Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

REKOR! Rupiah Kian Terpuruk ke Level Rp18.000 per Dolar AS

Mahendra Aditya Restiawan • Kamis, 4 Juni 2026 | 07:50 WIB
Ilustrasi uang
Ilustrasi uang

JAKARTA – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Mata uang Garuda diperkirakan masih bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis (4/6/2026), bahkan berpotensi menyentuh kisaran Rp18.030 per dolar AS.

Pelemahan ini terjadi setelah rupiah ditutup di level Rp17.966 per dolar AS pada perdagangan sebelumnya. Posisi tersebut menunjukkan penurunan sebesar 0,71 persen atau sekitar 125,5 poin dibandingkan sesi sebelumnya.

Para pelaku pasar kini mencermati berbagai faktor global dan domestik yang terus membebani pergerakan rupiah. Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor dominan yang mendorong penguatan dolar AS sekaligus menekan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai situasi kawasan Timur Tengah semakin meningkatkan kekhawatiran investor global. Konflik yang melibatkan sejumlah negara di kawasan tersebut dinilai berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi dunia.

Israel dilaporkan masih melanjutkan operasi militernya di Lebanon bagian selatan. Di sisi lain, Iran disebut meluncurkan serangan rudal balistik ke wilayah Kuwait dan Bahrain. Kondisi tersebut memperbesar risiko geopolitik yang menjadi perhatian pasar internasional.

Ketegangan juga meningkat di sekitar Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia. Kawasan tersebut kembali menjadi sorotan setelah adanya operasi militer Amerika Serikat di Pulau Qeshm, wilayah Iran yang berada dekat dengan Selat Hormuz.

Posisi Selat Hormuz sangat krusial karena menjadi jalur distribusi sekitar 20 persen kebutuhan minyak dunia. Gangguan terhadap jalur tersebut dapat memicu lonjakan harga energi global dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi internasional.

Meski Amerika Serikat dan Iran sebelumnya mengumumkan adanya kesepakatan kerangka kerja sementara untuk meredakan konflik, pasar masih menunggu kepastian karena hingga kini belum ada persetujuan resmi yang mengikat kedua pihak.

Situasi inilah yang membuat investor cenderung memburu aset aman seperti dolar AS. Akibatnya, indeks dolar kembali menguat dan memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang.

Tidak hanya faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah juga datang dari dalam negeri. Data inflasi Indonesia pada Mei 2026 menunjukkan kenaikan secara bulanan menjadi 0,28 persen. Selain itu, Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat dari 111,09 pada April menjadi 111,40 pada Mei 2026.

Kenaikan inflasi tersebut menimbulkan kekhawatiran pasar terhadap daya beli masyarakat dan stabilitas harga dalam negeri. Kondisi ini menjadi salah satu sentimen yang memperburuk pergerakan rupiah dalam jangka pendek.

Di sisi lain, Indonesia masih mencatat surplus neraca perdagangan pada April 2026 sebesar 89,1 juta dolar AS. Capaian tersebut memperpanjang tren surplus perdagangan nasional yang telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Meski demikian, pasar menilai surplus tersebut mengalami penyusutan yang cukup signifikan dibandingkan periode sebelumnya. Penyempitan surplus dianggap menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap sektor eksternal mulai meningkat akibat perlambatan perdagangan global dan terganggunya rantai pasok internasional.

Sejumlah analis menilai kombinasi antara meningkatnya risiko geopolitik, kenaikan inflasi domestik, serta menyempitnya surplus perdagangan membuat ruang penguatan rupiah semakin terbatas dalam waktu dekat.

Apabila ketidakpastian global terus berlanjut dan harga energi dunia kembali melonjak, rupiah berpotensi menghadapi tekanan yang lebih besar. Pasar kini menantikan langkah Bank Indonesia dan pemerintah dalam menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus meredam dampak gejolak eksternal terhadap perekonomian nasional.

Editor : Mahendra Aditya
#Inflasi Indonesia 2026 #rupiah tembus 18000 #kurs dolar AS #Rupiah hari ini #nilai tukar rupiah