Tolchenov menuturkan, pemerintah Rusia siap menjalin kerja sama minyak dan gas dengan negara sahabat yang membutuhkan.
Namun hingga kini, ia mengaku belum menerima permintaan resmi dari Pertamina maupun pemerintah Indonesia.
Meski demikian, Kedutaan Besar Rusia membuka pintu diskusi apabila Indonesia berminat menjajaki pembelian minyak dari Moskow.
Ia menegaskan Rusia bersedia memasok minyak tidak hanya kepada negara sahabat, tetapi juga kepada negara yang sebelumnya memiliki hubungan kurang harmonis, termasuk sejumlah negara Eropa Barat.
Menurutnya, selama ada kebutuhan serta kesediaan menjalin kontrak jangka panjang, Rusia siap menjadi pemasok energi.
Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan Indonesia membuka peluang impor minyak dari berbagai negara, termasuk Rusia.
Kebijakan ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi sumber energi di tengah ketidakpastian geopolitik Timur Tengah.
Menurutnya, pemerintah tidak membatasi negara asal impor minyak.
Prioritas utama adalah ketersediaan pasokan dan harga yang kompetitif.
Pernyataan tersebut disampaikan di Kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral di Jakarta.
Bahlil juga menyebut peluang impor dari Rusia kembali terbuka setelah Amerika Serikat memberi kelonggaran akses pembelian minyak yang sebelumnya dikenai sanksi.
Ketegangan geopolitik meningkat setelah serangan militer oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran.
Iran kemudian membalas dengan serangan ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Eskalasi konflik di sekitar Iran memicu blokade de facto di Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dan gas dari kawasan Teluk Persia ke pasar global.
Kondisi tersebut berdampak pada penurunan ekspor dan produksi minyak, sehingga mendorong kenaikan harga energi di banyak negara.