Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan pada Jumat (26/6/2026) di zona negatif setelah tekanan dari pasar global memicu aksi jual di Bursa Efek Indonesia (BEI). Indeks ditutup melemah 102,91 poin atau 1,72 persen ke level 5.896,13.
Pelemahan IHSG berlangsung seiring koreksi yang terjadi di sejumlah bursa saham Asia. Sentimen negatif terutama berasal dari tekanan pada saham-saham sektor teknologi global, yang memicu kekhawatiran investor terhadap meningkatnya biaya pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menjelaskan bahwa melemahnya pasar global turut menekan saham-saham berbasis komoditas logam, sehingga memberikan dampak lanjutan terhadap pergerakan indeks domestik.
Pada awal perdagangan IHSG sempat bergerak di zona hijau. Namun tekanan jual meningkat sejak sesi pertama hingga membuat indeks bertahan di wilayah negatif sampai penutupan.
Indeks LQ45 yang berisi saham-saham berkapitalisasi besar juga ikut terkoreksi sebesar 0,69 persen ke posisi 583,72.
Dari sisi sektoral, hanya beberapa sektor yang mampu mencatatkan penguatan. Sektor barang baku menjadi yang terbaik dengan kenaikan 2,49 persen, disusul barang konsumen nonprimer dan sektor transportasi serta logistik. Sebaliknya, sektor infrastruktur, keuangan, dan kesehatan menjadi penyumbang pelemahan terbesar.
Aktivitas perdagangan di BEI berlangsung cukup aktif dengan frekuensi transaksi sekitar 1,52 juta kali, volume mencapai 19,11 miliar saham, dan nilai transaksi sekitar Rp12,72 triliun. Sebanyak 130 saham menguat, 590 saham melemah, sedangkan 239 saham ditutup stagnan.
Mayoritas bursa saham Asia juga mengakhiri perdagangan di zona merah. Indeks Nikkei Jepang, Hang Seng Hong Kong, Shanghai Composite China, hingga Straits Times Singapura sama-sama mencatatkan pelemahan sehingga memperkuat sentimen negatif di pasar regional.
Investor Menanti Data Ekonomi
Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada sejumlah indikator ekonomi Indonesia yang dijadwalkan rilis pekan depan, antara lain PMI Manufaktur, neraca perdagangan, dan inflasi. Data tersebut dinilai akan menjadi acuan penting untuk membaca kondisi ekonomi nasional sekaligus menentukan arah pergerakan IHSG berikutnya.
Sejumlah analis memperkirakan IHSG masih berpotensi bergerak dalam fase konsolidasi dengan area pengujian di kisaran 5.700–5.800, bergantung pada sentimen global maupun data ekonomi domestik yang akan diumumkan.
- IHSG merupakan indeks utama yang mencerminkan pergerakan harga seluruh saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).
- Pergerakan IHSG sangat dipengaruhi sentimen global seperti kebijakan bank sentral, kondisi ekonomi dunia, harga komoditas, hingga perkembangan sektor teknologi internasional.
- Data ekonomi seperti PMI Manufaktur, inflasi, dan neraca perdagangan menjadi indikator penting yang sering diperhatikan investor dalam menentukan strategi investasi.
- Pelemahan serentak di berbagai bursa Asia umumnya memberikan dampak psikologis terhadap pasar saham Indonesia karena tingginya keterkaitan arus modal global.