RADAR KUDUS - Mongolia berhasil mengambil posisi teratas sebagai pemasok batu bara terbesar ke China pada April 2026, menggeser dominasi Indonesia yang selama ini memimpin pasar ekspor batu bara ke Negeri Tirai Bambu.
Lonjakan pengiriman dari Mongolia mencapai 61 persen secara tahunan, didorong meningkatnya permintaan lintas perbatasan serta melemahnya daya saing batu bara Indonesia di pasar China.
Data Administrasi Umum Bea Cukai China menunjukkan Mongolia mengirimkan sekitar 11,33 juta metrik ton batu bara ke China sepanjang April 2026.
Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibanding ekspor Indonesia yang tercatat sebesar 11,12 juta ton. Sementara itu, impor batu bara China dari Indonesia justru mengalami penurunan 22 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Meski kalah pada April, Indonesia masih mempertahankan posisi unggul secara akumulatif selama Januari hingga April 2026. Total ekspor batu bara Indonesia ke China mencapai 61,43 juta ton, sedangkan Mongolia mencatatkan 39,37 juta ton. Namun, tren pertumbuhan Mongolia menjadi perhatian besar karena kenaikannya sangat agresif, mencapai 61 persen sepanjang empat bulan pertama tahun ini.
Lembaga analitik pelayaran dan perdagangan maritim Signal Ocean menyebut meningkatnya produksi batu bara domestik China menjadi salah satu penyebab utama menurunnya permintaan terhadap batu bara Indonesia, khususnya batu bara kalori rendah atau low-CV coal. Harga batu bara lokal China yang lebih murah juga membuat impor dari Indonesia kehilangan daya saing di kawasan pesisir industri China.
Selain faktor harga, kebijakan pemerintah Indonesia turut menjadi perhatian pelaku pasar global. Pemerintah sebelumnya mengungkap rencana sentralisasi ekspor sejumlah komoditas strategis, termasuk batu bara dan minyak sawit, melalui badan usaha milik negara. Kebijakan tersebut memicu kekhawatiran investor karena dianggap dapat memperbesar kontrol pemerintah terhadap harga ekspor komoditas.
Di tengah perubahan peta pemasok batu bara tersebut, total impor batu bara China justru sedang mengalami perlambatan. Sepanjang April 2026, impor batu bara China turun 14 persen secara tahunan menjadi sekitar 33,1 juta ton. Secara kumulatif Januari-April 2026, total impor mencapai 149,4 juta ton atau turun 2,1 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Penurunan juga terjadi pada pemasok utama lainnya. Impor batu bara China dari Rusia tercatat turun 30 persen pada April menjadi sekitar 5,21 juta ton. Sementara Australia mengalami penurunan lebih tajam hingga 39 persen dengan total pengiriman sekitar 4,22 juta ton.
Perubahan ini menunjukkan pasar batu bara Asia mulai mengalami pergeseran besar akibat kombinasi faktor geopolitik, kebijakan domestik China, harga energi global, hingga strategi ekspor negara produsen utama.
Data Impor Batu Bara China April 2026
- Indonesia: 11,12 juta ton (-22 persen YoY)
- Mongolia: 11,33 juta ton (+61 persen YoY)
- Rusia: 5,21 juta ton (-30 persen YoY)
- Australia: 4,22 juta ton (-39 persen YoY)
Sejumlah laporan internasional seperti Reuters dan data resmi Bea Cukai China turut mengonfirmasi perubahan signifikan dalam arus perdagangan batu bara kawasan Asia sepanjang 2026.
Editor : Mahendra Aditya