Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Kisah Surya: Menabung Receh Demi Anak, Berakhir Ditangkap Polisi

Ghina Nailal Husna • Jumat, 6 Maret 2026 | 13:09 WIB

Ilustrasi uang receh
Ilustrasi uang receh

RADAR KUDUS – Di tengah kerasnya kehidupan kota besar, kisah seorang pemulung bernama Surya menjadi perbincangan publik.

Pria berusia 45 tahun yang tinggal di kawasan pinggiran Jakarta itu harus menghadapi kenyataan pahit setelah upayanya menabung uang receh selama bertahun-tahun justru berujung masalah dengan aparat.

Peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan di masyarakat: jika orang kecil menabung koin saja bisa bermasalah, lalu ke mana lagi mereka harus menyimpan hasil jerih payahnya?

Surya dikenal oleh warga sekitar sebagai sosok pekerja keras. Sejak istrinya meninggal beberapa tahun lalu, ia harus menjalani hidup sendirian sambil membesarkan putri semata wayangnya, Rina.

Tanpa pendidikan tinggi dan keterampilan khusus, Surya memilih bekerja sebagai pemulung untuk menyambung hidup.

Setiap hari ia menyusuri jalanan dan tempat pembuangan sampah, mengumpulkan botol plastik, kardus, serta barang bekas yang masih memiliki nilai jual.

Hasilnya tidak seberapa, bahkan sering kali hanya cukup untuk membeli makanan sederhana.

Namun di balik kehidupan yang serba kekurangan itu, Surya menyimpan satu mimpi sederhana: ia ingin melihat Rina tetap bersekolah dan memiliki masa depan yang lebih baik daripada dirinya.

Untuk mewujudkan impian tersebut, Surya memulai kebiasaan kecil yang ia lakukan dengan penuh disiplin.

Setiap kali menerima uang kembalian dalam bentuk koin, baik Rp500 maupun Rp1.000, ia tidak pernah membelanjakannya. Koin-koin itu disimpan satu per satu.

Ia tidak memiliki rekening bank. Karena itu, Surya menggunakan galon bekas air mineral sebagai tempat menabung.

Galon tersebut perlahan berubah menjadi “bank pribadi” yang menyimpan harapannya untuk masa depan sang anak.

Hari demi hari berlalu. Setiap malam, suara koin yang jatuh ke dalam galon menjadi semacam ritual kecil sebelum ia beristirahat di gubuk sederhana yang menjadi tempat tinggalnya.

Bagi Surya, bunyi logam kecil itu bukan sekadar uang, melainkan simbol pengorbanan.

Ia sering menahan lapar agar bisa menyimpan lebih banyak koin. Ia juga menahan keinginan membeli rokok atau hal-hal kecil lain yang biasanya menjadi hiburan orang dewasa.

Semua pengorbanan itu dilakukan demi satu tujuan, yaitu masa depan Rina.

Kebiasaan sederhana itu terus ia lakukan tanpa henti. Bukan sehari, bukan pula sebulan. Surya menabung selama bertahun-tahun.

Awalnya hanya satu galon yang terisi. Kemudian dua, lalu tiga. Waktu berjalan, dan tanpa ia sadari jumlahnya terus bertambah hingga mencapai sepuluh galon penuh berisi koin.

Jika dihitung secara kasar, nilai seluruh koin tersebut diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah—jumlah yang sangat besar bagi seseorang yang sehari-hari hidup dari hasil memulung.

Bagi Surya, uang itu rencananya akan digunakan untuk biaya sekolah Rina dan mungkin membuka usaha kecil agar hidup mereka bisa sedikit lebih layak.

Suatu pagi, dengan penuh harapan, Surya memutuskan membawa galon-galon tersebut ke sebuah bank.

Ia berharap uang koin yang selama ini disimpannya dapat ditukar menjadi uang kertas atau disimpan secara resmi.

Karena tidak memiliki kendaraan, Surya membawa galon-galon itu dengan cara sederhana. Ia juga menuliskan pesan di selembar kardus yang digantungkan di dekatnya.

Tulisan itu berbunyi: “Jual galon isi koin murah, butuh modal hidup.”

Beberapa orang yang lewat mulai memperhatikan. Sebagian mendekat karena penasaran, sebagian lagi merasa iba melihat usaha keras seorang ayah yang menabung sedikit demi sedikit dari hasil memulung.

Pada saat itu, harapan Surya terasa begitu dekat dengan kenyataan.

Namun situasi tiba-tiba berubah. Petugas keamanan setempat datang menghampiri dan menanyakan asal-usul koin yang dibawa Surya dalam jumlah besar.

Tak lama kemudian, aparat kepolisian dipanggil untuk memeriksa situasi tersebut. Surya yang tidak terbiasa berhadapan dengan aparat terlihat gugup. Tubuhnya yang kurus tampak gemetar saat mencoba menjelaskan.

Dengan suara pelan ia berkata, “Pak, saya cuma nabung buat anak saya.”

Meski demikian, pemeriksaan tetap dilakukan. Galon-galon berisi koin tersebut akhirnya disita untuk diperiksa lebih lanjut, sementara Surya dibawa untuk dimintai keterangan.

Bagi Surya, peristiwa itu terasa seperti mimpi buruk. Usaha yang ia bangun selama hampir satu dekade seolah runtuh hanya dalam satu pagi.

Di balik jeruji, ia hanya bisa menahan kesedihan ketika Rina datang menjenguk. Gadis kecil itu menangis sambil memeluk ayahnya, tidak mengerti mengapa usaha keras sang ayah justru berakhir dengan masalah.

Mimpi yang selama ini mereka jaga bersama seakan hilang begitu saja.

Kisah Surya memunculkan diskusi luas tentang kehidupan masyarakat kecil di kota besar. Banyak orang menilai bahwa peristiwa tersebut menggambarkan betapa rapuhnya kondisi mereka yang hidup di sektor informal.

Bagi sebagian orang, menabung di bank mungkin hal yang mudah. Namun bagi mereka yang tidak memiliki akses ke sistem keuangan formal, cara menabung sering kali sangat sederhana—bahkan hanya menggunakan wadah bekas di rumah.

Karena itu, kisah Surya menjadi pengingat bahwa di balik angka-angka ekonomi dan kebijakan keuangan, ada banyak individu yang berjuang dengan cara mereka sendiri untuk membangun masa depan.

Kadang, yang paling menyakitkan bukanlah kehilangan uang yang telah dikumpulkan. Yang lebih menyakitkan adalah ketika niat baik dan kerja keras orang kecil justru berujung pada kesalahpahaman dan masalah yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. (*)

Editor : Zainal Abidin RK
#pemulung #uang receh