Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Gawat! Rupiah Tertekan ke Level Rp17.500, Ancaman Melemah Masih Berlanjut

Ali Mustofa • Selasa, 12 Mei 2026 | 14:45 WIB
Ilustrasi uang Dolar Amerika dan Rupiah. (Dok/JawaPos.com)
Ilustrasi uang Dolar Amerika dan Rupiah. (Dok/JawaPos.com)

RADAR KUDUS – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Pada perdagangan Selasa (12/5), mata uang Garuda tercatat sempat menyentuh level Rp17.500 per dolar AS.

Dan diperkirakan masih berpotensi melemah lebih lanjut hingga kisaran Rp17.550 dalam beberapa hari ke depan.

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyebut bahwa pelemahan rupiah kali ini tidak hanya dipicu oleh satu faktor.

Melainkan gabungan antara tekanan eksternal dan kondisi domestik yang membuat investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang lebih aman seperti dolar AS.

Dari sisi global, Ibrahim menjelaskan bahwa meningkatnya kembali ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu pemicu utama.

Situasi tersebut dipicu oleh kabar penolakan Amerika Serikat terhadap usulan perdamaian Iran yang sebelumnya dimediasi oleh Pakistan dan Qatar.

“Kita melihat kembali adanya eskalasi di Timur Tengah setelah Amerika Serikat menolak proposal dari Iran yang difasilitasi oleh Pakistan dan Qatar,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (12/5).

Ia menambahkan, kondisi tersebut memperburuk ketidakpastian di kawasan strategis seperti Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia.

Menurutnya, meski sempat ada anggapan konflik mulai mereda, kenyataan di lapangan justru menunjukkan sebaliknya.

“Masih terjadi aksi-aksi kecil di kawasan Selat Hormuz. Artinya, ketegangan belum benar-benar mereda seperti yang sebelumnya diperkirakan,” lanjutnya.

Ibrahim juga menyebut adanya aksi saling serang di kawasan tersebut, termasuk keterlibatan beberapa negara yang memperburuk situasi keamanan energi global.

Kondisi ini kemudian berdampak langsung pada pasar keuangan dunia.

Penguatan dolar AS terjadi seiring meningkatnya harga minyak mentah global, khususnya Brent crude oil.

Lonjakan harga energi ini dinilai memberikan tekanan tambahan terhadap negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia.

“Nah, ini yang mendorong indeks dolar menguat cukup tajam, sekaligus mengerek harga minyak dunia,” jelasnya.

Selain faktor global, Ibrahim menilai tekanan terhadap rupiah juga datang dari dalam negeri.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 yang tercatat sebesar 5,61 persen dinilai belum cukup kuat untuk memberikan dorongan signifikan terhadap penguatan mata uang nasional.

Menurutnya, pertumbuhan tersebut masih bertumpu pada konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah, sementara kontribusi dari sektor investasi masih relatif lemah.

“Pertumbuhan ekonomi kita masih didominasi konsumsi masyarakat dan belanja negara. Dampaknya terhadap investasi belum terlalu besar,” ujarnya.

Di sisi lain, pelaku pasar juga tengah mencermati keputusan lembaga indeks global MSCI terkait evaluasi pasar saham Indonesia dalam waktu dekat.

Kekhawatiran muncul terkait kemungkinan penurunan peringkat yang dapat memicu keluarnya dana asing dari pasar keuangan domestik.

“Pasar masih menunggu keputusan MSCI dalam beberapa hari ke depan. Isu penurunan peringkat ini menjadi salah satu faktor yang ikut menekan rupiah,” pungkas Ibrahim.

Editor : Ali Mustofa
#investor #selat hormuz #sektor investasi #amerika serikat #dolar