RADAR KUDUS – Pasar valuta asing domestik terus mengalami tekanan hebat setelah nilai tukar rupiah terpuruk hingga nyaris menyentuh level Rp17.800 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (26/5).
Menanggapi fluktuasi tajam tersebut, Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, secara terbuka mengaku heran dan menilai pelemahan mata uang Garuda kali ini sudah tidak mencerminkan realitas yang ada.
Menurut Menkeu, kejatuhan nilai tukar rupiah di posisi terendah baru ini terbilang aneh dan berada di luar nalar kalkulasi ekonomi murni.
Pasalnya, indikator makroekonomi dan fundamental domestik Indonesia saat ini sebenarnya berada dalam tren yang sangat kokoh.
"Secara teori dan historis, mata uang suatu negara baru akan melemah secara drastis apabila terjadi gangguan serius pada fundamental ekonominya.
Namun, kondisi kita saat ini justru sebaliknya; indikator ekonomi nasional kuat dan stabil. Jadi, pelemahan tajam hingga mendekati Rp17.800 ini benar-benar tidak masuk akal," ujar Purbaya saat memberikan keterangan di kompleks kementerian.
Tekanan Eksternal Versus Ketahanan Domestik
Para analis pasar melihat bahwa anjloknya rupiah lebih banyak dipicu oleh sentimen global, termasuk kebijakan suku bunga ketat yang berkepanjangan dari bank sentral AS (The Fed) serta ketidakpastian geopolitik.
Faktor-faktor luar inilah yang memaksa terjadinya arus modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Meski begitu, Purbaya menegaskan masyarakat dan pelaku pasar tidak perlu panik secara berlebihan.
Daya tahan ekonomi nasional yang ditopang oleh konsumsi domestik yang kuat, pertumbuhan ekonomi yang terjaga di atas 5 persen, serta terkendalinya angka inflasi menjadi modal utama Indonesia dalam menghadapi badai eksternal ini.
APBN Masih Aman, Pemerintah Belum Perlu Stress Test Susulan
Merespons kekhawatiran publik mengenai potensi pembengkakan beban anggaran negara akibat pelemahan nilai tukar, muncul desakan agar Kementerian Keuangan segera melakukan uji ketahanan fiskal darurat (stress test) terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Namun, Purbaya menegaskan bahwa langkah ekstrem tersebut belum diperlukan untuk saat ini.
Pemerintah memastikan postur APBN masih memiliki bantalan (buffer) yang cukup tebal untuk meredam guncangan kurs.
"Kami sudah melakukan simulasi dan mitigasi risiko yang sangat ketat sebelumnya. Dalam stress test terdahulu, kami bahkan sudah memasukkan skenario terburuk jika harga minyak mentah dunia melonjak hingga US$100 per barel, lengkap dengan simulasi depresiasi rupiah yang dalam.
Karena kalkulasi tersebut sudah masuk dalam perencanaan fiskal, kondisi pergerakan kurs saat ini masih berada dalam batas yang dapat diantisipasi dan dikendalikan," pungkasnya optimis. (*)