RADAR KUDUS - Pelemahan nilai tukar rupiah hingga menembus level Rp17.700 per dolar Amerika Serikat kembali memunculkan kekhawatiran publik terhadap kemungkinan terulangnya krisis moneter 1998. Namun pemerintah memastikan kondisi ekonomi Indonesia saat ini sangat berbeda dibanding situasi saat krisis besar hampir tiga dekade lalu.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pelemahan rupiah pada 2026 tidak bisa disamakan dengan kehancuran ekonomi yang terjadi pada 1998. Menurutnya, fondasi ekonomi nasional saat ini masih berada dalam kondisi solid meskipun tekanan global terus meningkat.
Purbaya menjelaskan bahwa pada 1998 Indonesia menghadapi kombinasi krisis ekonomi, kesalahan kebijakan, hingga ketidakstabilan sosial dan politik yang memperburuk situasi nasional. Dampaknya sangat besar, mulai dari lonjakan inflasi, runtuhnya sektor perbankan, hingga ekonomi nasional yang masuk jurang resesi dalam.
“Situasi sekarang berbeda jauh. Tahun 1998 terjadi kesalahan kebijakan dan instabilitas sosial-politik setelah ekonomi mengalami resesi panjang,” ujar Purbaya.
Inflasi 2026 Masih Terkendali
Salah satu pembeda terbesar antara kondisi saat ini dengan 1998 terlihat dari tingkat inflasi. Saat krisis moneter 1998, inflasi Indonesia melonjak hingga lebih dari 77 persen. Harga kebutuhan pokok naik drastis dan daya beli masyarakat runtuh.
Sementara pada April 2026, inflasi Indonesia tercatat berada di level 2,41 persen. Angka tersebut masih berada dalam rentang sasaran pemerintah dan Bank Indonesia, yakni sekitar plus minus 3 persen.
Artinya, meski rupiah melemah cukup tajam, kenaikan harga barang dan jasa secara umum masih relatif terkendali.
Ekonomi Indonesia Masih Tumbuh Positif
Perbedaan signifikan lainnya terlihat dari pertumbuhan ekonomi nasional. Pada masa krisis 1998, ekonomi Indonesia mengalami kontraksi hingga minus 13 persen. Banyak perusahaan kolaps, pengangguran melonjak, dan aktivitas usaha lumpuh total.
Berbeda dengan kondisi saat ini, ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 justru tumbuh 5,61 persen. Pertumbuhan tersebut menunjukkan konsumsi masyarakat dan investasi masih bergerak cukup kuat meski tekanan eksternal meningkat akibat kondisi global dan gejolak geopolitik.
Sektor Perbankan Dinilai Lebih Kuat
Pemerintah juga menilai sistem perbankan Indonesia jauh lebih sehat dibanding era krisis moneter 1998.
Pada saat itu, banyak bank kehilangan modal sehingga rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) berada di zona negatif. Kredit macet atau non-performing loan (NPL) bahkan sempat menyentuh sekitar 30 persen.
Kini, kondisi perbankan dinilai jauh lebih stabil. Hingga Februari 2026, CAR perbankan Indonesia tercatat sebesar 25,83 persen, sedangkan rasio kredit bermasalah masih berada di level aman sekitar 2,17 persen secara bruto.
Angka tersebut menunjukkan sektor keuangan nasional masih memiliki bantalan modal yang kuat untuk menghadapi tekanan ekonomi global.
Cadangan Devisa Jadi Senjata Utama
Cadangan devisa Indonesia juga menjadi faktor penting yang membedakan situasi sekarang dengan krisis 1998.
Pada masa krisis moneter, Indonesia hanya memiliki sekitar US$17,4 miliar cadangan devisa. Kondisi itu membuat pemerintah kesulitan menjaga stabilitas rupiah dan membiayai kebutuhan impor.
Sementara per April 2026, posisi cadangan devisa Indonesia mencapai sekitar US$146 miliar. Jumlah tersebut dinilai cukup besar untuk membantu menjaga stabilitas pasar keuangan dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Rupiah Melemah, Tapi Kondisi Tak Sama dengan 1998
Meski nilai tukar rupiah saat ini terus mendapat tekanan, pemerintah meminta masyarakat tidak panik. Pelemahan mata uang dinilai lebih dipengaruhi kondisi global, termasuk tensi geopolitik internasional dan penguatan dolar AS.
Pemerintah dan Bank Indonesia juga terus menyiapkan berbagai langkah stabilisasi agar tekanan terhadap rupiah tidak semakin dalam.
Dengan kondisi inflasi yang terkendali, pertumbuhan ekonomi yang tetap positif, perbankan yang sehat, serta cadangan devisa yang besar, pemerintah optimistis Indonesia mampu menghadapi tekanan ekonomi global tanpa mengalami krisis seperti 1998.
Editor : Mahendra Aditya