Kudus Pati Jepara Karimunjawa Blora Grobogan Rembang Jateng Nasional Internasional Sportainment Otomotif Teknologi pedoman media siber Wisata Pendidikan Religi Lifestyle Kuliner Kesehatan Hobi Fashion Entertainment Ekonomi Inspirashe Feature Catatan

Rupiah Anjlok ke Rp18.000 dan BI Rate Meroket, Bisnis Penjualan Mobil Bekas di Surabaya Merosot hingga 50 Persen

Ghina Nailal Husna • Senin, 29 Juni 2026 | 21:19 WIB
Rupiah Anjlok ke Rp18.000 dan BI Rate Meroket, Bisnis Penjualan Mobil Bekas di Surabaya Merosot hingga 50 Persen
Rupiah Anjlok ke Rp18.000 dan BI Rate Meroket, Bisnis Penjualan Mobil Bekas di Surabaya Merosot hingga 50 Persen

 

RADAR KUDUS — Efek domino dari gejolak makroekonomi nasional kian nyata memukul sektor riil di Indonesia.

Kombinasi antara pelemahan nilai tukar rupiah yang drastis serta tren kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) kini mulai berimbas langsung pada lesunya industri otomotif sekunder. 

Sejumlah pemilik jaringan showroom dan dealer penjualan mobil bekas di Kota Surabaya, Jawa Timur, melaporkan adanya penurunan omzet penjualan yang sangat signifikan sepanjang semester pertama tahun 2026.

Baca Juga: Dituding Penipu hingga Pemicu Pajak: Petugas Sensus Ekonomi 2026 di Jakbar Kerap Dimarahi Warga Soal Gaji

Kondisi pasar mobil bekas tahun ini dinilai jauh lebih kelam dibandingkan tahun sebelumnya.

Jika pada periode Januari hingga Juni tahun lalu penurunan penjualan hanya berkisar di angka 30 persen, pada semester pertama tahun 2026 ini angka koreksi penjualan menukik tajam hingga menyentuh 50 persen atau terpangkas separuh dari target normal. 

Para pelaku usaha menilai kondisi ini dipicu oleh rontoknya daya beli masyarakat yang terkoreksi akibat inflasi dan ketidakpastian ekonomi global.

Suku Bunga Kredit Mencekik dan Rupiah yang Terus Tertekan

Fluktuasi nilai tukar rupiah dan kebijakan moneter yang agresif menjadi faktor hulu yang paling membebani pergerakan bisnis otomotif.

Hingga akhir Juni 2026, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih tertahan di zona merah pada kisaran Rp17.800 hingga Rp18.000 per dolar AS.

Guna meredam pelarian modal asing dan mengendalikan inflasi, Bank Indonesia sebenarnya telah mengambil langkah taktis dengan menaikkan suku bunga acuan sebanyak dua kali dalam sebulan terakhir, hingga menembus level 5,75 persen. Namun, kebijakan ini bak buah simalakama bagi industri pembiayaan (leasing).

  • Beban Cicilan Meningkat: Kenaikan BI Rate otomatis mengerek suku bunga kredit kendaraan bermotor (KKB). Imbasnya, nilai angsuran bulanan yang harus dibayar konsumen menjadi jauh lebih mahal.

  • Konsumen Menahan Diri: Khawatir akan kondisi ekonomi yang kian tidak menentu, calon pembeli kini jauh lebih berhati-hati (prudent) dan memilih untuk menunda pembelian barang tersier seperti kendaraan, lalu memprioritaskan dana mereka untuk kebutuhan pokok.

Sentimen Pasar Belum Pulih, IHSG Ikut Terperosok

Kondisi Pasar Saham: Tekanan ekonomi ini tidak hanya dirasakan di pasar fisik, tetapi juga tercermin kuat di pasar modal. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus menunjukkan tren koreksi negatif hingga terjun bebas kembali ke level 5.800-an.

Penurunan IHSG ke level psikologis baru ini mencerminkan bahwa sentimen pasar secara keseluruhan masih belum pulih dan investor masih cenderung bersikap wait and see.

Baca Juga: Sentilan Keras dr. Indra Tarigan: Laki-Laki Sebaiknya Jangan Menikah Jika Belum Bisa Berhenti Merokok

Lesunya pasar modal ini secara tidak langsung juga mengonfirmasi bahwa likuiditas di masyarakat sedang mengetat.

Para pelaku usaha dan asosiasi dealer mobil bekas di Surabaya kini hanya bisa berharap bahwa intervensi moneter lanjutan dari pemerintah dan Bank Indonesia dapat segera menstabilkan nilai tukar rupiah ke angka yang lebih rasional.

Mereka berharap ada stimulus baru dari sektor pembiayaan agar minat beli masyarakat kembali bergairah, sehingga rantai bisnis mobil bekas yang melibatkan ratusan ribu tenaga kerja dan mekanik lokal ini dapat kembali bergerak normal sebelum memasuki akhir tahun. (*)

Editor : Ghina Nailal Husna
#Kenaikan BI Rate #bisnis mobil bekas surabaya #dampak ekonomi makro #nilai tukar rupiah #penurunan