RADAR KUDUS — Gelombang kerugian yang berkepanjangan akhirnya memaksa para peternak ayam ras pedaging (broiler) mandiri di wilayah Pantai Utara (Pantura) Timur Jawa Tengah mengambil langkah penyelamatan usaha yang drastis.
Akibat harga jual ayam hidup (live bird) yang terus merosot jauh di bawah biaya operasional, para peternak di Kabupaten Pati, Kudus, hingga Grobogan kini terpaksa memangkas populasi ternak mereka secara besar-besaran.
Tidak sedikit pula peternak rakyat yang memilih untuk menunda proses chick in (pengisian kembali bibit ayam ke kandang), bahkan terpaksa mengosongkan kandang mereka sama sekali.
Pilihan pahit ini diambil lantaran modal kerja mereka telah habis terkuras demi menutup kerugian operasional pada siklus produksi sebelumnya.
Kontradiksi Industri: Pertumbuhan Makro vs Krisis Peternak Rakyat
Fenomena keterpurukan yang menimpa para peternak skala kecil ini terjadi di tengah kondisi yang ironis.
Secara makro, industri perunggasan nasional sebenarnya masih menunjukkan tren pertumbuhan yang positif jika merujuk pada data agregat pemerintah.
Namun, bagi para peternak mandiri di tingkat tapak, situasi di lapangan justru menunjukkan arah yang berbanding terbalik.
Ketidakmampuan pasar domestik dalam menyerap pasokan secara stabil membuat harga jual ayam hidup di tingkat peternak mandiri tak kunjung membaik.
Kondisi tersebut menempatkan ekosistem peternakan rakyat di kawasan Pantura dalam titik kritis yang mengancam keberlangsungan usaha mereka.
Kerugian Mencapai Rp8.000 per Kilogram Sejak Akhir Mei 2026
Ketua Persaudaraan Peternak Mandiri Pantura (PPMP) Pantura Timur, Ir. Saripudin, membeberkan bahwa tekanan ekonomi ini bukanlah fenomena baru, melainkan akumulasi dari krisis yang telah berlangsung selama lebih dari satu bulan.
Saripudin menjelaskan bahwa harga jual ayam hidup telah konsisten berada di bawah Harga Pokok Produksi (HPP) sejak akhir Mei 2026.
Kalkulasi Kerugian Lapangan: Akibat ketimpangan antara ongkos produksi dan harga pasar, para peternak rakyat saat ini harus menanggung kerugian riil yang sangat besar, yakni diperkirakan berkisar antara Rp7.000 hingga Rp8.000 untuk setiap satu kilogram ayam hidup yang dipanen.
Pria yang akrab disapa Barry ini menambahkan, kondisi yang terus-menerus minus tersebut telah menguras habis struktur permodalan para anggotanya.
Mayoritas peternak mandiri kini hanya mampu mengandalkan sisa-sisa modal cadangan terakhir mereka yang kian menipis untuk sekadar menjaga agar usaha mereka tidak langsung gulung tikar.
Biaya Input Tetap Tinggi, Peternak Mendesak Intervensi Regulasi
Di tengah jatuhnya harga jual output (ayam hidup), para peternak tidak memiliki daya tawar (bargaining power) untuk menekan biaya input produksi yang tetap bertengger di pangkalan harga tinggi.
Komponen operasional utama dalam industri perunggasan sama sekali tidak menunjukkan adanya tanda-tanda penurunan harga yang signifikan, meliputi:
-
Pakan Ternak: Harga bahan baku pakan berbasis jagung dan kedelai impor yang masih tinggi di pasar global.
-
Day Old Chick (DOC): Harga bibit anak ayam usia sehari yang tidak mengalami penyesuaian ke bawah.
-
Operational Cost: Biaya obat-obatan veteriner, vitamin, tarif listrik untuk kandang sistem tertutup (closed house), hingga upah tenaga kerja yang terus berjalan.
Kombinasi antara harga jual yang anjlok dan biaya produksi yang konstan tinggi ini menggerus habis margin keuntungan peternak hingga berubah menjadi rapor merah.
Jika kondisi ini dibiarkan tanpa adanya intervensi regulasi dari pemerintah—seperti penataan ulang supply-demand bibit ayam oleh Kementerian Pertanian atau pembenahan rantai tata niaga pangan—maka eksodus massal peternak rakyat yang mengosongkan kandang diprediksi akan memicu kelangkaan pasokan daging ayam nasional di kemudian hari. (*)