RADAR KUDUS — Stabilitas nilai tukar mata uang Garuda tengah menghadapi ujian berat.
Pada penutupan perdagangan Rabu (6/5/2026), nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tren pelemahan yang signifikan dengan menembus level psikologis baru di angka Rp17.412 per dolar AS.
Angka ini mencerminkan tekanan hebat yang terus membayangi perekonomian domestik sejak awal tahun.
Berdasarkan data yang dihimpun dari TradingView, pelemahan ini menambah catatan panjang depresiasi mata uang nasional.
Jika ditarik garis sejak awal masa jabatan Presiden Prabowo Subianto, rupiah tercatat telah anjlok sekitar 12 persen.
Saat pelantikan pada Oktober 2024 lalu, rupiah masih berada di posisi Rp15.489 per dolar AS. Kini, rupiah harus puas berada di jajaran salah satu mata uang dengan performa terlemah di kawasan Asia.
Kondisi pasar saat ini seolah menjadi antitesis dari visi besar yang sempat dicanangkan, yakni menargetkan penguatan rupiah hingga ke level Rp5.000 per dolar AS dalam kurun waktu 5 hingga 10 tahun ke depan.
Para pengamat ekonomi menilai bahwa dengan tren pelemahan yang menembus angka Rp17.400, target tersebut kini terasa semakin jauh dari jangkauan dan membutuhkan transformasi ekonomi yang luar biasa masif untuk bisa direalisasikan.
Pelemahan rupiah tidak terjadi di ruang hampa. Analis keuangan menyebutkan bahwa tekanan ini sangat dipengaruhi oleh dinamika global yang tidak menentu. Beberapa faktor eksternal yang menjadi beban utama bagi mata uang domestik meliputi:
Geopolitik Timur Tengah: Ketegangan yang terus memanas di kawasan tersebut memicu kekhawatiran pasar global dan mengalihkan aliran modal ke aset aman (safe haven) seperti dolar AS.
Lonjakan Harga Minyak: Kenaikan harga minyak mentah dunia memperberat beban impor energi Indonesia, yang pada gilirannya menekan neraca perdagangan dan stabilitas kurs.
Kebijakan Moneter AS: Kebijakan suku bunga yang masih ketat di Amerika Serikat terus menarik likuiditas keluar dari pasar negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia.
Pemerintah bersama Bank Indonesia dan otoritas keuangan lainnya kini tengah dalam posisi siaga tinggi dalam memantau pergerakan kurs.
Hal ini menjadi krusial karena terdapat selisih yang cukup lebar antara realitas pasar saat ini dengan asumsi makro dalam RAPBN 2026.
Dalam dokumen anggaran tersebut, pemerintah mematok asumsi nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp16.500 per dolar AS.
Baca Juga: Skema Gaji 30 Ribu Pegawai Kopdes Merah Putih: APBN Hanya Menanggung di Dua Tahun Pertama
Dengan posisi saat ini yang sudah melampaui Rp17.400, terdapat risiko pembengkakan biaya pada pos-pos anggaran yang sensitif terhadap kurs, seperti pembayaran utang luar negeri dan subsidi energi.
Pemerintah dituntut untuk segera merumuskan langkah taktis guna meredam volatilitas ini agar tidak berdampak lebih luas pada daya beli masyarakat dan inflasi nasional.
Fokus pada penguatan cadangan devisa dan insentif bagi eksportir untuk memarkir dolarnya di dalam negeri kembali menjadi agenda mendesak di tengah badai depresiasi ini. (*)
Editor : Ghina Nailal Husna