Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Strategi Ekonomi Hijau: Puan Maharani Dorong UMKM Gunakan Kemasan Daun di Tengah Lonjakan Harga Plastik

Ghina Nailal Husna • Kamis, 16 April 2026 | 22:54 WIB
Ilustrasi daun pisang
Ilustrasi daun pisang

 

RADAR KUDUS – Kenaikan harga material plastik yang kian tak terkendali di pasar domestik memicu kekhawatiran serius bagi keberlangsungan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Menanggapi fenomena tersebut, Ketua DPR RI Puan Maharani menyerukan agar momentum ini dijadikan sebagai titik balik bagi masyarakat dan pelaku usaha untuk kembali memanfaatkan kearifan lokal melalui kemasan bahan alami yang ramah lingkungan.

Meskipun plastik telah lama menjadi pilihan utama karena kepraktisannya, Puan mengingatkan bahwa penggunaan material ini membawa beban ekologis yang sangat tinggi bagi bumi.

Baca Juga: Akselerasi Ekonomi Desa: Pemerintah Buka 35 Ribu Lowongan Pegawai BUMN untuk KDKMP dan Kampung Nelayan

Saat harga plastik meroket hingga berkali-kali lipat dan pasokannya mulai sulit didapat, para pedagang kecil yang selama ini beroperasi dengan margin keuntungan terbatas kini berada di titik nadir.

"Kenaikan harga plastik ini harus kita jadikan momentum untuk beralih ke ekonomi hijau. Kita perlu mencari solusi yang tidak hanya menyelamatkan kantong pelaku usaha, tetapi juga menyelamatkan lingkungan," ujar Puan di Jakarta.

Puan mendorong agar model pengemasan produk pangan dikembalikan pada cara-cara tradisional yang telah diwariskan oleh para pendahulu.

Penggunaan daun sebagai pembungkus makanan dinilai bukan sekadar alternatif, melainkan sebuah solusi cerdas yang berakar pada kearifan lokal Nusantara.

Beberapa contoh nyata yang masih bertahan hingga kini adalah penggunaan:

Daun Pisang: Sering ditemukan sebagai pembungkus lontong, lemper, hingga nasi liwet.

Daun Jati: Masih lazim digunakan di berbagai daerah, seperti pada sajian nasi gudeg atau mi lethek di Jawa Tengah.

Menariknya, transisi ke kemasan organik tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga kualitas kuliner itu sendiri.

Berbeda dengan plastik yang kedap udara dan berisiko melepaskan mikroplastik saat terkena panas, kemasan daun memiliki karakteristik yang unik.

Puan menjelaskan bahwa untuk jenis makanan tertentu, penggunaan kemasan alami justru jauh lebih efektif. Tekstur dan pori-pori alami pada daun dapat membuat makanan tertentu lebih awet.

Selain itu, aroma khas yang dilepaskan oleh daun jati atau daun pisang saat bersentuhan dengan makanan hangat justru menambah cita rasa dan keharuman yang tidak bisa dihasilkan oleh kemasan sintetis.

Baca Juga: Komdigi Beri Peringatan: Wikipedia Terancam Diblokir

Meskipun transisi ini menantang, Puan optimis bahwa jika sistem distribusi dan dukungan rantai pasok bahan organik dikelola dengan baik, ketergantungan terhadap plastik sekali pakai dapat dikurangi secara drastis.

"Apabila sistemnya mendukung, saya yakin bahan organik bisa menggantikan kemasan plastik sekali pakai. Ini adalah langkah nyata menuju kedaulatan ekonomi yang berbasis pada kelestarian alam," pungkasnya.

Melalui langkah ini, diharapkan UMKM tidak hanya mampu bertahan dari gejolak harga bahan baku, tetapi juga naik kelas dengan citra produk yang lebih higienis, eksklusif, dan berkelanjutan. (*)

Editor : Ghina Nailal Husna
#Harga Plastik Meroket #Kemasan Ramah Lingkungan #Puan Maharani UMKM #Ekonomi Hijau Indonesia #Pemanfaatan Daun Pisang