RADAR KUDUS — Pasar valuta asing domestik kembali diguncang sentimen negatif. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau mengalami koreksi tajam hingga sempat menembus level psikologis baru di angka Rp17.800 per dolar AS.
Pelemahan ini mencatatkan salah satu kontraksi terdalam bagi mata uang Garuda dalam beberapa tahun terakhir, memicu kekhawatiran baru di kalangan pelaku pasar dan pelaku industri nasional.
Kemerosotan nilai tukar ini tidak lepas dari keperkasaan indeks dolar AS (greenback) di pasar global yang disokong oleh tingginya ketidakpastian geopolitik serta dinamika ekonomi dunia.
Baca Juga: Hebat! Lewat Pendanaan Swadaya Orang Tua, Tim Olimpiade Biologi Indonesia Borong 7 Medali di Rusia
Kebijakan moneter ketat yang diadopsi oleh bank sentral global memaksa terjadinya aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar negara-negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia.
Kontras Performa: Rupiah Melemah, Mata Uang Regional Justru Menguat
Menariknya, pelemahan yang dialami rupiah terjadi di saat sejumlah mata uang utama di kawasan Asia justru menunjukkan performa yang kokoh dan berbalik menguat terhadap dolar AS.
Yuan China (CNY) dan Ringgit Malaysia (MYR), misalnya, tampil perkasa di zona hijau berkat sejumlah stimulus internal.
Penguatan mata uang regional tersebut didorong oleh derasnya arus investasi asing langsung yang masuk ke wilayah mereka, serta masifnya peningkatan volume perdagangan internasional berbasis yuan.
Faktor stabilitas makroekonomi dan optimisme terhadap kemitraan dagang global menjadi benteng kuat bagi yuan dan ringgit dari tekanan dolar AS.
Sebaliknya, rupiah masih harus tertatih-tatih menghadapi hantaman sentimen eksternal. Ketergantungan yang cukup tinggi pada komoditas tertentu serta sensitivitas pasar keuangan dalam negeri terhadap rumor suku bunga global membuat langkah rupiah kian berat untuk melakukan rebound dalam jangka pendek.
Langkah Antisipasi Bank Indonesia dan Pemerintah
Meskipun volatilitas pasar saat ini terbilang sangat tinggi, para analis mengingatkan bahwa pergerakan nilai tukar bersifat dinamis dan dapat berbalik arah sewaktu-waktu.
Baca Juga: Bukan Sabotase, Bareskrim Tegaskan Cuaca Ekstrem Jadi Pemicu Utama Blackout Massal di Sumatra
Pola pergerakan akan sangat bergantung pada efektivitas intervensi pasar dan perubahan kebijakan ekonomi global ke depan.
Merespons situasi darurat ini, Bank Indonesia (BI) bersama dengan Kementerian Keuangan terus bersiaga penuh di pasar demi mengawal stabilitas nilai tukar.
BI diprediksi akan mengoptimalkan seluruh instrumen moneter yang dimiliki—termasuk melakukan intervensi ganda (triple intervention) di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pasar Surat Berharga Negara (SBN)—guna menahan laju depresiasi rupiah agar tidak mengganggu momentum pemulihan ekonomi nasional. (*)