Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Jaga Daya Beli, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Pastikan Harga Pertalite dan Biosolar Tidak Naik

Ghina Nailal Husna • Jumat, 12 Juni 2026 | 22:40 WIB
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Pastikan Harga Pertalite dan Biosolar Tidak Naik
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Pastikan Harga Pertalite dan Biosolar Tidak Naik

 

RADAR KUDUS — Di tengah gejolak pasar energi global dan fluktuasi harga minyak mentah dunia yang terus dinamis, Pemerintah Indonesia mengambil langkah tegas untuk memberikan perlindungan domestik.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan bahwa harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, jenis Pertalite dan Biosolar, serta Liquefied Petroleum Gas (LPG) tabung 3 kilogram dipastikan aman dan tidak akan mengalami kenaikan tarif dalam waktu dekat.

Keputusan krusial ini diambil sebagai respons strategis pemerintah untuk mengintervensi dan menjaga stabilitas daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah di tengah ketidakpastian ekonomi makro.

Baca Juga: Suarakan Isu Anggaran dan Harga Pokok, Demo BEM UI di Bundaran HI Dikawal 4.151 Personel Gabungan

"Pemerintah secara sadar mengambil kebijakan untuk menahan harga energi bersubsidi.

Langkah ini merupakan bentuk kehadiran negara agar masyarakat luas tidak ikut terbebani oleh lonjakan harga minyak internasional yang sedang bergejolak," tegas Bahlil saat memberikan keterangan resmi kepada awak media.

BBM Non-Subsidi Menyesuaikan Mekanisme Pasar

Berbeda dengan rumpun energi penugasan dan subsidi, kelompok BBM non-subsidi tetap berjalan mengikuti pergerakan harga minyak mentah dunia dan mekanisme pasar bebas.

Sebagai bagian dari penyesuaian berkala, harga BBM jenis Pertamax kini mengalami penyesuaian tarif menjadi Rp16.250 per liter, setelah sebelumnya bertahan di angka Rp12.300 per liter.

Pemerintah menilai diferensiasi kebijakan ini adil, di mana alokasi anggaran subsidi negara difokuskan tepat sasaran bagi masyarakat yang benar-benar membutuhkan, sementara kelompok masyarakat yang mampu secara ekonomi diharapkan dapat menyesuaikan dengan harga keekonomian.

Arahan Presiden Prabowo: Akselerasi CNG dan Kemandirian Energi

Selain fokus pada stabilitas harga jangka pendek, rapat terbatas yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto juga menyoroti visi besar ketahanan energi nasional jangka panjang.

Guna memutus rantai ketergantungan terhadap komoditas energi impor yang kerap membebani ruang fiskal APBN, Presiden Prabowo memberikan instruksi khusus kepada jajaran menteri kabinet.

Presiden meminta kementerian terkait untuk mempercepat implementasi dan pengembangan proyek energi alternatif secara masif.

Baca Juga: SAH! Jennifer Coppen Resmi Dipersunting Punggawa Timnas Justin Hubner dengan Adat Jawa, Momen Air Mata untuk Mendiang Ibu Haru Biru

Salah satu program prioritas yang kini dikebut adalah konversi atau peralihan konsumsi dari LPG (yang mayoritas bahan bakunya masih diimpor) menuju Compressed Natural Gas (CNG) atau gas alam terkompresi yang sumber dayanya melimpah di dalam negeri.

Di sisi lain, untuk memberikan rasa tenang kepada pelaku usaha dan masyarakat luas, Kementerian ESDM bersama PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero) menjamin bahwa pasokan energi nasional berada pada level yang sangat aman.

Ketahanan stok, baik untuk kebutuhan BBM, pasokan gas bumi, hingga keandalan sistem kelistrikan dipastikan terpenuhi secara merata di seluruh wilayah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (*)

Editor : Ghina Nailal Husna
#Harga Pertalite Solar tetap #BBM non-subsidi naik #konversi LPG ke CNG #Presiden Prabowo Subianto #bahlil lahadalia