RADAR KUDUS - Dampak dari meroketnya nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) yang kini resmi menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS mulai menghantam fondasi ekonomi sektor informal.
Salah satu ekosistem yang paling merasakan hantaman keras ini adalah para pelaku usaha Warung Tegal (Warteg).
Kuliner yang selama ini dikenal sebagai penyelamat kantong kelas pekerja tersebut kini tengah berada dalam kondisi yang sangat tertekan.
Pelemahan nilai tukar rupiah tidak hanya memicu lonjakan harga bahan baku di pasar domestik, tetapi juga secara nyata mengubah pola konsumsi masyarakat bawah yang kian hemat dan selektif demi menyambung hidup.
Penurunan Omzet Drastis di Kawasan Strategis
Fenomena penurunan daya beli ini dirasakan langsung oleh Zidan, seorang pemilik warteg yang beroperasi di salah satu kawasan perkantoran strategis di Jakarta.
Ia mengeluhkan terjadinya penyusutan jumlah pelanggan yang sangat drastis hingga mencapai 50 persen dalam beberapa pekan terakhir.
"Biasanya saat kondisi normal atau ramai, pelanggan yang datang bisa lebih dari 150 orang sehari. Sekarang, boro-boro, paling hanya 70 hingga 75 orang saja yang tersisa," ungkap Zidan dengan nada lesu.
Lebih memprihatinkan lagi, penurunan kuantitas pembeli ini juga diikuti oleh penurunan kualitas pengeluaran transaksi per kapita.
Menurut pengamatan Zidan, para pekerja kantoran yang menjadi pelanggan setianya kini jauh lebih perhitungan dalam memilih menu makanan.
Jika dahulu mereka terbiasa memesan kombinasi lauk mewah seperti nasi dengan ayam, telur, ditambah sayuran, kini polanya berubah total.
Demi menghemat pengeluaran, mayoritas konsumen beralih ke pilihan paling ekonomis. Fenomena menu "nasi telur tanpa sayur" kini menjadi hidangan yang paling laris dipesan setiap harinya.
Rentan Terhadap Efek Domino Rantai Pasok Global
Kondisi ini dipertegas oleh Ketua Komunitas Warteg Nusantara (Kowantara), Mukroni. Ia menjelaskan bahwa para pelanggan sejatinya masih mendatangi warteg, namun nilai transaksi uang yang mereka belanjakan cenderung merosot tajam.
Konsumen mulai memangkas pembelian lauk-pauk yang harganya ikut terkerek naik akibat inflasi bahan pangan.
Bagi para pemilik warteg, situasi ini bagaikan buah simalakama. Usaha kuliner mikro seperti warteg sangat rentan terhadap fluktuasi harga bahan baku pokok.
Pelemahan rupiah menyebabkan kenaikan harga pada berbagai komoditas pangan, termasuk bahan bakar gas, minyak goreng, hingga bahan pangan berbasis impor dan pakan ternak.
Efek domino dari rantai pasok global ini pada akhirnya memaksa para pedagang berada di posisi dilematis: menaikkan harga berisiko ditinggal pembeli, namun mempertahankan harga lama berarti siap-siap gulung tikar.
Tanggapan Menkeu Purbaya: Klaim Kalah Bersaing, Bukan Daya Beli
Di tengah jeritan para pengusaha warteg tersebut, Pemerintah melalui Kementerian Keuangan memberikan pandangan yang bertolak belakang.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menilai bahwa penurunan omzet yang dialami oleh sejumlah pelaku usaha warteg tidak dapat dijadikan cerminan atau indikator mutlak bahwa daya beli masyarakat secara keseluruhan tengah melemah.
Dalam konferensi pers "APBN Kita" yang digelar di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, pada Sabtu, 6 Juni 2026, Menkeu Purbaya menyatakan bahwa kasus penurunan omzet tersebut belum tentu terjadi secara merata di seluruh sektor usaha mikro.
"Itu (penurunan omzet) mungkin terjadi, tetapi sampelnya berapa warteg? Saya bisa saja menemukan lima warteg yang omzetnya turun. Namun, bisa juga kondisi itu terjadi karena masalah internal seperti kalah bersaing.
Baca Juga: Desakan Ekonomi di Tengah Melambungnya Harga, Sembako Kini Jadi Incaran Utama Komplotan Pencuri
Sementara ada warteg lain di sebelahnya yang tampil lebih bagus, bersih, dan enak, sehingga konsumennya berpindah ke sana," ujar Purbaya di hadapan awak media.
Pemerintah bersikeras bahwa indikator ekonomi makro menunjukkan daya beli masyarakat secara umum masih berada dalam koridor yang aman.
Kendati demikian, silang pendapat antara estimasi angka di atas kertas milik pemerintah dan realitas pahit di atas piring warteg ini memperlihatkan adanya jurang pemisah yang nyata mengenai bagaimana dampak krisis nilai tukar dolar dirasakan oleh masyarakat di akar rumput. (*)