RADAR KUDUS – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan tren pelemahan yang signifikan hingga menembus level psikologis baru di angka Rp17.300.
Angka ini mencerminkan tingginya tekanan eksternal serta ketidakpastian ekonomi global yang kian intensif, menempatkan mata uang Garuda dalam posisi yang rentan.
Kondisi terkini nilai tukar rupiah terpantau bergerak menjauh dari koridor asumsi makro yang telah ditetapkan dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026.
Deviasi yang cukup lebar ini menimbulkan kekhawatiran terkait beban subsidi energi dan pembayaran utang luar negeri yang berpotensi membengkak.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa fenomena ini bukanlah masalah domestik semata, melainkan imbas dari dinamika geopolitik dan kebijakan moneter ketat di berbagai negara maju.
"Kita sedang menyaksikan gejolak global yang luar biasa. Pemerintah terus memantau situasi ini secara saksama dan menyiapkan langkah-langkah antisipasi yang diperlukan.
Fokus kita adalah memonitor dampaknya terhadap sektor riil," ujar Airlangga saat memberikan keterangan kepada media.
Pelemahan rupiah dipicu oleh beberapa faktor kunci, di antaranya:
1. Kebijakan Suku Bunga AS: Kebijakan moneter high-for-longer* yang diadopsi Bank Sentral AS (The Fed) terus menyedot likuiditas dari pasar negara berkembang (emerging markets*).
2. Ketidakpastian Geopolitik: Konflik global yang belum mereda meningkatkan permintaan terhadap aset aman (*safe haven) seperti dolar AS.
3. Fluktuasi Harga Komoditas: Perubahan harga komoditas global yang tidak menentu berdampak pada neraca perdagangan Indonesia.
Baca Juga: 15.349 Jemaah Haji Indonesia Diberangkatkan, Pemerintah Imbau Jaga Kesehatan di Cuaca Panas
Menyikapi situasi ini, Bank Indonesia (BI) tidak tinggal diam. Bank sentral secara aktif melakukan intervensi di pasar valuta asing, baik melalui mekanisme spot maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
Langkah ini krusial dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar agar tidak terjun bebas, sekaligus mempertahankan kepercayaan investor dan pelaku pasar domestik.
Meskipun tekanan global masih membayangi, koordinasi antara kebijakan fiskal pemerintah dan kebijakan moneter Bank Indonesia diharapkan mampu menjadi bantalan yang kuat guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional tetap berada di jalur yang positif. (*)
Editor : Ghina Nailal Husna