasi saham

RADAR KUDUS - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih memiliki peluang melanjutkan penguatan pada perdagangan Jumat, 7 Agustus 2026. Setelah terkoreksi tipis pada sesi sebelumnya akibat aksi ambil untung investor, sejumlah analis menilai tren pasar saham Indonesia tetap berada dalam jalur positif dengan target menguji level psikologis 6.400.

Pada penutupan perdagangan Kamis (6/8/2026), IHSG melemah 7,43 poin atau 0,12 persen ke posisi 6.343,71. Meski berakhir di zona merah, indeks sempat menyentuh level intraday 6.388 yang menunjukkan minat beli masih cukup kuat.

Koreksi tersebut lebih banyak dipengaruhi aksi profit taking setelah reli yang berlangsung selama beberapa hari terakhir dibandingkan perubahan fundamental pasar.

Dari sisi domestik, sentimen positif masih mendominasi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 tercatat sebesar 5,29 persen secara tahunan (year on year), melampaui proyeksi sebagian besar pelaku pasar.

Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini 7 Agustus 2026 Melonjak ke Rp 2,679 Juta per Gram, Spread Buyback Masih Rp 189.000, Layak Beli Sekarang?

Capaian tersebut memperkuat optimisme bahwa aktivitas ekonomi nasional tetap solid di tengah ketidakpastian global.

Selain pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dari ekspektasi, penurunan angka kemiskinan dan tingkat pengangguran turut menjadi faktor pendukung kepercayaan investor.

Pemerintah juga telah menyiapkan tambahan stimulus ekonomi pada semester kedua 2026 untuk menjaga daya beli masyarakat, mempercepat investasi, serta mempertahankan momentum pertumbuhan nasional.

Dari pasar global, perhatian investor masih tertuju pada perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang mulai menunjukkan sinyal mereda. Di saat bersamaan, pelaku pasar juga berharap bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), segera memasuki siklus pelonggaran kebijakan moneter setelah tekanan inflasi di negara tersebut terus menunjukkan tren melandai. Harapan penurunan suku bunga biasanya menjadi katalis positif bagi pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia.

Investor domestik juga mencermati sejumlah agenda penting yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan pasar dalam jangka pendek. Salah satunya adalah keputusan pemerintah terkait calon Gubernur Bank Indonesia yang diperkirakan diumumkan dalam waktu dekat. Figur yang terpilih akan menjadi perhatian karena menentukan arah kebijakan moneter, stabilitas inflasi, serta pergerakan nilai tukar rupiah.

Selain itu, pasar juga menunggu rilis data cadangan devisa Indonesia yang diperkirakan tetap berada di kisaran 145,6 miliar dolar Amerika Serikat. Posisi cadangan devisa yang tinggi dinilai menjadi indikator kuat kemampuan Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas pasar global.

Pelaku pasar juga akan mencermati data Indeks Harga Properti yang diproyeksikan tumbuh sekitar 0,8 persen secara tahunan. Peningkatan sektor properti dinilai menjadi salah satu indikator bahwa konsumsi domestik dan aktivitas investasi masih bergerak positif.

Dari kawasan Asia, perhatian investor mengarah pada publikasi neraca perdagangan China. Negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut diperkirakan masih membukukan surplus perdagangan sekitar 107 miliar dolar AS. Data tersebut penting karena mencerminkan kondisi permintaan global sekaligus menjadi indikator aktivitas perdagangan internasional yang berpengaruh terhadap berbagai sektor di Bursa Efek Indonesia, terutama komoditas dan manufaktur.

Secara teknikal, analis BRI Danareksa Sekuritas menilai IHSG masih berada dalam tren naik selama mampu bertahan di atas area support 6.270 hingga 6.300. Apabila indeks berhasil menembus sekaligus bertahan di atas level 6.400, maka peluang memasuki fase penguatan baru semakin terbuka dengan target kenaikan yang lebih tinggi dalam beberapa sesi perdagangan berikutnya.

Meski demikian, investor tetap diminta mewaspadai sentimen negatif dari bursa Amerika Serikat. Pada perdagangan Kamis waktu setempat, indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,85 persen, diikuti pelemahan S&P 500 sebesar 0,18 persen dan Nasdaq Composite yang terkoreksi tipis 0,06 persen. Koreksi Wall Street berpotensi memengaruhi psikologi pasar Asia pada pembukaan perdagangan.

Sejumlah saham juga menjadi perhatian analis untuk strategi perdagangan jangka pendek.

PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) masih mempertahankan tren kenaikan yang cukup kuat. Pergerakan harga mulai mendekati area resistance penting di level 2.200.

Jika berhasil menembus level tersebut, peluang penguatan menuju kisaran 2.285 semakin terbuka. Analis merekomendasikan akumulasi beli pada rentang harga Rp2.050 hingga Rp2.150 dengan target pertama Rp2.200 dan target lanjutan Rp2.285. Investor disarankan menerapkan batas kerugian apabila harga turun di bawah Rp1.995.

PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) juga menunjukkan sinyal pemulihan setelah memantul dari area support Rp654. Saat ini saham bergerak menguji resistance di level Rp735. Apabila mampu melakukan breakout, harga berpotensi melanjutkan penguatan menuju Rp790. Area beli yang direkomendasikan berada pada kisaran Rp650 hingga Rp700 dengan stop loss di bawah Rp640.

PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mengonfirmasi pola breakout setelah berhasil bergerak di atas level Rp950. Kondisi tersebut menunjukkan momentum bullish masih terjaga. Selama harga bertahan di atas area tersebut, saham memiliki peluang melanjutkan kenaikan menuju kisaran Rp1.000 hingga Rp1.035. Strategi yang disarankan adalah buy di area Rp950 hingga Rp970 dengan batas risiko apabila harga turun di bawah Rp900.

Berbeda dengan tiga saham sebelumnya, PT Bach Multi Global Tbk (BACH) justru mulai menunjukkan sinyal pelemahan. Setelah mengalami reli yang cukup tinggi dalam beberapa waktu terakhir, saham ini membentuk pola bearish candle berukuran besar yang mengindikasikan tekanan aksi ambil untung.

Selama belum mampu kembali menembus level tertinggi sebelumnya, peluang koreksi masih terbuka dengan area Rp570 sebagai support terdekat. Oleh karena itu, analis lebih menyarankan aksi jual atau mengurangi posisi pada saham ini dibandingkan melakukan pembelian baru.

Secara keseluruhan, prospek IHSG masih relatif konstruktif selama faktor fundamental domestik tetap solid dan sentimen global tidak mengalami perubahan signifikan. Investor disarankan tetap menerapkan manajemen risiko, memperhatikan level support dan resistance, serta tidak hanya mengandalkan analisis teknikal, tetapi juga mencermati perkembangan data ekonomi dan kebijakan yang dapat memengaruhi arah pasar dalam beberapa pekan mendatang.

Editor : Mahendra Aditya
Saham TPIA Saham CDIA Analisis IHSG 7 Agustus 2026 ihsg hari ini rekomendasi saham hari ini