Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Rupiah Tembus Rp17.600, Menkeu Purbaya: Kondisi Ekonomi Saat Ini Jauh Berbeda dengan Krisis 1998

Ghina Nailal Husna • Senin, 18 Mei 2026 | 22:00 WIB
Rupiah Tembus Rp17.600, Menkeu Purbaya: Kondisi Ekonomi Saat Ini Jauh Berbeda dengan Krisis 1998
Rupiah Tembus Rp17.600, Menkeu Purbaya: Kondisi Ekonomi Saat Ini Jauh Berbeda dengan Krisis 1998

 

RADAR KUDUS – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan pernyataan tegas guna meredam kekhawatiran publik menyusul pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.600 per dolar AS.

Di tengah sentimen negatif yang membayangi pasar keuangan dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Menkeu memastikan bahwa fundamental ekonomi nasional masih berada dalam posisi yang tangguh.

Purbaya secara khusus membantah narasi yang mencoba membandingkan gejolak ekonomi saat ini dengan krisis moneter dahsyat yang menimpa Indonesia pada tahun 1997-1998.

Baca Juga: Bawa 100 Slop Rokok, Koper Jemaah Haji Indonesia Dibongkar Petugas Bea Cukai di Jeddah

Menkeu Purbaya menjelaskan bahwa variabel ekonomi hari ini sangat kontras dengan situasi tiga dekade silam.

Ia menggarisbawahi bahwa pada periode 1997-1998, Indonesia telah memasuki fase resesi terlebih dahulu sebelum akhirnya terjadi instabilitas sosial dan politik yang masif.

"Kalau rupiah melemah, seolah-olah kita akan bergerak seperti 1997-1998 lagi. Itu pandangan yang keliru, kondisinya berbeda," tegas Purbaya. Ia menambahkan bahwa saat ini Indonesia tidak berada dalam ancaman resesi.

"Ekonomi kita masih tumbuh kencang. Kita punya pondasi yang lebih solid, sehingga masih ada ruang yang sangat luas bagi pemerintah dan otoritas moneter untuk memperbaiki semuanya."

Alih-alih menyebarkan kepanikan, Menkeu justru melihat fluktuasi pasar modal sebagai peluang emas bagi para pelaku pasar.

Ia mendorong para investor saham untuk tidak menarik diri, melainkan memanfaatkan penurunan harga saham-saham berkualitas sebagai momentum untuk melakukan akumulasi beli.

"Investor pasar saham kalau saya bilang jangan takut, serok bawah sekalian. Kalau saya lihat secara teknikal, dalam sehari dua hari biasanya sudah akan balik (rebound). Jadi jangan lupa, beli kembali saham-saham perusahaan nasional kita," ujarnya dengan nada optimis.

Menurut Purbaya, koreksi yang terjadi pada IHSG bersifat sementara dan lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal serta sentimen psikologis pasar, bukan karena kerentanan struktural ekonomi domestik.

Baca Juga: Prabowo Subianto: "Jika Rakyat Lapar, Saya yang Bertanggung Jawab", Komitmen Penuh Menuju Swasembada Pangan

Meski angka Rp17.600 per dolar AS menjadi perhatian serius, Kementerian Keuangan terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk memantau pergerakan pasar.

Fokus utama pemerintah saat ini adalah memastikan inflasi tetap terkendali dan daya beli masyarakat tidak tergerus oleh kenaikan harga barang impor.

Dengan cadangan devisa yang memadai dan kebijakan fiskal yang disiplin, pemerintah yakin badai depresiasi ini dapat dilewati tanpa mengganggu target pertumbuhan ekonomi tahunan. (*)

 

 

Editor : Ghina Nailal Husna
#Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa #Krisis Ekonomi 1998 #pertumbuhan ekonomi indonesia #investasi saham #kurs rupiah