Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Rupiah Dekati Rp18.000 per Dolar AS, Chatib Basri: Fondasi Ekonomi Hari Ini Jauh Lebih Kuat ketimbang Krisis 1998

Ghina Nailal Husna • Kamis, 11 Juni 2026 | 21:42 WIB
Chatib Basri: Fondasi Ekonomi Hari Ini Jauh Lebih Kuat ketimbang Krisis 1998
Chatib Basri: Fondasi Ekonomi Hari Ini Jauh Lebih Kuat ketimbang Krisis 1998

 

RADAR KUDUS — Tren pelemahan nilai tukar rupiah yang terus tertekan hingga mendekati level psikologis baru di kisaran Rp18.000 per dolar AS mulai memicu alarm kecemasan di tengah masyarakat.

Fluktuasi ini membangkitkan kembali memori kolektif publik akan bayang-bayang kelam krisis moneter hebat yang pernah menghantam Indonesia pada tahun 1998 silam.

Namun, ekonom senior sekaligus Menteri Keuangan periode 2013–2014, Chatib Basri, meminta masyarakat untuk rasional dan tidak panik.

Baca Juga: Delapan Santriwati Jadi Korban Pencabulan Habib Gadungan di Semarang

Ia menegaskan bahwa lanskap dan kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini jauh berbeda dan tidak bisa disamakan begitu saja dengan situasi traumatis yang terjadi hampir tiga dekade lalu.

Fleksibilitas Kurs dan Ketahanan Sektor Perbankan

Menurut Chatib, salah satu pembeda paling fundamental antara era kini dan tahun 1998 terletak pada rezim atau sistem nilai tukar yang diadopsi oleh Bank Indonesia.

Pada masa krisis Asia 1998, Indonesia masih menggunakan sistem kurs yang cenderung kaku, sehingga ketika terjadi gejolak, cadangan devisa langsung terkuras habis untuk mengintervensi pasar sebelum akhirnya nilai tukar tumbang.

"Saat ini, Indonesia menerapkan sistem nilai tukar mengambang yang fleksibel (floating exchange rate).

Mekanisme ini bertindak sebagai peredam kejut (shock absorber) yang memungkinkan perekonomian nasional beradaptasi jauh lebih cepat dan natural terhadap tekanan eksternal serta ketidakpastian pasar global," jelas Chatib Basri.

Selain faktor sistem kurs, Chatib juga menyoroti fondasi sektor keuangan dan perbankan domestik yang kini jauh lebih sehat, pruden, dan matang.

Berkat reformasi struktural pasca-1998, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan nasional saat ini berada di level yang sangat aman, ditambah dengan pengawasan ketat dari Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Hal ini sangat kontras dengan kondisi tahun 1998 di mana industri perbankan rapuh akibat paparan utang luar negeri jangka pendek yang tidak dilindungi nilai (hedging).

Tetap Waspada Terhadap Efek Domino Impor dan Inflasi

Kendati memiliki daya tahan yang jauh lebih kokoh, Chatib mengingatkan otoritas fiskal dan moneter untuk tidak lengah.

Pelemahan rupiah yang terlalu dalam tetap membawa risiko riil yang wajib diwaspadai, terutama terkait potensi lonjakan inflasi dari barang-barang impor (imported inflation).

Kondisi ini lambat laun dapat membebani aktivitas dunia usaha, khususnya bagi sektor industri dalam negeri yang masih bergantung pada bahan baku dan komponen impor.

Baca Juga: Ini Enam Jurus Dewan dan DPPKAD Rembang Tutup Kebocoran PAD Tambang di Sale

Jika biaya produksi membengkak, harga jual di tingkat konsumen berpotensi naik dan berujung pada koreksi daya beli masyarakat.

Oleh karena itu, Chatib menekankan pentingnya bagi pemerintah dan Bank Indonesia untuk terus mencermati arah kebijakan suku bunga global serta dinamika geopolitik.

Dengan struktur ekonomi yang telah bertransformasi menjadi lebih matang, Indonesia diyakini memiliki modalitas yang mumpuni untuk melewati fase tekanan global ini tanpa harus terperosok ke dalam lubang krisis yang sama. (*)

Editor : Ghina Nailal Husna
#Krisis Ekonomi 1998 #pelemahan nilai tukar rupiah #fondasi perbankan Indonesia #inflasi barang impor #chatib basri