Kudus Pati Jepara Karimunjawa Blora Grobogan Rembang Jateng Nasional Internasional Sportainment Otomotif Teknologi pedoman media siber Wisata Pendidikan Religi Lifestyle Kuliner Kesehatan Hobi Fashion Entertainment Ekonomi Inspirashe Feature Catatan

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.949 per Dolar AS, Tekanan Global dan Defisit Dagang Bebani Pasar

Mahendra Aditya Restiawan • Rabu, 1 Juli 2026 | 15:52 WIB
Rupiah Anjlok hingga Tembus Rp14.000 per Dolar Singapura
Ilustrasi mata uang rupiah.

RADAR KUDUS - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada penutupan perdagangan Rabu (1/7/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah ke level Rp17.949 per dolar Amerika Serikat (AS), mencerminkan sentimen negatif yang datang dari pasar global maupun kondisi ekonomi domestik.

Pelemahan ini terjadi setelah dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang dunia menyusul rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih baik dari ekspektasi pasar. Di saat bersamaan, Indonesia juga menghadapi tekanan dari memburuknya kinerja perdagangan luar negeri yang memengaruhi kepercayaan investor.

Rupiah Turun 42 Poin pada Penutupan Perdagangan

Pada perdagangan sore hari, rupiah ditutup di posisi Rp17.949 per dolar AS, melemah 42 poin atau sekitar 0,23 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya.

Pergerakan tersebut memperpanjang tekanan terhadap rupiah yang dalam beberapa waktu terakhir bergerak fluktuatif di tengah ketidakpastian ekonomi global serta perubahan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Penguatan dolar AS membuat investor cenderung mengalihkan dana ke aset berbasis dolar yang dianggap lebih aman, sehingga mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan.

Baca Juga: Laga Meksiko vs Ekuador Sempat Ditunda karena Badai Petir

Mata Uang Asia Kompak Tertekan

Pelemahan rupiah bukan terjadi secara terpisah. Sejumlah mata uang di kawasan Asia juga mengalami depresiasi terhadap dolar AS.

Di antaranya:

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan dolar AS memberikan tekanan secara luas terhadap mata uang regional.

Mata Uang Negara Maju Ikut Berada di Zona Merah

Tidak hanya Asia, mata uang utama dunia juga bergerak melemah terhadap dolar AS.

Euro turun sekitar 0,18 persen, poundsterling Inggris melemah 0,12 persen, sedangkan dolar Australia terkoreksi 0,39 persen.

Sementara itu, dolar Kanada dan franc Swiss masing-masing turun sekitar 0,16 persen, memperlihatkan dominasi dolar AS di pasar valuta asing global.

Data Ketenagakerjaan AS Jadi Pemicu Utama

Analis mata uang Lukman Leong dari Doo Financial Futures menilai penguatan dolar dipicu oleh rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang menunjukkan hasil lebih baik dibandingkan perkiraan pelaku pasar.

Data tersebut memunculkan ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) masih akan mempertahankan kebijakan moneter yang ketat atau bernada hawkish untuk menjaga inflasi tetap terkendali.

Harapan terhadap suku bunga tinggi di AS membuat imbal hasil aset dolar menjadi lebih menarik, sehingga aliran modal global cenderung bergerak menuju Amerika Serikat.

Baca Juga: Update Harga BBM Pertamina Juli 2026: Dexlite dan Pertamina Dex Anjlok, Cek Daftar Lengkapnya

Defisit Neraca Dagang Tekan Rupiah dari Dalam Negeri

Selain faktor eksternal, rupiah juga terbebani sentimen domestik.

Lukman Leong menjelaskan bahwa penurunan nilai ekspor Indonesia serta munculnya defisit neraca perdagangan menjadi faktor tambahan yang memperlemah pergerakan rupiah.

Defisit tersebut menjadi sorotan karena merupakan yang pertama sejak April 2020, menandakan tekanan terhadap kinerja perdagangan luar negeri Indonesia di tengah perlambatan ekonomi global.

Neraca perdagangan yang negatif berpotensi mengurangi pasokan devisa hasil ekspor, sehingga turut memengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah.

Pelaku Pasar Menanti Arah Kebijakan The Fed

Perhatian investor kini tertuju pada pidato Ketua Federal Reserve yang diperkirakan akan memberikan sinyal mengenai arah suku bunga dalam beberapa bulan ke depan.

Jika bank sentral AS tetap mempertahankan sikap agresif dalam mengendalikan inflasi, tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, diperkirakan masih akan berlanjut.

Sebaliknya, apabila muncul sinyal pelonggaran kebijakan moneter, peluang penguatan rupiah dan mata uang regional lainnya akan kembali terbuka.

Editor : Mahendra Aditya
#kurs dolar AS 1 Juli 2026 #rupiah melemah #Rupiah hari ini #the fed #nilai tukar rupiah