Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Rupiah Tembus Rp17.939 per Dolar AS, Efek Kenaikan Suku Bunga BI Dua Kali Belum Mampu Redam Tekanan Global

Ghina Nailal Husna • Kamis, 25 Juni 2026 | 22:15 WIB
Rupiah Tembus Rp17.939 per Dolar AS, Efek Kenaikan Suku Bunga BI Dua Kali Belum Mampu Redam Tekanan Global
Rupiah Tembus Rp17.939 per Dolar AS, Efek Kenaikan Suku Bunga BI Dua Kali Belum Mampu Redam Tekanan Global

 

RADAR KUDUS — Langkah agresif Bank Indonesia (BI) dalam mengerek suku bunga acuan tampaknya belum cukup kuat untuk menahan laju depresiasi mata uang garuda.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih menunjukkan tren pelemahan yang signifikan dan belum mencerminkan adanya tanda-tanda pemulihan dalam jangka pendek.

Berdasarkan data perdagangan terbaru, mata uang rupiah kembali tertekan hebat dan kini terperosok ke kisaran Rp17.939 hingga Rp17.962 per dolar AS.

Baca Juga: Berujung Ricuh dan Bakar Pos Polisi, 12 Mahasiswa Peserta Demo di Serang Dituntut hingga 8 Bulan Penjara

Posisi ini tercatat melemah cukup tajam jika dibandingkan dengan pergerakan pada tanggal 20 Mei lalu, di mana rupiah saat itu masih berada pada level Rp17.775 per dolar AS.

Jamu Pahit BI: Suku Bunga Acuan Sentuh 5,75 Persen

Padahal, guna menjaga stabilitas nilai tukar dan membendung arus modal keluar (capital outflow), Bank Indonesia telah mengambil langkah moneter yang cukup berani.

Dalam kurun waktu satu bulan terakhir, bank sentral tercatat sudah dua kali menaikkan suku bunga acuan hingga kini menyentuh level 5,75 persen.

Namun, kebijakan pengetatan moneter ini belum mampu memberikan dampak instan secara optimal.

Para analis keuangan menilai bahwa tingginya ekspektasi terhadap suku bunga global—terutama kebijakan suku bunga tinggi yang dipertahankan oleh bank sentral Amerika Serikat (The Fed)—masih menjadi faktor utama yang terus memberikan tekanan berat pada mata uang negara-negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia.

Sentimen Risk-Off Global dan Kehati-hatian Investor

Selain faktor suku bunga di luar negeri, pelemahan rupiah juga dipicu oleh meningkatnya sentimen risk-off di pasar finansial global.

Situasi ketidakpastian ekonomi global membuat para investor internasional cenderung menghindari aset-aset yang dinilai berisiko tinggi di negara berkembang.

Fenomena Flight to Safety: Investor global saat ini lebih memilih untuk mengalihkan dana mereka dan mengamankannya ke dalam aset-aset aman (safe-haven assets), seperti mata uang dolar AS dan obligasi pemerintah AS, yang menawarkan imbal hasil lebih pasti.

Dampak Berantai: IHSG Ikut Merosot ke Level 5.900-an

Tekanan hebat di pasar valuta asing ini secara otomatis memberikan dampak berantai ke sektor pasar modal domestik. Performa bursa saham dalam negeri terpantau ikut meredup:

  • Penurunan Indeks: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terjerembab turun ke level 5.900-an.

  • Sikap Pasar: Penurunan ini menjadi indikator kuat bahwa para pelaku pasar dan investor masih bersikap sangat hati-hati (wait and see), serta cenderung defensif dalam mengelola portofolio mereka.

Baca Juga: Kucurkan Rp5,41 Triliun, Presiden Prabowo Instruksikan Pelebaran Jalan Daerah Menjadi 8 Meter

Realitas pasar saat ini membuktikan bahwa intervensi melalui kenaikan suku bunga acuan oleh BI tidak serta-merta bisa membalikkan psikologis dan sentimen pasar dalam waktu singkat. 

Tantangan makroekonomi global yang dinamis menuntut pemerintah dan bank sentral untuk terus merumuskan bauran kebijakan makroprudensial lainnya guna menjaga ketahanan ekonomi nasional dari guncangan eksternal. (*)

Editor : Ghina Nailal Husna
#suku bunga Bank Indonesia #sentimen risk-off #Dolar AS #nilai tukar rupiah #IHSG Melemah