RADAR KUDUS - Laju pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kian berada dalam fase yang mengkhawatirkan.
Belum genap satu hari pasca-pembukaan pasar yang sudah berada di zona merah, mata uang Garuda kembali menunjukkan taji yang loyo.
Hanya dalam hitungan jam setelah sempat tertahan di kisaran level Rp18.100-an, kurs rupiah merosot lebih dalam hingga resmi menembus angka Rp18.204 per dolar AS pada sesi perdagangan Senin siang (8/6/2026).
Fluktuasi yang terjadi di papan siber pasar valuta asing memperlihatkan betapa rapuhnya posisi mata uang domestik di hadapan sentimen global yang bergerak sangat agresif.
Kronologi Pergerakan Menit-per-Menit di Pasar Spot
Berdasarkan kompilasi data riil dari Bloomberg, pergerakan nilai tukar USD/IDR menunjukkan volatilitas yang sangat tinggi sepanjang hari kerja ini.
Tekanan jual yang masif dari para pelaku pasar modal membuat rupiah terus tergerus menit demi menit tanpa perlawanan yang berarti dari instrumen intervensi domestik.
Pada pukul 13.49 WIB, layar monitor perdagangan mencatat kurs rupiah bertengger di posisi bulat Rp18.200 per dolar AS.
Namun, kepanikan pasar yang belum reda membuat posisi tersebut langsung ambrol kembali hanya dalam hitungan satu menit. Pada pukul 13.50 WIB, rupiah terdepresiasi lagi sebanyak empat poin ke level Rp18.204 per dolar AS.
Rentetan pelemahan kilat dalam hitungan jam ini memperpanjang catatan kelam rapor merah mata uang Indonesia yang dalam beberapa pekan terakhir konsisten mencetak rekor terendah baru sepanjang sejarah.
Suku Bunga AS Tinggi dan Tensi Geopolitik Jadi Biang Kerok
Para analis dan pengamat pasar keuangan menilai bahwa ambruknya rupiah dipicu oleh kombinasi faktor eksternal yang sangat solid.
Pengamat mata uang dan komoditas senior, Ibrahim Assuaibi, menjabarkan bahwa salah satu pemicu utama keperkasaan dolar AS adalah rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (Non-Farm Payroll) terbaru yang menunjukkan angka jauh lebih kuat dan bergairah dari perkiraan semula.
Kondisi ekonomi domestik AS yang membaik ini otomatis menutup peluang bagi bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), untuk menurunkan suku bunga acuan dalam waktu dekat.
Sebaliknya, data ini membuka peluang kuat bahwa rezim suku bunga tinggi (higher for longer) akan bertahan jauh lebih lama, yang pada gilirannya menyedot aliran modal dari negara-negara berkembang kembali ke daratan Amerika.
Senada dengan pandangan tersebut, analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengonfirmasi bahwa penguatan indeks dolar AS kali ini juga mendapatkan suntikan momentum dari memanasnya kembali tensi geopolitik di kancah global.
Ketidakpastian politik internasional membuat para pengelola dana institusional berbondong-bondong mengamankan aset mereka ke dalam bentuk mata uang dolar yang dinilai jauh lebih aman dari risiko perang.
Warning Akhir Juni: Bayang-Bayang Rupiah ke Level Rp19.000
Melihat tren pergerakan grafik yang terus menukik tajam tanpa adanya sentimen positif dari dalam negeri, para ahli mengingatkan pemerintah dan pelaku usaha untuk bersiap menghadapi skenario terburuk hingga akhir paruh pertama tahun ini.
Ibrahim Assuaibi bahkan mengeluarkan proyeksi atau warning yang cukup mencengangkan.
Ia memperkirakan bahwa jika tekanan eksternal terus berlanjut tanpa adanya gebrakan kebijakan moneter yang luar biasa dari Bank Indonesia, bukan tidak mungkin nilai tukar rupiah akan terseret jatuh hingga menyentuh level psikologis baru di angka Rp19.000 per dolar AS pada akhir Juni nanti.
Realitas pahit inilah yang kini membuat seluruh pelaku pasar merapatkan barisan dan bersikap ekstra waspada terhadap arah perekonomian nasional ke depan. (*)