RADAR KUDUS - Harga emas dunia kembali mengalami tekanan pada perdagangan Rabu waktu setempat.
Pelemahan ini menjadi yang kedua secara beruntun setelah pasar dikejutkan oleh lonjakan inflasi Amerika Serikat yang dipicu dampak perang Iran dan kenaikan harga energi global.
Mengutip laporan Reuters, harga emas spot turun sekitar 0,6 persen ke level US$4.686,35 per ons.
Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat masih mampu ditutup menguat tipis 0,4 persen menjadi US$4.706,70 per ons.
Tekanan terhadap logam mulia muncul setelah data inflasi produsen AS pada April tercatat lebih tinggi dibanding perkiraan analis.
Bahkan, kenaikan tersebut disebut sebagai yang terbesar sejak awal 2022. Kondisi itu memperkuat keyakinan pasar bahwa tekanan harga masih sulit dikendalikan.
Vice President sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant, mengatakan tingginya inflasi membuat ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama.
Situasi tersebut langsung berdampak negatif terhadap pergerakan harga emas global dalam beberapa hari terakhir.
Selain inflasi produsen, data inflasi konsumen AS juga menunjukkan kenaikan lanjutan sepanjang April.
Secara tahunan, angka inflasi bahkan mencatat lonjakan tertinggi dalam tiga tahun terakhir sehingga memicu kekhawatiran investor.
Pasar kini semakin yakin bahwa bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve belum akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat.
Sebelumnya, The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50 hingga 3,75 persen.
Berdasarkan data CME FedWatch, pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi pemangkasan bunga sepanjang tahun ini.
Di tengah tekanan inflasi, perhatian investor juga tertuju pada pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping.
Pertemuan itu dinilai penting untuk menjaga stabilitas hubungan dagang kedua negara di tengah situasi geopolitik yang memanas akibat perang Iran.
Dari sisi permintaan global, India turut memberi sentimen negatif terhadap emas setelah pemerintah negara tersebut menaikkan tarif impor emas dan perak dari 6 persen menjadi 15 persen.
Kebijakan itu dilakukan untuk menekan impor logam mulia dan menjaga cadangan devisa.
Peter Grant menilai kenaikan bea impor India dapat menjadi hambatan jangka panjang bagi permintaan emas dunia karena India merupakan salah satu konsumen terbesar logam mulia global.
Berbeda dengan emas, beberapa logam mulia lainnya justru mencatat penguatan. Harga perak spot melonjak 1,6 persen menjadi US$87,88 per ons dan sempat menyentuh level tertinggi dua bulan terakhir.
Platinum juga naik 1,6 persen menjadi US$2.159,58 per ons, sedangkan palladium menguat 1,2 persen ke level US$1.508,39 per ons.
Editor : Mahendra Aditya