Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Harga Bitcoin Jebol di Bawah US$ 70.000, Ini Penyebab Utamanya

Iwan Arfianto • Rabu, 3 Juni 2026 | 10:41 WIB
Ilustrasi bitcoin
Ilustrasi bitcoin

 

Jakarta - Harga Bitcoin mengalami koreksi tajam dan kembali jatuh ke bawah level psikologis US$ 70.000.

Pelemahan ini menjadi yang terdalam dalam beberapa bulan terakhir dan memicu kekhawatiran di kalangan investor aset kripto.

Dalam perdagangan terbaru, Bitcoin sempat turun lebih dari 6% hingga menyentuh kisaran US$ 67.000.

Penurunan tersebut sekaligus membawa aset kripto terbesar di dunia itu ke level terendah sejak awal April 2026.

Tidak hanya Bitcoin, sejumlah aset digital utama lainnya juga ikut tertekan.

Ether (ETH) tercatat mengalami pelemahan, sementara saham perusahaan yang memiliki eksposur besar terhadap industri kripto turut bergerak di zona merah.

Dipicu Tekanan Jual dari Pemegang Besar

Pelaku pasar menilai koreksi harga Bitcoin dipengaruhi oleh aksi penjualan yang dilakukan salah satu perusahaan publik pemegang Bitcoin terbesar di dunia.

Langkah tersebut memicu kekhawatiran investor bahwa tekanan jual dapat berlanjut dalam waktu dekat.

Meski jumlah Bitcoin yang dilepas relatif kecil dibandingkan total kepemilikannya, keputusan itu dianggap cukup mengejutkan karena perusahaan tersebut selama ini dikenal konsisten menambah cadangan Bitcoin sebagai aset investasi jangka panjang.

Kabar tersebut langsung memicu perubahan sentimen di pasar dan mendorong investor melakukan aksi ambil untung.

Gelombang Likuidasi Percepat Kejatuhan

Penurunan harga yang terjadi juga diperparah oleh gelombang likuidasi posisi leverage.

Banyak trader sebelumnya membuka posisi beli dengan harapan Bitcoin akan melanjutkan tren kenaikan.

Namun ketika harga bergerak berlawanan dengan prediksi, sistem perdagangan otomatis di berbagai bursa kripto melakukan penutupan paksa terhadap posisi-posisi tersebut.

Akibatnya, tekanan jual semakin besar dan mempercepat pelemahan harga.

Dalam sehari terakhir, nilai likuidasi di pasar kripto dilaporkan mencapai ratusan juta dolar AS, menunjukkan tingginya volatilitas yang sedang terjadi.

Ketidakpastian Global Membebani Pasar

Selain faktor internal industri kripto, kondisi geopolitik dunia juga menjadi perhatian investor.

Ketegangan internasional yang masih berlangsung membuat sebagian pelaku pasar memilih mengurangi aset berisiko dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman.

Situasi tersebut menyebabkan Bitcoin gagal mempertahankan momentum kenaikannya, meski sebelumnya sempat mendekati level tertinggi sepanjang masa.

Narasi Bitcoin Kembali Diuji

Koreksi terbaru ini turut memunculkan kembali perdebatan mengenai peran Bitcoin sebagai aset lindung nilai.

Selama ini, Bitcoin kerap disebut sebagai "emas digital" yang mampu bertahan saat kondisi ekonomi dan geopolitik tidak menentu.

Namun dalam beberapa periode terakhir, pergerakan Bitcoin justru menunjukkan pola yang berbeda.

Ketika pasar saham di sejumlah negara mencatatkan penguatan, harga Bitcoin malah bergerak melemah.

Kondisi tersebut membuat sebagian analis menilai bahwa hubungan Bitcoin dengan aset tradisional masih terus berkembang dan belum sepenuhnya stabil.

Meski demikian, sejumlah investor jangka panjang tetap optimistis terhadap prospek Bitcoin.

Mereka menilai volatilitas merupakan bagian dari karakter pasar kripto dan bukan hal baru bagi aset digital terbesar di dunia tersebut.

Editor : Iwan Arfianto
#pasar kripto #harga bitcoin #bitcoin