Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Menilik Ketahanan Fiskal: Menteri Keuangan Purbaya Ungkap Sisa Tabungan Pemerintah di BI Rp120 Triliun

Ghina Nailal Husna • Kamis, 9 April 2026 | 00:30 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Ungkap Sisa Tabungan Pemerintah di BI Rp120 Triliun
Menteri Keuangan Purbaya Ungkap Sisa Tabungan Pemerintah di BI Rp120 Triliun

 

RADAR KUDUS – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan gambaran terbaru mengenai kondisi "celengan" atau tabungan pemerintah yang tersimpan di Bank Indonesia (BI).

Dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI pada Senin (6/4/2026), Purbaya mengungkapkan bahwa posisi Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah saat ini berada di angka yang cukup dinamis di tengah upaya penguatan likuiditas perbankan nasional.

Menteri Keuangan menjelaskan bahwa secara total, akumulasi SAL yang berasal dari sisa anggaran tahun-tahun sebelumnya mencapai Rp420 triliun.

Baca Juga: Krisis Rantai Pasok Global: BUMN Pangan ID FOOD Mulai Kesulitan Pasokan Kemasan Plastik Akibat Eskalasi Konflik Timur Tengah

Namun, pemerintah mengambil langkah strategis dengan memindahkan sebagian besar dana tersebut dari Bank Indonesia ke perbankan milik negara yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).

"Awalnya ada Rp200 triliun penempatan di bank. Kemudian saya tambah lagi Rp100 triliun untuk memperkuat likuiditas.

Sehingga, sisa dana yang masih mengendap di Bank Indonesia saat ini adalah sekitar Rp120 triliun," papar Purbaya di hadapan anggota dewan.

Mobilisasi dana sebesar Rp300 triliun ke perbankan Himbara ini dipandang sebagai langkah proaktif pemerintah untuk mendorong intermediasi perbankan agar dapat lebih agresif dalam menyalurkan kredit ke sektor riil, sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan dana yang sebelumnya "menganggur" di bank sentral.

Dalam kesempatan yang sama, Purbaya juga memberikan kabar baik mengenai performa APBN tahun lalu.

Meskipun target defisit anggaran 2025 dipatok pada angka 2,92% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), hasil proyeksi terbaru menunjukkan angka yang lebih menggembirakan.

Berdasarkan hasil audit Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), defisit anggaran diperkirakan menyusut menjadi sekitar 2,8% PDB. Penurunan defisit ini secara otomatis memberikan ruang fiskal tambahan bagi pemerintah.

 "Penurunan defisit ini memberikan tambahan pada SAL tahun ini. Di satu sisi mungkin terlihat kurang optimal karena kami tidak menghabiskan seluruh pagu anggaran, namun di sisi lain ini menjadi 'bantalan' (buffer) yang sangat bagus.

Anggaran kami aman untuk menghadapi ketidakpastian tahun ini," tambah Purbaya.

Pengelolaan SAL sebesar Rp120 triliun yang tersisa di BI serta penempatan dana di Himbara merupakan bagian dari strategi manajemen kas negara yang hati-hati (prudent).

Baca Juga: Perluas Jaring Pengaman Sosial: Komisi IX DPR Dorong Ojol, Buruh Tani, hingga Pedagang Kaki Lima Masuk Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan

Dengan memiliki cadangan dana yang cukup, pemerintah memiliki fleksibilitas dalam membiayai kebutuhan mendesak tanpa harus bergantung sepenuhnya pada penarikan utang baru di tengah fluktuasi pasar global.

Para analis menilai, posisi SAL yang terjaga ditambah dengan defisit yang lebih rendah dari target awal memberikan sinyal positif bagi investor mengenai kredibilitas pengelolaan fiskal Indonesia.

Pemerintah kini memiliki modal yang cukup untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional, sembari tetap mendorong pertumbuhan melalui penguatan peran bank-bank pelat merah. (*)

Editor : Ghina Nailal Husna
#Saldo Anggaran Lebih (SAL) #Tabungan Pemerintah di BI #Defisit Anggaran 2025 #Likuiditas Bank Himbara #Menteri Keuangan Purbaya