RADAR KUDUS – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Jumat (31/7/2026).
Setelah sehari sebelumnya tertekan, mata uang Garuda berhasil bangkit seiring perkembangan sentimen di pasar keuangan global.
Mengacu pada data Bloomberg hingga pukul 09.05 WIB, rupiah menguat 37 poin atau sekitar 0,20 persen ke posisi Rp18.074 per dolar AS.
Di sisi lain, indeks dolar AS juga tercatat menguat sekitar 0,34 persen ke level 100,201.
Sehari sebelumnya, Kamis (30/7/2026), rupiah harus mengakhiri perdagangan di zona merah.
Saat itu mata uang domestik melemah 38 poin atau 0,21 persen sehingga ditutup di level Rp18.111 per dolar AS.
Pergerakan nilai tukar di pasar global juga dipengaruhi oleh lonjakan nilai mata uang yen Jepang.
Berdasarkan laporan Yahoo Finance, yen mencatat penguatan paling tajam terhadap dolar AS sejak 2022.
Kondisi tersebut memunculkan dugaan adanya intervensi dari pemerintah Jepang untuk menopang nilai mata uangnya.
Dalam perdagangan Kamis, yen sempat menguat hingga sekitar 3 persen dan menyentuh level 158,34 per dolar AS.
Meski demikian, posisi tersebut masih lebih rendah dibandingkan level terlemahnya dalam hampir empat dekade yang sempat mendekati 164 per dolar AS pada awal pekan.
Tak hanya terhadap dolar AS, yen juga menguat lebih dari 2 persen terhadap euro dan poundsterling Inggris, serta hampir 2 persen terhadap dolar Australia.
Pelaku pasar kini menantikan keputusan terbaru Bank Sentral Jepang mengenai suku bunga yang dijadwalkan diumumkan pada Jumat.
Sebelumnya, bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve) memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya, keputusan yang turut memengaruhi arah pergerakan dolar AS di pasar global.
Kepala Strategi Valuta Asing Mitsubishi UFJ Morgan Stanley Securities, Daisaku Ueno, menilai penguatan yen yang berlangsung sangat cepat sulit dijelaskan tanpa adanya intervensi di pasar valuta asing.
Menurutnya, jika memang terdapat intervensi dari otoritas Jepang, waktu pelaksanaannya kemungkinan sengaja dipilih setelah perhatian pasar tertuju pada hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) dan Bank Sentral Jepang, sehingga memberikan efek kejutan bagi pelaku pasar.
Editor : Ali Mustofa