JAKARTA – Arus modal asing kembali menghiasi perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada sesi pertama perdagangan Kamis (16/7/2026), investor asing membukukan net foreign buy sebesar Rp1,01 triliun, bertepatan dengan penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang bergerak mendekati level psikologis 6.100.
Namun, besarnya nilai beli bersih tersebut bukan sepenuhnya berasal dari aktivitas akumulasi di pasar reguler. Sebagian besar dipicu oleh transaksi negosiasi bernilai jumbo pada saham PT Paragon Karya Perkasa Tbk. (PKPK) yang mencapai sekitar Rp1,44 triliun.
IHSG sendiri mengakhiri sesi pertama di level 6.064,46, naik 22,49 poin atau 0,37 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Aktivitas perdagangan berlangsung cukup ramai dengan nilai transaksi sekitar Rp7,51 triliun, melibatkan 15,55 miliar saham dalam 1,42 juta kali transaksi.
Baca Juga: IHSG Melesat 1,1% ke Level 6.108, Saham Perbankan dan AMMN Jadi Motor Penguatan Bursa
Transaksi Jumbo PKPK Angkat Nilai Net Buy Asing
Berdasarkan data perdagangan dan keterbukaan informasi emiten, lonjakan nilai pembelian bersih asing dipengaruhi oleh perpindahan kepemilikan saham PKPK melalui mekanisme pasar negosiasi.
Transaksi tersebut mencakup pengalihan 900 juta lembar saham, setara 75 persen modal ditempatkan dan disetor penuh, dengan harga transaksi Rp1.600 per saham. Nilai keseluruhannya mencapai sekitar Rp1,44 triliun.
Saham yang dialihkan sebelumnya dimiliki PT Deli Putra Bangsa dan seluruh kepemilikannya berpindah kepada dua perusahaan yang masih berada dalam kelompok usaha yang sama, yaitu:
-
Resources Global Development Limited memperoleh 612 juta saham atau setara 51 persen kepemilikan.
-
PT Deli Pratama Nusantara menerima 288 juta saham atau sekitar 24 persen.
Dengan demikian, transaksi tersebut merupakan restrukturisasi kepemilikan internal dan bukan aksi akuisisi maupun pergantian pengendali perusahaan.
Tidak Ada Perubahan Pengendali
Manajemen PKPK menegaskan bahwa transaksi tersebut tidak mengubah struktur kepemilikan pengendali maupun kondisi fundamental perusahaan.
Perseroan menyampaikan bahwa setelah pengalihan saham:
-
tidak terjadi perubahan pengendali;
-
tidak ada perubahan jumlah saham beredar;
-
struktur permodalan tetap sama;
-
ultimate beneficial owner tetap tidak berubah.
Informasi tersebut juga telah dilaporkan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui laporan perubahan kepemilikan saham sesuai ketentuan pasar modal.
Karena transaksi dilakukan melalui pasar negosiasi dengan nilai yang sangat besar, angka pembelian asing secara keseluruhan (all market) ikut melonjak signifikan meski aktivitas di pasar reguler tidak sebesar nilai tersebut.
Saham Big Caps Tetap Jadi Favorit Investor Asing
Di luar transaksi PKPK, investor asing tetap melakukan akumulasi pada sejumlah saham berkapitalisasi besar yang dinilai memiliki fundamental kuat.
Beberapa saham dengan nilai pembelian bersih asing terbesar di pasar reguler meliputi:
-
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) sebesar Rp90,20 miliar
-
PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) sebesar Rp40,97 miliar
-
PT Timah Tbk. (TINS) sebesar Rp33,20 miliar
-
PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) sebesar Rp25,99 miliar
-
PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) sebesar Rp25,40 miliar
-
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) sebesar Rp20,03 miliar
-
PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) sebesar Rp14,47 miliar
Dominasi saham sektor perbankan, telekomunikasi, pertambangan, dan komoditas menunjukkan investor masih memilih emiten berfundamental kuat di tengah dinamika pasar global.
TPIA hingga BBRI Masuk Daftar Net Sell Asing
Meski secara keseluruhan mencatat pembelian bersih, investor asing tetap melakukan aksi ambil untung pada sejumlah saham unggulan.
Emiten yang mencatatkan nilai jual bersih terbesar antara lain:
-
PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) Rp60,83 miliar
-
PT RANS Entertainment Indonesia Tbk. (RANS) Rp43,36 miliar
-
PT Astra International Tbk. (ASII) Rp30,21 miliar
-
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) Rp24,63 miliar
-
PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) Rp17,25 miliar
-
PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) Rp13,79 miliar
Pergerakan tersebut mencerminkan strategi rotasi portofolio yang umum dilakukan investor institusi, di mana aksi beli pada sejumlah saham dipadukan dengan realisasi keuntungan di saham lain.
Baca Juga: Investasi Batam Tembus Rp44 Triliun, Naik 72 Persen dan Lampaui Target Pemerintah
Sentimen Pasar Masih Positif
Penguatan IHSG hingga mendekati level 6.100 menunjukkan sentimen pasar domestik masih cukup solid.
Dukungan datang dari membaiknya minat terhadap saham-saham berkapitalisasi besar, stabilnya kondisi makroekonomi Indonesia, serta ekspektasi terhadap kinerja emiten pada semester II 2026.
Meski demikian, pelaku pasar tetap mencermati perkembangan ekonomi global, arah kebijakan suku bunga bank sentral utama dunia, nilai tukar rupiah, dan pergerakan harga komoditas yang diperkirakan masih menjadi faktor utama penentu arah investasi dalam beberapa waktu ke depan.
Dengan transaksi jumbo PKPK yang mendominasi perdagangan serta tetap derasnya minat asing terhadap saham-saham unggulan, pasar modal Indonesia menunjukkan likuiditas yang terjaga dan berpotensi melanjutkan tren positif apabila didukung sentimen domestik maupun global yang kondusif.
Editor : Mahendra Aditya