RADAR KUDUS – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah kembali menunjukkan penguatan yang cukup tajam.
Berdasarkan data Google Finance pada Senin (8/6) pukul 09.12 WIB, kurs dolar AS tercatat berada di level Rp18.134,15 per dolar AS.
Kondisi ini menandakan tekanan lanjutan terhadap rupiah, yang dalam beberapa waktu terakhir bergerak di sekitar batas psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Penguatan dolar ini sekaligus menunjukkan masih kuatnya tekanan eksternal terhadap mata uang Garuda.
Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) bersama Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyatakan komitmen untuk memperkuat koordinasi dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa terdapat dua strategi utama yang disepakati kedua lembaga tersebut.
Salah satunya adalah meningkatkan daya tarik investasi portofolio agar arus modal asing kembali masuk ke pasar keuangan domestik.
Menurut Perry, kenaikan suku bunga global telah mendorong keluarnya dana asing dari pasar saham maupun Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia.
“Karena itu, kami bersama pemerintah berupaya meningkatkan imbal hasil agar investor kembali masuk,” ujarnya dalam pertemuan dengan DPR, Kemenkeu, dan Mensesneg di Gedung DPR, Jakarta, Sabtu (6/6).
Ia menambahkan bahwa sinergi kebijakan fiskal dan moneter diperlukan untuk mengembalikan aliran modal masuk guna mendukung stabilitas rupiah.
Langkah kedua yang disepakati adalah menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan.
Upaya ini dilakukan melalui pengelolaan kas pemerintah yang tetap ditempatkan di Bank Indonesia.
Perry menjelaskan bahwa skema tersebut juga disertai dengan penyesuaian imbal hasil atau remunerasi yang diberikan BI kepada pemerintah.
“Pengelolaan kas tetap di BI, dan ada peningkatan bunga yang diberikan. Ini membantu menjaga likuiditas di pasar uang,” jelasnya.
Ia menilai kebijakan ini akan memperkuat efektivitas operasi moneter sekaligus mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.
“Dengan langkah ini, operasi moneter dan fiskal bisa berjalan seimbang untuk menjaga stabilitas rupiah,” tambahnya.
Penguatan dolar AS saat ini menunjukkan bahwa tekanan global terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, masih cukup kuat.
Pelaku pasar kini menantikan langkah lanjutan dari BI dan pemerintah untuk menahan pelemahan lebih dalam.
Editor : Ali Mustofa