RADAR KUDUS - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menghadapi tekanan pada perdagangan Senin, 25 Mei 2026.
Mata uang Garuda diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di tengah kombinasi sentimen domestik dan global yang masih membebani pasar keuangan Indonesia.
Berdasarkan data perdagangan terbaru, rupiah sempat dibuka menguat tipis di level Rp17.703 per dolar AS.
Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama karena tekanan jual kembali muncul hingga rupiah bergerak di kisaran Rp17.730 sampai akhirnya ditutup melemah di level Rp17.744 per dolar AS.
Pergerakan ini mencerminkan kehati-hatian investor terhadap kondisi ekonomi global maupun domestik yang dinilai masih penuh ketidakpastian.
Defisit Transaksi Berjalan Jadi Sorotan Pasar
Salah satu faktor utama yang menekan rupiah berasal dari memburuknya neraca transaksi berjalan Indonesia.
Data terbaru menunjukkan defisit transaksi berjalan meningkat lebih besar dibandingkan perkiraan pelaku pasar.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap ketahanan eksternal ekonomi Indonesia, terutama terkait kebutuhan devisa dan kemampuan menjaga stabilitas nilai tukar dalam jangka menengah.
Analis pasar keuangan menilai lonjakan defisit transaksi berjalan membuat investor asing lebih berhati-hati terhadap aset berdenominasi rupiah.
Akibatnya, permintaan dolar AS meningkat sebagai aset lindung nilai atau safe haven.
Selain rupiah, sejumlah mata uang Asia juga mengalami tekanan terhadap dolar AS. Yen Jepang, won Korea Selatan, dolar Singapura, ringgit Malaysia, hingga baht Thailand tercatat ikut melemah dalam perdagangan regional.
Ketegangan Timur Tengah Pengaruhi Pasar Global
Tekanan terhadap rupiah juga datang dari faktor eksternal, khususnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Pelaku pasar global saat ini menunggu respons Iran terhadap proposal diplomatik Amerika Serikat yang dinilai berpotensi memengaruhi arah pasar keuangan dunia.
Situasi geopolitik yang belum stabil membuat investor global cenderung mengalihkan dana ke aset aman seperti dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika Serikat. Dampaknya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, kembali berada dalam tekanan.
Kondisi ini diperparah oleh sentimen risk off yang masih membayangi pasar saham domestik. Dalam beberapa hari terakhir, pergerakan indeks saham Indonesia juga cenderung volatil akibat aksi jual investor asing.
Dolar AS Masih Dominan di Pasar Global
Meski indeks dolar AS sempat mengalami pelemahan tipis di bawah level 99, posisi greenback masih dianggap kuat dibandingkan mayoritas mata uang emerging markets.
Bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve juga masih menjadi perhatian utama investor global. Pasar menunggu arah kebijakan suku bunga berikutnya yang diperkirakan tetap ketat apabila inflasi AS belum menunjukkan penurunan signifikan.
Jika suku bunga tinggi bertahan lebih lama, tekanan terhadap rupiah dan mata uang Asia diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.
Proyeksi Rupiah Pekan Ini
Sejumlah analis memperkirakan rupiah masih bergerak dalam rentang Rp17.650 hingga Rp17.800 per dolar AS sepanjang awal pekan ini. Volatilitas diperkirakan tetap tinggi seiring perkembangan geopolitik dan data ekonomi global.
Pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan terus menjaga stabilitas pasar keuangan melalui intervensi pasar valas serta penguatan cadangan devisa agar tekanan terhadap rupiah tidak semakin dalam.
Di sisi lain, pelaku usaha dan investor diminta tetap waspada terhadap risiko fluktuasi kurs yang dapat berdampak pada biaya impor, harga bahan baku, hingga inflasi domestik.
Editor : Mahendra Aditya