IHSG Terbang ke 6.272, Target 6.300 di Depan Mata, Tapi Ada Ancaman Koreksi

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 09:47 WIB
Ilustrasi orang sedang investasi saham
Ilustrasi orang sedang investasi saham

Jakarta — Bursa saham Indonesia mengawali pekan dengan sinyal positif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung melesat 36,61 poin atau 0,59 persen ke level 6.272,61 pada pembukaan perdagangan Senin, 3 Agustus 2026.

Kenaikan tersebut menjadi kelanjutan momentum positif dari perdagangan sebelumnya, ketika IHSG ditutup di level 6.236,00. Namun, penguatan indeks belum sepenuhnya mencerminkan derasnya arus dana ke pasar saham domestik. Investor asing masih membukukan aksi jual bersih sekitar Rp35 miliar.

Dengan kondisi tersebut, kenaikan IHSG pada awal perdagangan justru menghadirkan pertanyaan baru: apakah indeks mampu menembus sekaligus bertahan di atas level psikologis 6.300?

Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman menilai ruang penguatan masih terbuka. Menurut proyeksinya, IHSG berpeluang menguji resistance kuat di sekitar 6.300. Akan tetapi, kegagalan menembus area tersebut dapat membuka ruang bagi indeks untuk kembali terkoreksi.

Untuk perdagangan hari ini, area support IHSG diperkirakan berada pada 6.120–6.200, sedangkan resistance berada di kisaran 6.270–6.300. Artinya, posisi indeks saat pembukaan sudah berada di area resistance awal sehingga pergerakan berikutnya akan sangat menentukan apakah reli mampu berlanjut atau justru kehilangan tenaga.

Tekanan dari investor asing juga patut diperhatikan. Sejumlah saham besar menjadi sasaran aksi jual, antara lain BBCA, AMMN, ANTM, UNTR, dan TLKM. Fenomena ini menunjukkan bahwa kenaikan IHSG belum otomatis berarti investor asing kembali agresif mengakumulasi saham-saham domestik.

Di sisi lain, sentimen global masih menjadi faktor yang berpotensi mengubah arah pasar dengan cepat. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi perhatian karena dapat kembali mengerek harga energi dan menciptakan tekanan inflasi.

Pergerakan minyak dunia menjadi salah satu indikator yang diawasi pasar. Dalam data yang menjadi perhatian investor, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar US$84,68 per barel, sementara Brent mencapai sekitar US$90,12 per barel. Kenaikan harga energi dapat menjadi persoalan bagi pasar saham apabila berujung pada peningkatan tekanan inflasi dan mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter.

Faktor Amerika Serikat juga tidak kalah penting. Ketua Federal Reserve Kevin Warsh kini menjadi salah satu figur yang diperhatikan investor global. Warsh mulai menjabat sebagai Ketua The Fed pada 22 Mei 2026, menggantikan Jerome Powell.

Pada rapat akhir Juli, The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50–3,75 persen. Namun, keputusan tersebut disertai perbedaan pandangan yang cukup tajam di antara para pejabat bank sentral Amerika Serikat. Tiga pejabat bahkan memilih kenaikan suku bunga, memperlihatkan bahwa persoalan inflasi masih menjadi perhatian serius.

Situasi tersebut menjadi penting bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Kebijakan The Fed yang lebih ketat berpotensi memengaruhi arus modal global, imbal hasil aset dolar AS, nilai tukar mata uang negara berkembang, hingga minat investor terhadap saham.

Dari dalam negeri, perhatian pasar pada awal Agustus tertuju pada rangkaian data ekonomi yang akan keluar dalam beberapa hari ke depan. Bank Indonesia mencatat agenda awal Agustus mencakup data inflasi Juli, pertumbuhan ekonomi kuartal II 2026, cadangan devisa Juli, neraca perdagangan Juli, serta survei harga properti residensial kuartal II.

Data tersebut menjadi penting karena pasar saham tidak hanya membutuhkan pertumbuhan indeks, tetapi juga kepastian mengenai kekuatan fundamental ekonomi. Kinerja ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 sebelumnya tercatat tumbuh 5,61 persen secara tahunan. Pemerintah juga menyebut inflasi tetap terkendali, cadangan devisa kuat, investasi mencapai Rp498,8 triliun, serta neraca perdagangan mencatat surplus selama 72 bulan berturut-turut.

Sementara itu, posisi kebijakan moneter domestik juga menjadi salah satu penopang yang diperhatikan investor. Bank Indonesia mencatat BI-Rate berada di level 5,75 persen pada 22 Juli 2026. Cadangan devisa Indonesia mencapai US$145,594 miliar per akhir Juni 2026.

Kombinasi data tersebut memberikan fondasi positif bagi pasar. Namun, investor tetap perlu melihat apakah sentimen fundamental tersebut cukup kuat untuk mengimbangi risiko eksternal, terutama jika harga minyak kembali naik dan ketidakpastian geopolitik meningkat.

Sentimen positif lain datang dari perkembangan harga BBM nonsubsidi. Penurunan harga minyak dan evaluasi harga energi menjadi salah satu faktor yang dinilai dapat membantu menekan biaya serta memberikan ruang positif bagi aktivitas ekonomi. Sebelumnya, harga Pertamax sempat melonjak menjadi Rp16.250 per liter pada Juni 2026 setelah tekanan harga energi meningkat.

Bagi IHSG, persoalan utama pada perdagangan Senin bukan sekadar apakah indeks mampu mempertahankan warna hijau. Level 6.300 menjadi titik krusial yang akan menentukan kekuatan momentum berikutnya.

Jika IHSG mampu menembus dan bertahan di atas 6.300 dengan dukungan volume transaksi serta membaiknya aliran dana asing, peluang penguatan lanjutan akan semakin terbuka. Sebaliknya, apabila indeks kembali gagal melewati resistance tersebut, pelaku pasar perlu mengantisipasi aksi ambil untung dan potensi pelemahan menuju area support 6.200.

Dengan demikian, pembukaan IHSG di 6.272,61 memberikan kabar positif, tetapi belum dapat dianggap sebagai tanda bahwa tekanan pasar telah sepenuhnya berakhir. Investor masih menghadapi persimpangan antara momentum domestik yang cukup solid dan risiko global yang dapat berubah sewaktu-waktu.

Perdagangan awal pekan ini pun menjadi ujian penting. IHSG sudah mendekati 6.300, tetapi justru di titik tersebut kekuatan pembeli akan benar-benar diuji. Jika berhasil melewati batas tersebut, sentimen pasar berpotensi semakin positif. Namun jika kembali tertahan, level 6.200 akan menjadi kawasan yang patut diperhatikan investor.

Editor : Mahendra Aditya
IHSG 3 Agustus 2026 prediksi ihsg bursa efek indonesia ihsg hari ini saham Indonesia