Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Rupiah Terperosok ke Level Terendah, Primus Yustisio Desak Gubernur BI Mundur: "Ambillah Sikap Gentleman"

Ghina Nailal Husna • Senin, 18 Mei 2026 | 22:03 WIB
Rupiah Terperosok ke Level Terendah, Primus Yustisio Desak Gubernur BI Mundur
Rupiah Terperosok ke Level Terendah, Primus Yustisio Desak Gubernur BI Mundur

 

RADAR KUDUS – Ketegangan mewarnai ruang rapat Komisi XI DPR RI pada Senin (18/5/2026), saat agenda evaluasi kebijakan moneter bersama jajaran Bank Indonesia (BI).

Di tengah anjloknya nilai tukar rupiah yang menembus rekor terendah baru, Anggota Komisi XI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Primus Yustisio, melontarkan kritik pedas sekaligus desakan mundur kepada Gubernur BI, Perry Warjiyo.

Pernyataan keras ini dipicu oleh performa mata uang garuda yang kian tak bertenaga.

Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.600, Menkeu Purbaya: Kondisi Ekonomi Saat Ini Jauh Berbeda dengan Krisis 1998

Berdasarkan data dari Trading Economic, rupiah pagi ini dibuka melemah di level Rp17.660 per dolar AS dan sempat terseret hingga menyentuh angka Rp17.700 per dolar AS, sebuah posisi yang dinilai banyak pihak sebagai zona merah bagi stabilitas makroekonomi.

Dalam interupsinya, Primus menekankan bahwa dalam tradisi kepemimpinan yang berintegritas, pengunduran diri bukanlah sebuah bentuk penghinaan, melainkan manifestasi tanggung jawab moral atas kegagalan dalam menjalankan tugas pokok.

"Pak Perry yang saya hormati, kadang kalau kita mengambil tindakan gentleman, itu bukan penghinaan, Pak. Mungkin sudah saatnya Bapak mengundurkan diri.

Anda akan lebih dihormati seperti di Korea dan Jepang jika mengakui ketidakmampuan dalam menjalankan tugas dengan baik," ujar Primus di hadapan jajaran petinggi bank sentral.

Politisi PAN ini menilai bahwa kredibilitas pimpinan BI saat ini tengah dipertaruhkan di mata pasar internasional.

Tanpa adanya tindakan nyata yang mampu membalikkan keadaan, posisi pimpinan otoritas moneter dianggap tidak lagi memiliki "taring" untuk menenangkan spekulasi investor global.

Anomali Ekonomi: Pertumbuhan Tinggi, Mata Uang Melemah

Primus menyoroti adanya kontradiksi atau anomali yang mengkhawatirkan dalam indikator ekonomi nasional.

Di satu sisi, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat cukup impresif di angka 5,61% (YoY). Namun, di sisi lain, nilai tukar rupiah justru terus merosot tanpa perlawanan yang berarti.

Menurutnya, pelemahan ini bersifat menyeluruh, bukan sekadar imbas dari penguatan dolar AS secara global. "Ini yang menurut saya harus tajam dipertanyakan.

Rupiah kita lemah terhadap hampir semua mata uang. Ini ironis. Investor global mulai mempertanyakan kapabilitas otoritas bank sentral kita dalam meredam gejolak ini," tambahnya dengan nada kecewa.

Lebih jauh, Primus menekankan bahwa kebijakan stabilitas yang selama ini ditempuh BI tampaknya sudah kehilangan efektivitasnya di lapangan.

Ia menuding bahwa Bank Indonesia seolah mengesampingkan kredibilitasnya demi retorika-retorika yang tidak sesuai dengan realitas pasar.

Baca Juga: Bawa 100 Slop Rokok, Koper Jemaah Haji Indonesia Dibongkar Petugas Bea Cukai di Jeddah

"Sebagai tokoh utama, Anda harus berani melawan, ada apa ini? Kenapa ini bisa terjadi? Jika pasar sudah tidak percaya lagi pada langkah-langkah BI, maka stabilitas ekonomi kita dalam bahaya besar," tegasnya.

Pertemuan tersebut menjadi salah satu sidang paling krusial bagi Bank Indonesia tahun ini, mengingat tekanan publik terhadap stabilitas nilai tukar kian memuncak seiring dengan kenaikan harga-harga barang yang bergantung pada komponen impor.

Hingga berita ini diturunkan, Gubernur BI Perry Warjiyo masih memberikan penjelasan teknis terkait langkah-langkah intervensi pasar yang tengah dilakukan. (*)

 

 

Editor : Ghina Nailal Husna
#Primus Yustisio #Perry Warjiyo #Pelemahaan Rupiah #Komisi XI DPR #Stabilitas Moneter