RADAR KUDUS – Tekanan terhadap mata uang domestik belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Nilai tukar rupiah kembali dilaporkan ambles dan terkapar cukup dalam melawan keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (3/6/2026).
Depresiasi yang terus berlanjut ini mulai memicu reaksi berantai di sektor perbankan nasional, di mana sejumlah bank kini secara agresif mengerek nilai jual dolar AS mereka.
Pada sesi perdagangan hari ini, pergerakan kurs rupiah sempat melemah dan tertahan di kisaran Rp17.925 per dolar AS.
Namun, volatilitas pasar yang tinggi merontokkan pertahanan mata uang Garuda hingga data pasar spot terbaru mencatatkan rupiah terjungkal ke level Rp17.955 per dolar AS.
Perbankan Mulai Jual Dolar AS di Atas Rp18.000
Merespons tingginya tekanan di pasar valuta asing (forex) serta lonjakan permintaan yang masif terhadap greenback, sejumlah perbankan nasional dan asing yang beroperasi di Indonesia mulai mengambil langkah taktis.
Mereka secara resmi menaikkan kurs jual dolar AS mendekati, bahkan telah melampaui level psikologis baru, yakni Rp18.000 per dolar AS.
Berdasarkan pemantauan terhadap papan kurs perbankan, beberapa institusi keuangan terpantau sudah berani memasang tarif premium untuk penjualan mata uang negeri Paman Sam tersebut:
-
HSBC Indonesia: Menjadi salah satu yang tertinggi dengan memasang kurs jual untuk kategori bank notes hingga mencapai Rp18.185 per dolar AS, sementara untuk transfer rate dipatok pada level Rp18.110 per dolar AS.
-
SMBC Indonesia: Secara resmi melepas dan menjual satu dolar AS kepada nasabahnya di level Rp18.100.
Di tengah lonjakan agresif bank-bank asing tersebut, sejumlah bank pelat merah (Himbara) dan bank swasta besar nasional terpantau masih menahan pergerakan kurs mereka.
Bank seperti BCA, Mandiri, BNI, dan CIMB Niaga dilaporkan masih menawarkan kurs jual di kisaran Rp17.900-an per dolar AS.
Spread Makin Lebar, Pelaku Usaha Mulai Waspada
| Kondisi Kurs Perbankan Terkini (Rabu, 3 Juni 2026) |
| Kurs Pasar Spot: Rupiah menyentuh level terendah baru di Rp17.955 per dolar AS. |
| Aksi Bank Asing: HSBC dan SMBC resmi menjual USD di atas level Rp18.100. |
| Kondisi Bank Domestik: BCA, Mandiri, dan BNI masih bertahan di koridor Rp17.900-an. |
Fenomena melebarnya selisih (spread) antara kurs beli dan kurs jual di tingkat perbankan ini kini mulai memicu alarm kewaspadaan.
Situasi ini menjadi perhatian serius, tidak hanya bagi masyarakat umum yang memiliki keperluan valas, tetapi juga bagi para pelaku usaha, khususnya sektor industri manufaktur yang berbasis impor.
Jika tren pelemahan nilai tukar rupiah ini terus bergulir tanpa adanya intervensi agresif dari otoritas moneter, dikhawatirkan biaya produksi dan operasional korporasi akan membengkak, yang pada akhirnya berpotensi memicu kenaikan harga barang di tingkat konsumen (imported inflation). (*)