RADAR KUDUS — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan volatilitas yang tinggi.
Pada perdagangan Jumat (26/6) pagi, mata uang garuda tercatat kembali menembus level psikologis baru di posisi Rp18.009 per dolar AS.
Angka ini mencerminkan pelemahan sebesar 0,52 persen dibandingkan dengan posisi penutupan pada hari sebelumnya yang berada di level Rp17.943.
Koreksi tajam ini terjadi di tengah akumulasi tekanan eksternal dari ketidakpastian pasar global, yang bertepatan dengan dinamika sentimen dalam negeri pasca-penyampaian pidato oleh Presiden Prabowo Subianto.
Akumulasi Tekanan Pasar Saham dan Sentimen Domestik
Pelemahan nilai tukar rupiah ini tidak terjadi di ruang hampa. Di pasar domestik, perhatian para pelaku pasar sempat tertuju pada dua pidato berturut-turut yang disampaikan oleh Presiden Prabowo, yakni di Bangkalan pada 23 Juni dan di Gorontalo pada 24 Juni.
Konten dari kedua pidato tersebut memicu berbagai reaksi serta diskursus yang cukup hangat di media sosial, yang secara tidak langsung memengaruhi psikologis pasar dalam jangka pendek.
Dampak dari sentimen negatif ini juga langsung terasa di lantai bursa saham Indonesia:
-
Kejatuhan IHSG: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ikut tertekan hebat dan anjlok ke kisaran level 5.800.
-
Koreksi Emiten: Mayoritas emiten atau saham-saham unggulan di bursa domestik terpantau mengalami koreksi massal akibat aksi ambil untung dan sikap kehati-hatian investor.
Pengaruh Geopolitik Global dan Pasokan Minyak Dunia
Analis mata uang terkemuka, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pergerakan rupiah saat ini sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global yang dinamis.
Salah satu faktor eksternal utama adalah mulai pulihnya kembali aliran minyak mentah melalui jalur strategis Selat Hormuz.
Pulihnya jalur logistik ini terjadi pasca-tercapainya kesepakatan damai antara Iran dan Israel.
Imbas dari normalisasi jalur dagang tersebut membuat pasokan minyak dunia kembali stabil, yang pada gilirannya memberikan tekanan penurunan pada harga minyak mentah global.
Fundamental Ekonomi RI Kokoh, Namun Surplus Mulai Menipis
Kondisi Makroekonomi: Di tengah tekanan bertubi-tubi pada mata uang domestik, Ibrahim Assuaibi menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya masih berada dalam kondisi yang relatif kuat dan resilien.
Ketahanan ekonomi nasional tersebut ditopang oleh dua indikator utama:
-
Pertumbuhan Ekonomi: Indonesia berhasil mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang positif sebesar 5,61 persen pada Kuartal I tahun 2026.
-
Cadangan Devisa: Posisi cadangan devisa (cadev) negara masih sangat mumpuni, yakni mencapai angka 144,9 miliar dolar AS.
Kendati demikian, Ibrahim memberikan catatan peringatan bagi otoritas moneter. Ia mengingatkan bahwa tren surplus neraca perdagangan Indonesia yang kian hari kian menipis merupakan sebuah lampu kuning yang wajib diwaspadai secara serius.
Meski sempat terperosok ke level Rp18.009 di awal hari, Ibrahim memproyeksikan bahwa rupiah masih memiliki ruang untuk melakukan perlawanan teknik.
Mata uang garuda diperkirakan berpeluang untuk sedikit memangkas pelemahannya dan bergerak kembali ke kisaran Rp17.940 hingga Rp17.990 per dolar AS pada penutupan perdagangan sore nanti. (*)