RADAR KUDUS — Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kota Malang, khususnya sentra industri keripik tempe Sanan, kini tengah menghadapi badai ekonomi baru.
Gejolak geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran berdampak langsung pada rantai pasok bahan baku plastik kemasan di pasar lokal.
Kenaikan harga yang signifikan ini memaksa para pengrajin keripik tempe untuk memutar otak demi menjaga kelangsungan produksi di tengah biaya operasional yang kian membengkak.
Kenaikan harga plastik kemasan di kawasan Sanan, Purwantoro, Kota Malang, dilaporkan terjadi secara drastis dalam waktu singkat. Para pelaku usaha mengeluhkan kenaikan harga yang mencapai rentang 30 hingga 40 persen.
Bagi industri keripik tempe, plastik bukan sekadar pembungkus, melainkan komponen vital untuk menjaga kerenyahan, kualitas, dan daya tahan produk agar tetap layak konsumsi dalam jangka waktu lama.
Sakinatun Najwa, salah satu pedagang plastik kemasan di area tersebut, memaparkan rincian kenaikan yang terjadi pada hampir seluruh varian produk plastik.
Menurut pengamatannya, harga plastik jenis biasa yang sebelumnya dibanderol di kisaran Rp31.000 per kilogram, kini telah melonjak tajam menjadi Rp44.000 per kilogram.
Kenaikan yang lebih mencolok terlihat pada plastik kualitas premium yang sering digunakan eksportir atau produsen keripik tempe kelas menengah atas.
"Plastik merek Mapan yang sebelumnya dijual Rp35.000 per kilogram, sekarang melonjak hingga Rp53.000 per kilogram," ungkap Sakinatun.
Kenaikan sebesar Rp18.000 per kilogram ini merupakan pukulan telak bagi margin keuntungan para pengusaha kecil.
Fenomena ini bukanlah tanpa alasan. Plastik merupakan salah satu produk turunan minyak bumi yang sangat sensitif terhadap fluktuasi harga energi global.
Memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran pasar akan terganggunya pasokan minyak dunia, yang secara otomatis mendongkrak harga minyak mentah di pasar internasional.
Ketika harga minyak bumi naik, biaya produksi polimer—bahan baku utama pembuatan plastik—ikut terkerek naik.
Kondisi ini menciptakan efek domino yang sampai ke tangan pengecer dan akhirnya membebani pelaku UMKM di daerah.
Para pedagang di Malang hanya bisa pasrah menerima kiriman barang dengan harga baru dari distributor pusat, yang kemudian terpaksa dibebankan kepada konsumen akhir.
Bagi para pengrajin keripik tempe di Sanan, kenaikan harga plastik ini menciptakan dilema yang pelik.
Di satu sisi, jika mereka menaikkan harga jual produk keripik tempe, mereka khawatir daya beli masyarakat akan menurun atau pelanggan berpaling ke produk lain yang lebih murah.
Baca Juga: Kawal Arus Balik Lebaran 2026: Jasaraharja Putera Perketat Pengawasan di Lintas Gilimanuk-Ketapang
Namun di sisi lain, mempertahankan harga lama di tengah biaya kemasan yang mencekik akan menggerus keuntungan, bahkan berisiko menyebabkan kerugian operasional.
Beberapa produsen mulai mempertimbangkan langkah efisiensi, seperti mencari alternatif merek plastik yang lebih terjangkau namun tetap memenuhi standar keamanan pangan, atau mengurangi margin laba demi menjaga loyalitas pelanggan.
Namun, jika situasi global tidak kunjung mereda dan harga minyak dunia tetap tinggi, para pelaku UMKM ini berharap adanya intervensi dari pemerintah daerah, baik berupa subsidi atau bantuan akses bahan baku, agar ikon kuliner khas Malang ini tetap bisa bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi global. (*)
Editor : Ghina Nailal Husna