Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Rupiah Terpuruk Menuju Rp17.500: Efek Domino Mulai Sasar Harga Nasi Padang hingga Tiket Pesawat

Ghina Nailal Husna • Senin, 4 Mei 2026 | 14:00 WIB
Rupiah Terpuruk Menuju Rp17.500
Rupiah Terpuruk Menuju Rp17.500

 

RADAR KUDUS – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah semakin nyata dirasakan oleh masyarakat luas.

Mata uang Garuda yang diprediksi akan menembus level psikologis baru sebesar Rp17.500 per dolar AS mulai memicu kenaikan harga barang dan jasa secara masif.

Fenomena ini memaksa para pelaku usaha, mulai dari pedagang kaki lima hingga maskapai penerbangan, untuk melakukan penyesuaian tarif demi menjaga kelangsungan operasional.

Baca Juga: Konsolidasi Strategis di Hambalang: Presiden Prabowo Kumpulkan Menhan, Panglima TNI, hingga Kapolri

Kondisi ini diperparah dengan lonjakan harga minyak mentah global, yang secara otomatis meningkatkan biaya impor bahan baku dan energi di dalam negeri.

Salah satu indikator paling sederhana namun berdampak luas adalah kenaikan harga pangan harian.

Di berbagai wilayah, harga satu porsi nasi Padang yang semula berkisar di angka Rp15.000 kini telah merangkak naik menjadi Rp17.000. Kenaikan ini dipicu oleh mahalnya harga bahan pangan pokok dan gas yang terpengaruh oleh rantai pasok global.

Tidak hanya di sektor konsumsi rumah tangga, industri penerbangan pun mulai menjerit. Biaya avtur yang sensitif terhadap pergerakan dolar dan harga minyak dunia memaksa maskapai untuk menaikkan harga tiket pesawat.

Hal ini dikhawatirkan akan menurunkan daya beli masyarakat di sektor pariwisata dan bisnis.

Analis ekonomi menyebutkan bahwa pelemahan rupiah kali ini merupakan hasil dari "badai sempurna" di kancah global.

Kebijakan suku bunga tinggi yang tetap dipertahankan oleh bank sentral Amerika Serikat, The Fed, telah menarik aliran modal keluar dari pasar negara berkembang (outflow).

Di sisi lain, eskalasi konflik di Timur Tengah yang belum mereda telah mengganggu distribusi energi dunia, menyebabkan harga minyak mentah melonjak tajam.

Sebagai negara importir minyak, Indonesia sangat rentan terhadap kenaikan biaya energi yang kemudian bertransformasi menjadi biaya produksi yang lebih tinggi bagi pelaku usaha domestik.

Dengan kenaikan harga yang terjadi secara merata, risiko inflasi kini terbuka lebar. Jika tidak segera dimitigasi, kenaikan harga barang dan jasa ini dapat menekan konsumsi domestik yang selama ini menjadi motor penggerak ekonomi nasional.

Di tengah situasi pelik ini, wacana redenominasi atau penyederhanaan nominal rupiah kembali mencuat.

Baca Juga: Lautan Bunga di Stasiun Bekasi Timur: Pengelola Sediakan Area Khusus untuk Ungkapan Duka Publik

 Namun, para ahli menegaskan bahwa redenominasi hanyalah efisiensi administratif dan bukan solusi jangka pendek untuk memperkuat nilai tukar terhadap dolar.

"Fokus saat ini harus pada stabilisasi. Bank Indonesia terus melakukan intervensi di pasar valuta asing dan pasar obligasi guna meredam volatilitas yang berlebihan serta menjaga kepercayaan investor," tulis pernyataan resmi otoritas moneter.

Masyarakat kini diharapkan dapat mengatur strategi keuangan secara lebih cermat, mengingat tekanan ekonomi global diprediksi masih akan berlanjut hingga akhir kuartal tahun ini. (*)

Editor : Ghina Nailal Husna
#harga minyak global #bank indonesia #daya beli masyarakat #inflasi #kurs rupiah